oleh

Penyandang Disabilitas Masih Didiskriminasi, Yuktiasih Tulis Surat Terbuka Untuk Nadiem Makarim

HeadLine.co.id, (Semarang) – Kasus perundungan terhadap seorang siswi SMP Muhammadiyah Butuh yang berkebutuhan khusus oleh ketiga temannya menemui titik terang. Polres Purworejo sudah menangkap tiga tersangka, motif pelaku ialah lantaran kesal korban tidak memberikan sejumlah uang kepada tiga pelaku ketika diminta.

Menurut informasi, korban perundungan tersebut merupakan seorang anak berkebutuhan khusus. Rencanannya, Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo menyarankan siswi tersebut pindah ke Sekolah Luar Biasa (SLB).

Ganjar juga berjanji akan menanggung semua biaya siswi korban perundungan di Purworejo itu hingga lulus.

“Rayuan kita kepada si anak ini, sampai tadi malam Insyaallah berhasil. Saya ingin, karena dia berkebutuhan khusus maka sekolahnya di tempat yang bisa memfasilitasi itu,” tutur Ganjar Pranowo, Jumat (14/2) lalu seperti dilansir dari Kumparan.

Baca Juga: Siswi SMP di Purworejo Menjadi Korban Perundungan, Ganjar Pranowo: Sudah Ditangani

Atas pernyataan tersebut, Executive Director of seJIWA Foundation Yuktiasih Proborini menyayangkan pernyataan tersebut. Hal itu ia tuliskan dalam akun Instagram miliknya yakni @yuktiasih_proborini pada tanggal (15/02).

Dalam unggahannya, Yuktiasih menuliskan bahwa seorang Gubernur pun masih melekati dirinya dengan stigma.

“Bahwa penyandang disabilitas dikembalikan ke SLB.
ini menyedihkan, Mas @ganjar_pranowo.” tulisnya sambil mencolek akun instagram milik Gubernur Jateng tersebut.

Ia juga mengatakan, “Taukah njenengan, itu berarti balik ke semangat yang mematikan semangat. Lalu bagaimana dengan program sekolah Inklusi?” tuturnya

Menurutnya, pencanangan sekolah Inklusi hanyalah lips service saja.

“Mari kita bicara, Pak. Kita bedah semuanya. Supaya paradigma berpikir seorang pemimpin,
lepas dari stigma dan diskriminasi. Saya siap setiap saat untuk diskusi.” tandas Yuktiasih.

Bac Juga: Pelaku Perundungan Siswi di Purworejo Resmi Menjadi Tersangka

Tidak sampai disitu, Yuktiasih Proborini juga menulis surat terbuka yang dimuat di akun media sosial facebook miliknya. Surat terbuka tersebut ditujukan untuk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim.

Berikut isi Surat Terbukanya:

SURAT TERBUKA UNTUK MENTERI PENDIDIKAN REPUBLIK INDONESIA
(dari Yuktiasih Proborini)

Mas Menteri yang budiman,
sungguh saya merasa sangat prihatin dengan pernyataan seorang Gubernur yang akan memindahkan seorang siswa korban bully ke SLB karena disinyalir siswa tersebut adalah penyandang disabilitas.

Meski kemudian setelah dilakukan pertemuan, Gubernur tersebut menyatakan beberapa hal untuk mengoreksi pernyataannya.

Tetapi buat saya yang penting adalah:
1. Perlu edukasi pada masyarakat luas tentang disabilitas sehingga tidak ada lagi diskriminasi terhadap penyandang disabilitas. Bahwa hak kami sama dalam semua bidang kehidupan.

2. Pendidikan Inklusi adalah sangat penting.
Mengapa? Untuk membuka wawasan berpikir masyarakat dimulai dari sekolah, sejak PAUD hingga perguruan tinggi.
Mengapa? Mereka adalah calon pemimpin bangsa. Harus paham dan mengerti, bahwa di dunia ini ada teman-teman yang secara fisik, mental dan intelektual berbeda dengan mereka. Dan semua itu harus dihargai dan dimanusiakan.

3. Pendidikan Inklusi, tidak perlu menunggu kesiapan. Mengapa? Kapan akan siap?
Yang utama adalah direncanakan.
Dan dilaksanakan. Lalu kita semua akan learning by doing, melakukan perbaikan-perbaikan. Jika ada kekurangan maka ditambahi. Jika ada kesalahan maka dibenahi.
Tetapi yang utama adalah: DIJALANKAN.

4. Mohon Mas Menteri menelaah kembali kurikulum dan segala hal terkait dengan Sekolah Luar Biasa.
Apakah masih layak untuk masa sekarang?
Karena SLB mengacu pada Undang-Undang masa lampau, yang based-nya bukan empowerment.
Undang-Undang terbaru kita tentang Penyandang Disabilitas adalah UU nomor 8/2016. Semangat yang dituangkan adalah semangat kesetaraan dan pemberdayaan.

Mas Menteri yang baik,
saya sangat berharap panjenengan mulai berpikir tentang kami, penyandang disabilitas dan masa depan anak-anak bangsa ini yang menyandang disabilitas.

Karena pendidikan adalah hal utama yang akan menopang kehidupan mereka di masa mendatang.

Terimakasih sudah membaca surat saya ini.

Semoga cita-cita kita menjadikan Indonesia lebih baik bisa segera terlaksana dengan mulai mereformasi sistem pendidikan di Indonesia.

Salam Indonesia Inklusi.
Salam Indonesia Raya.

(Mohon dibantu menyampaikan kepada Mas Menteri Pendidikan, ya teman-teman)

Saat dihubungi melalui whatsapp oleh tim Headline.co.id. Yuktiasih berharap, ada reformasi sistem pendidikan Inklusi dan juga perbaikan sistem di SLB.

“Ini akan menjadi pekerjaan berat dan butuh diskusi intens dengan teman-teman pejuang advokasi pendidikan disabilitas” tandasnya

Sebagai Informasi, Yuktiasih Proborini juga seorang penyandang disabilitas yang menyelesaikan strata 1 nya di Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB). Ia juga pernah mengeyam pendidikan Strata 2 di Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Komentar

News Feed