Headline.co.id, Denpasar ~ Penguatan Pendidikan Agama Islam (PAI) di Perguruan Tinggi Umum (PTU) didorong memiliki peta jalan yang memuat persoalan prioritas dan langkah strategis. Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama, Ali Ramdhani, menyampaikan hal itu dalam Simposium Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum di Denpasar, Bali, Rabu (4/11/2026). Peta jalan tersebut diperlukan untuk memperbaiki kebijakan, regulasi, kurikulum, tata kelola kelembagaan, serta kualitas dosen PAI. Gagasan akademisi dan praktisi yang dihimpun dalam simposium akan menjadi bahan penyusunan rekomendasi kebijakan.
Ali berharap simposium PAI PTU tidak berhenti sebagai forum diskusi, tetapi menghasilkan rumusan yang dapat menjadi acuan pengembangan pendidikan agama Islam di lingkungan perguruan tinggi umum.
“Saya berharap pertemuan ini menghasilkan sebuah blueprint atau peta jalan,” ujar Ali Ramdhani dalam paparannya di Denpasar, Bali, Rabu (4/11/2026).
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Peta Jalan PAI PTU Dibutuhkan untuk Petakan Persoalan
Menurut Ali, penyusunan peta jalan penting untuk mengidentifikasi berbagai persoalan mendasar dalam penyelenggaraan PAI PTU. Persoalan tersebut meliputi aspek kebijakan, regulasi, kurikulum, tata kelola kelembagaan, hingga ketersediaan dan kompetensi dosen.
Ia menyoroti posisi mata kuliah PAI yang di sejumlah perguruan tinggi belum mendapatkan perhatian sebagaimana mata kuliah lainnya. Kondisi itu dinilai menjadi salah satu tantangan yang perlu dibenahi melalui penguatan kebijakan dan komitmen perguruan tinggi.
Penguatan PAI, kata Ali, tidak cukup hanya dilakukan melalui pembenahan materi pembelajaran. Perguruan tinggi juga perlu memperhatikan kualitas pengajaran, penguasaan materi, metodologi, serta kemampuan dosen dalam menyampaikan nilai-nilai keagamaan secara relevan dengan kehidupan mahasiswa.
Peningkatan kompetensi dosen PAI juga menjadi bagian penting dalam agenda pembenahan. Ali menyinggung perlunya penguatan literasi keagamaan dan kemampuan baca Al-Qur’an bagi para dosen.
Penguatan Ekosistem Keagamaan di Kampus
Selain kualitas sumber daya manusia, Ali menekankan perlunya membangun ekosistem kampus yang mendukung kehidupan keagamaan mahasiswa. Ekosistem tersebut mencakup penguatan moderasi beragama serta pelibatan organisasi dan komunitas mahasiswa.
Upaya itu diarahkan untuk menciptakan lingkungan perguruan tinggi yang religius, inklusif, dan terbuka terhadap keberagaman. Menurut Ali, program dan kegiatan keagamaan perlu diikuti ekosistem yang mampu menghubungkan nilai-nilai agama dengan kehidupan akademik dan sosial mahasiswa.
Dengan pendekatan tersebut, pendidikan agama tidak hanya berlangsung melalui perkuliahan. Nilai-nilai yang dipelajari juga diharapkan tumbuh dalam budaya dan praktik kehidupan kampus.
Penguatan ekosistem menjadi penting karena penyelenggaraan PAI PTU tidak hanya berkaitan dengan materi ajar. Aspek kelembagaan, keterlibatan mahasiswa, kualitas pengajaran, dan suasana kehidupan kampus juga menjadi bagian dari pengembangan pendidikan agama Islam.
Gagasan Akademisi Disiapkan Menjadi Rekomendasi Kebijakan
Ali menyampaikan, simposium menjadi ruang untuk menghimpun pemikiran akademisi dan praktisi PAI dari berbagai perguruan tinggi. Gagasan peserta, termasuk hasil kajian dan artikel ilmiah, diharapkan dapat digunakan dalam penyusunan rekomendasi kebijakan.
Ia menilai karya-karya akademik yang dihimpun melalui forum tersebut berpotensi memberikan perspektif baru dalam merumuskan arah pengembangan PAI di PTU.
“Ini sebuah karya orisinal yang tentunya menjadi masukan bagi kami, yang kemudian secara kebijakan akan kami ambil,” tegasnya.
Masukan dari akademisi dan praktisi itu diharapkan tidak berhenti sebagai dokumen hasil simposium. Ali berharap proses selanjutnya dilakukan melalui kerja bersama dan pembentukan tim yang bertugas merumuskan gagasan serta rekomendasi pengembangan PAI.
Tim tersebut diharapkan mampu mengolah berbagai masukan menjadi agenda perubahan yang dapat diterapkan secara konkret. Dengan demikian, hasil simposium dapat menjadi bagian dari proses penyusunan kebijakan yang lebih terarah.
Pengembangan PAI PTU Memerlukan Dukungan Berkelanjutan
Menurut Ali, penguatan PAI PTU memerlukan kesinambungan rumusan kebijakan, dukungan anggaran, peningkatan kapasitas dosen, dan pembenahan tata kelola. Keempat aspek tersebut perlu berjalan bersama agar pengembangan PAI tidak hanya bertumpu pada satu sisi.
Karena itu, peta jalan yang dihasilkan perlu memuat persoalan prioritas sekaligus langkah strategis untuk mengatasinya. Peta jalan tersebut juga diharapkan menjadi acuan dalam memperkuat penyelenggaraan PAI di perguruan tinggi umum.
Simposium PAI PTU menjadi momentum untuk menyatukan berbagai pemikiran mengenai arah pengembangan pendidikan agama Islam. Melalui penghimpunan gagasan akademisi dan praktisi, forum tersebut diarahkan untuk menghasilkan rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti dalam kebijakan dan pengelolaan PAI di lingkungan perguruan tinggi umum.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.















