Headline.co.id ~ Jambore Batik Jawa Barat 2026 mendorong penguatan literasi batik melalui pendidikan serta pembangunan ekosistem budaya yang mendukung keberlanjutan perajin. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan hal itu saat membuka kegiatan tersebut di Hotel Golden Flower, Bandung, Jawa Barat, Minggu (25/10/2026). Jambore yang digelar Yayasan Batik Jawa Barat pada 24–25 Oktober 2026 itu mempertemukan perajin, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan pemerintah. Kegiatan ini digelar untuk menjaga warisan batik sekaligus mengembangkan manfaatnya bagi kreativitas dan ekonomi budaya masyarakat.
Fadli menilai pengetahuan mengenai batik perlu diwariskan kepada generasi muda melalui pendidikan. Menurut dia, pembelajaran batik di sekolah dapat membantu siswa memahami tidak hanya produk akhirnya, tetapi juga proses, teknik, motif, dan nilai yang terkandung di dalamnya.
“Kegiatan ini sejalan dengan upaya pemajuan kebudayaan, khususnya mengangkat batik yang sudah menjadi warisan budaya takbenda dunia oleh UNESCO. Kita mempunyai beragam batik yang luar biasa, dan pengembangannya yang lebih spesifik khususnya di Jawa Barat ini akan menambah kekayaan serta diversitas batik yang ada di Indonesia. Melalui Jambore Batik ini, kita juga bisa menginventarisasi mulai dari motif hingga komunitas-komunitas perajinnya,” ujar Fadli.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Kurikulum batik diperkenalkan melalui muatan lokal
Salah satu agenda utama Jambore Batik Jawa Barat 2026 ialah peluncuran Buku Kurikulum dan Buku Ajar Batik Jawa Barat 2026. Materi tersebut diharapkan memperluas pembelajaran batik di sekolah melalui muatan lokal.
Penyusunan materi itu menjadi bagian dari upaya menjadikan pendidikan sebagai jalur pewarisan pengetahuan dan keterampilan membatik. Dengan pembelajaran tersebut, generasi muda dapat mengenali kekayaan budaya daerah sejak dini sekaligus memiliki ruang untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi motif.
Menbud Fadli Zon mengapresiasi peluncuran buku tersebut. Ia menyatakan Kementerian Kebudayaan siap bekerja sama dan memberikan dukungan melalui berbagai platform atau skema yang tersedia.
“Dengan adanya peluncuran buku ajar tentang batik bagi para siswa-siswi sekolah yang dimasukkan ke dalam muatan lokal di dalam kurikulum, ini merupakan satu terobosan yang brilian dan sangat bagus, sehingga literasi serta institusionalisasi pengetahuan maupun keterampilan tentang batik bisa diwariskan kepada generasi penerus. Oleh karena itu, saya dan Kementerian Kebudayaan siap bekerja sama serta mendukung dalam berbagai macam platform atau skema yang ada di kita,” ungkapnya.
Selain peluncuran buku, rangkaian jambore mencakup pameran batik dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat serta peluncuran buku The Emerging Expression of Batik in West Java.
Keragaman batik Jawa Barat dipamerkan
Jawa Barat memiliki beragam motif dan tradisi batik yang dapat dikembangkan dengan tetap mempertahankan karakter lokal. Salah satunya ialah motif Mega Mendung dari Cirebon yang dikenal melalui bentuk menyerupai awan.
Batik Tasikmalaya dan Garut juga memperkaya khazanah batik Jawa Barat melalui ciri warna dan ragam hiasnya. Di balik motif serta teknik pembuatannya terdapat pengetahuan tradisional, nilai seni, dan makna filosofis yang diwariskan lintas generasi.
Karena itu, pelindungan batik dinilai perlu berjalan beriringan dengan pengembangan dan pemanfaatannya. Batik tidak hanya dipertahankan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga perlu beradaptasi dengan perubahan zaman dan memberi manfaat bagi para pelaku budaya serta masyarakat.
Penguatan ekosistem batik dapat memperluas kesempatan bagi perajin untuk mengembangkan karya, memperkenalkan produk kepada pasar yang lebih luas, serta meneruskan keterampilan membatik kepada generasi berikutnya. Dengan cara itu, batik dapat tetap menjadi simbol identitas bangsa sekaligus memiliki potensi sebagai penggerak ekonomi budaya.
Usulan Museum Batik Jawa Barat mendapat dukungan
Dalam jambore tersebut, Ketua Yayasan Batik Jawa Barat Sendy Dede Yusuf mengusulkan pendirian Museum Batik Jawa Barat. Museum itu diharapkan menjadi ruang untuk mendokumentasikan, memperkenalkan, dan memperkuat pemahaman masyarakat terhadap kekayaan batik di wilayah Jawa Barat.
Fadli menyambut baik usulan tersebut dan menyatakan dukungan terhadap rencana pembangunan museum melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah serta pihak terkait. Menurut dia, museum dapat memperkuat dokumentasi dan edukasi batik, sekaligus membuka peluang kegiatan budaya yang melibatkan perajin, peneliti, pelajar, dan masyarakat.
“Tentu kita sangat mendukung rencana pembangunan museum tersebut. Di Kementerian Kebudayaan sendiri, kita sudah mengelola Museum Batik dan Museum Keris di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Namun, jika ada inisiatif untuk mendirikan Museum Batik Jawa Barat, tentu sangat kita dukung karena ini penting bagi perkembangan batik sekaligus pertumbuhan ekonomi daerah,” kata Menteri Kebudayaan.
Fadli menekankan pelestarian budaya tidak berarti membekukan tradisi pada masa lalu. Pengembangan batik membutuhkan kolaborasi pemerintah pusat dan daerah, seniman, perajin, akademisi, pelaku usaha, serta komunitas lokal.
Kementerian Kebudayaan menyatakan terus mendorong pelestarian batik melalui pendekatan inovatif dan partisipatif. Upaya tersebut mencakup penguatan pelindungan kekayaan intelektual komunal serta perluasan pengakuan internasional melalui diplomasi budaya dan kerja sama global.
Melalui pendidikan, dokumentasi, kolaborasi, dan pemanfaatan budaya, Jambore Batik Jawa Barat 2026 diarahkan untuk menjaga keberlanjutan warisan batik sekaligus mengembangkannya sebagai sumber kreativitas dan kesejahteraan masyarakat.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















