Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Agama menggelar Program Amil Professional Certification Tahun 2026 untuk memperkuat kompetensi amil dan mendorong tata kelola zakat yang profesional, akuntabel, serta berdampak bagi kesejahteraan umat. Program sertifikasi amil tersebut dibuka secara daring pada Selasa (27/10/2026) dan diikuti 110 peserta. Para peserta berasal dari UIN Raden Mas Said Surakarta dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Sebanyak 50 peserta mengikuti program di UIN Raden Mas Said Surakarta, sedangkan 60 peserta lainnya berada di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sertifikasi amil digelar karena amil memiliki peran penting dalam penghimpunan, pengelolaan, penyaluran, hingga pelaporan zakat. Penguatan kompetensi dilakukan melalui pelatihan terintegrasi yang dilanjutkan dengan uji kompetensi resmi.
Program ini merupakan hasil kolaborasi sejumlah unit di lingkungan Kemenag. Pihak yang terlibat terdiri atas Pusat Pembiayan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Puspenma), Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, Pusbangkom SDM PK, UIN Surakarta, UIN Yogyakarta, serta Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Badan Litbang dan Diklat Kemenag.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Sertifikasi amil menjawab tantangan tata kelola zakat
Kepala Puspenma Ruchman Basori menyampaikan bahwa sinergi antarunit menjadi salah satu kunci peningkatan kualitas sumber daya manusia keagamaan. Melalui skema yang terintegrasi, peserta tidak hanya memperoleh penguatan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga langsung mengikuti uji kompetensi resmi.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Prof. Abu Rokhmad menekankan pentingnya standardisasi kompetensi bagi amil. Menurut dia, amil memegang peran krusial dalam seluruh proses pengelolaan zakat, mulai dari penghimpunan hingga pelaporan.
Kebutuhan terhadap SDM yang kompeten juga berkaitan dengan capaian penghimpunan zakat terkonsolidasi secara nasional pada 2025 yang mencapai Rp44,8 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp11–12 triliun tercatat secara on balance sheet.
“Amil akan menentukan kinerja lembaga-lembaga amil zakat atau lembaga filantropi Islam yang lain,” tegas Abu Rokhmad.
Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta Prof. Toto Suharto turut mengapresiasi kolaborasi dalam program tersebut. Ia meminta seluruh peserta mengikuti materi dengan sungguh-sungguh agar mampu meraih predikat kompeten dalam uji sertifikasi.
Tiga pilar profesionalisme amil
Saat membuka kegiatan, Kepala BMBPSDM Kemenag Prof. Muhammad Ali Ramdhani mengatakan zakat merupakan instrumen keadilan sosial. Menurut dia, keberhasilan zakat tidak hanya diukur dari jumlah yang dihimpun atau disalurkan, tetapi juga dari seberapa besar manfaatnya dirasakan oleh mustahik untuk mentransformasi kehidupan mereka.
Hal itu, kata Ali Ramdhani, sejalan dengan visi Kemenag Berdampak. Ia menegaskan bahwa amil tidak boleh dipandang hanya sebagai petugas penghimpun dan penyalur zakat.
“Amil bukanlah sekadar petugas yang hanya menghimpun dan menyalurkan zakat. Dia adalah pengemban amanah umat, pengelola kepercayaan masyarakat, sekaligus penggerak perubahan sosial,” tegas Ali Ramdhani.
Ia kemudian menjelaskan tiga pilar utama profesionalisme amil. Pilar pertama ialah integritas dan amanah. Prinsip tersebut mencakup kejujuran, transparansi, dan akuntabilitas dalam mengelola kepercayaan umat.
Pilar kedua adalah kompetensi dan profesionalisme. Amil dituntut menguasai fikih zakat, manajemen keuangan, tata kelola organisasi, manajemen risiko, kepemimpinan, hingga teknologi.
Pilar ketiga ialah orientasi kemaslahatan sosial. Zakat harus mampu memberikan dampak nyata dalam upaya mengentaskan kemiskinan dan mendorong mustahik agar dapat mandiri hingga menjadi muzaki.
Peserta diminta tidak mengejar sertifikat semata
Ali Ramdhani mengingatkan para peserta agar tidak menjadikan kelulusan formal sebagai satu-satunya tujuan mengikuti program sertifikasi amil. Menurut dia, profesionalisme harus tercermin dalam kualitas kerja, integritas, dan manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat.
“Profesionalisme yang sesungguhnya bukan ditunjukkan sekadar oleh kepemilikan terhadap sebuah sertifikat, tetapi melalui kualitas kerja, integritas, dan manfaat yang kita hadirkan bersama,” pesannya.
Ia juga meminta peserta menjalani seluruh tahapan dengan kesungguhan. “Tetap semangat, belajar dengan tangguh, ujian dengan sungguh-sungguh, dan berkhidmat secara nyata,” ujar Ali Ramdhani.
Pembukaan program kemudian diresmikan melalui pembacaan Al-Fatihah. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan sesi overview program pelatihan terintegrasi yang disampaikan Ketua LSP Badan Litbang dan Diklat Kemenag Efa Ainul Falah.
Sesi tersebut menjadi pembekalan bagi 110 peserta sebelum memasuki tahapan pembelajaran dan uji kompetensi dalam Program Amil Professional Certification Tahun 2026.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.





![[Siaran Pers] Menkomdigi Meutya Hafid dan Kapolri Suyudi Perkuat Sinergi Berantas Judi Online Lintas Negara dan Penipuan di Ruang Digital](https://www.headline.co.id/wp-content/uploads/2026/10/siaran-pers-menkomdigi-meutya-hafid-dan-kapolri-suyudi-perkuat-sinergi-berantas-judi-online-lintas-negara-dan.png)














