Headline.co.id, Batang ~ Penelitian mengenai sejarah Kadipaten Batang pada era Mataram Islam semakin menemukan titik terang. Sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM), Sri Margana, bersama timnya, melakukan penelusuran ke sejumlah lokasi bersejarah untuk mengumpulkan bukti fisik yang otentik. Salah satu langkah yang diambil adalah mengunjungi kediaman R. Widi Permana, keturunan dari Adipati Batang pertama, Kanjeng Pangeran Soerodiningrat, yang dikenal sebagai Mbah Kyai Sedo Rawuh, di Jalan Garuda Dracik Kampus Kabupaten Batang, pada Minggu (31/5/2026).
Sri Margana menjelaskan bahwa R. Widi Permana masih merupakan bagian dari Trah Adipati Batang, Kanjeng Pangeran Soerodiningrat, yang memerintah pada masa Pakoeboewono I di Keraton Mataram Islam. Dalam kunjungan tersebut, ditemukan foto-foto keluarga dan arsip silsilah yang terjaga dengan baik. Meskipun beberapa arsip foto tidak mencantumkan tahun, Sri Margana dan tim tetap mendokumentasikannya untuk membantu menggambarkan suasana pada masa tersebut, yang diperkirakan sekitar tahun 1920-an.
Sri Margana mengapresiasi upaya keluarga R. Widi Permana dalam menjaga arsip Trah Adipati Batang. Data-data ini diharapkan dapat membantu tim peneliti dalam menggambarkan kehidupan para adipati atau bupati beserta keluarganya. “Data dan foto ini akan kami sandingkan dan bandingkan dengan data lainnya. Bisa jadi kami akan kembali berkunjung untuk menggali data lebih spesifik, agar penelitian ini makin sempurna dan menemukan titik terang tentang sejarah Kabupaten Batang,” tegasnya.
R. Widi Permana, yang akrab disapa Pak Widi, menunjukkan beberapa dokumen foto leluhurnya kepada tim sebagai bentuk dukungan untuk memastikan tahun kelahiran Kabupaten Batang. Berdasarkan silsilah, R. Abdul Razak, yang menjabat sebagai Wedana Doro, masih termasuk dalam Trah Mbah Pangeran Sedo Rawuh. “Kata eyang buyut saya R. Abdul Razak ke mendiang ibu, Batang itu lahirnya bukan tahun 1966, makanya sebisa kami membantu menemukan kepastian tahun lahir Kabupaten Batang. Jadi salah kalau peringatan ulang tahun Batang tahun ’66,” terangnya.
Menanggapi kunjungan tersebut, Ketua DPC Perkumpulan Masyarakat Batang, Sukirman, berharap penelitian ini menghasilkan sesuatu yang nyata dan dapat disaksikan oleh generasi muda. “Hasilnya nanti akan dibuat buku sejarah yang jadi acuan pembelajaran lewat literasi dari Belanda maupun Arsip Nasional,” ungkapnya. Ia menegaskan bahwa peringatan 8 April 1966 bukanlah hari lahir, melainkan Hari Kembalinya Kabupaten Batang. “Penelusuran dan penelitian sejarah ini untuk menggali berdirinya Kadipaten Batang yang sesungguhnya, agar generasi muda mempelajari karakter masyarakat lokal Batang yang sebenarnya dari berbagai aspek,” tandasnya. (MC Batang, Jateng/Heri/Jumadi)



















