Headline.co.id ~ Indonesia mengurangi pasokan gas bumi melalui pipa ke Singapura sebesar 31 BBTUD (miliar Unit Termal Inggris per hari) sejak 24 Oktober 2026. Kebijakan tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan energi domestik, termasuk pasokan bagi pembangkit listrik dan industri. Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah, mengapresiasi langkah itu karena dinilai menempatkan kepentingan nasional di atas kepentingan bisnis dan perdagangan internasional.
Dedi menyampaikan pandangan tersebut melalui keterangan resmi pada Jumat (30/10/2026). Menurut dia, pengurangan ekspor gas ke Singapura menunjukkan keberpihakan pemerintah terhadap kedaulatan energi nasional.
Pengurangan Ekspor Gas untuk Kebutuhan Dalam Negeri
Dedi menilai pemerintah patut diapresiasi karena berani mengambil kebijakan yang mengutamakan kebutuhan energi dalam negeri. Ia menyebut langkah tersebut tidak hanya berkaitan dengan aktivitas perdagangan, tetapi juga dengan penentuan prioritas dalam pengelolaan sumber daya alam.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Respons pemerintah dengan memotong sebagian ekspor gas ke Singapura merupakan langkah yang tepat dan tidak melanggar ketentuan hukum maupun kontrak yang berlaku. Pemerintah justru pantas diapresiasi karena berani menunjukkan sikap tegas di hadapan negara lain demi kebutuhan dan kepentingan dalam negeri,” ujar Dedi.
Menurut Dedi, keputusan mengurangi pasokan gas ke Singapura memperlihatkan keberanian pemerintah dalam menempatkan kepentingan domestik sebagai prioritas. Pasokan yang dikurangi tersebut diarahkan untuk mendukung kebutuhan energi nasional, termasuk pembangkit listrik dan sektor industri.
Ia menilai kebijakan itu menjadi gambaran bahwa pengelolaan sumber daya energi tidak semata-mata didasarkan pada kepentingan bisnis atau hubungan perdagangan dengan negara lain.
Dedi Soroti Peran Bahlil Lahadalia
Dalam keterangannya, Dedi juga menyoroti peran Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. Ia menilai sikap Bahlil sejalan dengan arah kebijakan Presiden RI Prabowo Subianto, khususnya dalam hal keberpihakan terhadap kepentingan nasional.
“Bahlil menunjukkan sikap yang jelas, yakni mendahulukan kedaulatan negara dibandingkan kepentingan bisnis atau investasi semata. Saya melihat Bahlil sebagai satu-satunya menteri saat ini yang paling memahami apa yang diinginkan Presiden dalam konteks keberpihakan terhadap kepentingan nasional,” ujarnya.
Dedi mengatakan sikap yang mendahulukan kepentingan nasional diperlukan dalam hubungan internasional. Menurut dia, posisi Indonesia sebagai negara dengan sumber daya alam yang besar harus disertai keberanian untuk memperjuangkan kepentingannya sendiri.
Dinilai Kirim Pesan kepada Dunia Internasional
Dedi menilai ketegasan pemerintah dalam mengelola sumber daya energi dapat menjadi pesan politik bagi dunia internasional. Pesan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki prinsip dalam menjalankan hubungan ekonomi dengan negara lain.
“Gerakan semacam itu diperlukan agar dunia melihat bahwa Indonesia memiliki nyali dan layak diperhitungkan. Kita tidak boleh selalu menempatkan kepentingan perdagangan di atas kedaulatan negara,” katanya.
Ia juga menyebut kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi cara dunia melihat posisi Indonesia dalam hubungan ekonomi internasional. Menurut Dedi, negara lain dapat mempertimbangkan kepentingannya secara lebih cermat ketika mengambil langkah yang berpotensi merugikan Indonesia.
“Dalam situasi seperti sekarang, bukan tidak mungkin dunia global mulai berpikir berkali-kali jika hendak mengambil langkah yang berpotensi merugikan Indonesia. Prabowo dan Bahlil bisa menjadi simbol keberanian baru Indonesia,” katanya.
Pengurangan pasokan gas bumi ke Singapura sebesar 31 BBTUD dilakukan melalui pipa sejak 24 Oktober 2026. Kebijakan tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan energi domestik, terutama bagi pembangkit listrik dan industri.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.
















