Headline.co.id ~ Petani di Kampung Paya Meta, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, kembali memanen padi setelah sawah mereka dipulihkan melalui program optimalisasi lahan pascabencana. Panen raya tersebut berlangsung pada Kamis (29/10/2026) dan dihadiri Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, Kementerian Pertanian, serta Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera. Pemulihan dilakukan untuk mengembalikan kegiatan pertanian dan sumber penghasilan masyarakat yang terdampak banjir pada akhir 2025. Dukungan tersebut menjangkau sembilan kelompok tani dengan total lahan terverifikasi sekitar 155 hektare.
Kegiatan panen raya menjadi penanda bahwa produksi pertanian di sebagian lahan terdampak mulai berjalan kembali. Dari lahan yang telah dipulihkan, panen pada kunjungan tersebut mencakup sekitar 21 hektare.
“Kegiatan ini merupakan wujud nyata upaya rehabilitasi terhadap lahan persawahan yang sempat terdampak bencana alam pada akhir tahun lalu,” kata Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi melalui keterangan resmi, Senin (2/11/2026).
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Pemulihan sawah Aceh Tamiang berlanjut
Armia mengatakan sekitar 6.000 hektare dari total 8.000 hektare sawah di Aceh Tamiang mengalami kerusakan ringan dan sedang akibat bencana. Karena itu, pemerintah daerah berharap dukungan pemulihan pertanian terus dilanjutkan.
Dukungan yang dibutuhkan mencakup penyediaan mesin pemanen padi atau combine harvester serta perbaikan jalan menuju persawahan. Infrastruktur tersebut dinilai menjadi bagian penting untuk menjaga kelancaran kegiatan usaha tani setelah lahan kembali dapat digarap.
Kepala Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agus Susanto menjelaskan, program optimalisasi lahan memungkinkan petani kembali mengolah sawah yang sebelumnya mengalami kerusakan ringan.
Menurut Agus, pekerjaan pemulihan lahan perlu diikuti pendampingan pengolahan tanah dan penanaman agar rehabilitasi segera memberikan manfaat bagi petani.
“Alhamdulillah, 155 hektare lahan pertanian yang dulunya rusak ringan sudah dikerjakan oplahnya, sehingga petani bisa olah lahan dan bisa panen,” kata Agus.
Berdasarkan laporan peninjauan lapangan, kelompok tani di Paya Meta telah melakukan penanaman dua kali setelah bencana. Panen yang berlangsung menjadi bagian dari proses pemulihan produksi di wilayah tersebut.
Rehabilitasi sawah mencapai 2.673 hektare
Dalam rapat koordinasi bersama Satgas PRR, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang melaporkan rehabilitasi sawah seluas 2.673 hektare. Selain itu, sekitar 1.500 hektare lahan lainnya masih berada dalam tahap persiapan kontrak.
Penanganan lahan dilakukan berdasarkan tingkat kerusakan. Lahan dengan kerusakan ringan ditangani melalui optimalisasi lahan, sedangkan lahan dengan kerusakan sedang dan berat memerlukan rehabilitasi.
Program tersebut juga disertai perbaikan irigasi dan dukungan sarana pertanian. Langkah ini diarahkan untuk mengembalikan produktivitas sawah serta memastikan kegiatan tanam dan panen dapat berlangsung kembali di lahan terdampak bencana.
Wakil Kepala Perencanaan, Pengendalian, Analisis, dan Evaluasi Posko Nasional Satgas PRR, Imran, mengapresiasi kerja Kementerian Pertanian, pemerintah daerah, dan kelompok tani dalam memulihkan produktivitas sawah di Aceh Tamiang.
Ia berharap panen yang mulai berlangsung dapat mendorong perluasan kegiatan pertanian pada lahan yang telah ditangani.
“Kita berharap, dengan adanya panen raya ini akan lebih memotivasi para petani dan kelompok tani untuk bekerja sehingga hasil panen berikutnya itu bisa lebih optimal,” kata Imran.
Irigasi dan tanggul menjadi perhatian
Untuk menjaga keberlanjutan usaha tani, hasil monitoring dan evaluasi merekomendasikan tindak lanjut terhadap kebutuhan irigasi, jalan usaha tani, serta alat pertanian.
Kebutuhan tersebut menjadi perhatian karena pemulihan lahan tidak hanya bergantung pada kondisi sawah, tetapi juga pada akses dan sarana pendukung kegiatan pertanian. Penyediaan alat panen, perbaikan jalan menuju persawahan, dan dukungan irigasi diharapkan dapat menunjang kegiatan petani setelah lahan kembali produktif.
Penanganan tanggul Marlempang juga masuk dalam agenda pemulihan. Kerusakan tanggul tersebut turut memutus akses usaha tani serta berdampak pada sawah dan perkebunan.
BWS Sumatera I merencanakan perlindungan darurat tanggul menggunakan geotekstil dan geobag. Sementara itu, penanganan permanen dijadwalkan mulai November 2026.
Pemulihan sawah di Paya Meta menjadi salah satu hasil awal penanganan pascabencana di Aceh Tamiang. Produksi yang kembali berjalan diharapkan dapat diikuti pemulihan lahan lainnya sesuai tingkat kerusakan dan dukungan sarana pertanian yang diperlukan.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.



















