Headline.co.id, Jakarta ~ Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendukung evaluasi penggunaan es kering dalam operasi modifikasi cuaca untuk penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kajian tersebut dilakukan untuk menguji apakah pendinginan lokal dari karbon dioksida padat dapat memengaruhi lapisan inversi suhu yang menghambat pergerakan udara dan pertumbuhan awan hujan. Evaluasi dibahas bersama Tim Desk Terpadu Operasi Modifikasi Cuaca untuk Penanggulangan Karhutla di Posko Halim Perdanakusuma, Jakarta, Minggu (18/10/2026).
Penggunaan es kering dalam operasi ini belum dinyatakan sebagai solusi yang terbukti untuk mengatasi kabut asap atau menghasilkan hujan. BRIN menekankan perlunya pengamatan dan analisis data untuk membedakan dampak penyemaian dari perubahan yang terjadi akibat dinamika atmosfer secara alami.
Inversi Suhu Hambat Penyebaran Asap
Perekayasa Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Florentinus Heru Widodo, menjelaskan, inversi suhu terjadi ketika lapisan udara hangat berada di atas udara yang lebih dingin. Kondisi ini membuat atmosfer lebih stabil sehingga pergerakan udara secara vertikal terhambat.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Dalam kondisi atmosfer normal, suhu udara cenderung menurun seiring bertambahnya ketinggian. Perbedaan suhu tersebut memungkinkan udara hangat di dekat permukaan naik melalui proses konveksi dan berperan dalam pembentukan awan.
Sebaliknya, lapisan udara hangat yang berada di atas udara lebih dingin saat inversi suhu berfungsi seperti penghalang. Akibatnya, asap kebakaran sulit menyebar ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi dan tertahan di dekat permukaan. Kondisi tersebut juga membatasi pertumbuhan awan hujan.
“Lapisan inversi ini dapat diibaratkan sebagai penutup yang menghambat pergerakan udara ke atas. Akibatnya, asap dari kebakaran sulit menyebar secara vertikal dan semakin terkonsentrasi di dekat permukaan. Pada saat yang sama, kondisi atmosfer yang stabil juga menghambat pertumbuhan awan hujan,” jelas Heru.
Es Kering Diuji untuk Mengubah Kondisi Termal
Pendekatan yang tengah dicoba tim terpadu adalah penggunaan es kering atau karbon dioksida padat. Metode ini berbeda dari penyemaian awan yang bertujuan meningkatkan peluang hujan pada awan dengan kondisi yang sesuai.
Penggunaan es kering diarahkan untuk menguji kemungkinan perubahan kondisi termal pada lapisan inversi. Bahan tersebut memiliki suhu sekitar minus 78,5 derajat Celsius. Ketika dilepaskan ke atmosfer, es kering mengalami sublimasi, yakni perubahan langsung dari fase padat menjadi gas, dengan menyerap panas dari lingkungan sekitarnya.
Secara teoritis, pendinginan lokal itu dapat mengubah perbedaan suhu dan karakteristik kerapatan udara. Perubahan tersebut diharapkan memicu pergerakan udara setempat serta meningkatkan pencampuran udara secara vertikal.
Jika pengaruh pendinginan cukup besar dan kondisi atmosfer mendukung, kestabilan lapisan inversi berpotensi melemah. Dengan demikian, pergerakan udara ke atas dan pertumbuhan awan dapat berlangsung lebih mudah.
Namun, Heru menegaskan mekanisme tersebut masih berupa hipotesis ilmiah. Efektivitas es kering tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan sifat pendinginannya.
“Penggunaan es kering diharapkan dapat menimbulkan pendinginan lokal dan memengaruhi kestabilan udara pada lapisan inversi. Namun, mekanisme ini masih merupakan hipotesis ilmiah. Kita harus menguji apakah perubahan yang dihasilkan benar-benar cukup untuk melemahkan inversi dan mendukung pertumbuhan awan,” terang Heru.
Efektivitas Diukur dari Data Atmosfer
Heru mengingatkan, lapisan inversi dapat terbentang di wilayah yang luas dengan tingkat kestabilan dan ketebalan yang berbeda-beda. Karena itu, perubahan suhu di satu lokasi belum tentu cukup untuk memengaruhi kondisi atmosfer secara keseluruhan.
Evaluasi efektivitas es kering perlu menggunakan data atmosfer sebelum, selama, dan setelah penyemaian. Data tersebut diperlukan untuk menilai apakah perubahan pada lapisan atmosfer berkaitan dengan perlakuan modifikasi cuaca atau dipengaruhi dinamika atmosfer secara alami.
BRIN dapat mendukung analisis ilmiah dengan memanfaatkan data pengamatan yang dikumpulkan instansi pelaksana operasi dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Parameter yang dianalisis mencakup profil suhu udara secara vertikal, kelembapan, ketinggian dan ketebalan lapisan inversi, serta tingkat kestabilan atmosfer.
Salah satu instrumen yang dapat digunakan adalah radiosonde. Perangkat pengamatan meteorologi tersebut memberikan informasi kondisi atmosfer pada berbagai ketinggian. Data profil suhu selama penerbangan juga dapat membantu mengidentifikasi lokasi dan ketebalan lapisan inversi.
BRIN Tekankan Pengujian Berbasis Data
Pengamatan secara sistematis memungkinkan tim mengevaluasi apakah penyemaian es kering benar-benar menghasilkan perubahan pada lapisan atmosfer yang menjadi sasaran. Hasil pengamatan juga dapat digunakan untuk menilai kesesuaian metode tersebut dengan kondisi cuaca di lapangan.
“Kita ingin memastikan bahwa setiap teknologi yang digunakan dalam penanggulangan bencana memiliki dasar ilmiah yang kuat. Data pengamatan menjadi kunci untuk mengetahui apakah perlakuan yang diberikan benar-benar memengaruhi lapisan inversi, atau apakah perubahan kondisi yang terjadi juga dipengaruhi dinamika cuaca lainnya,” pungkas Heru.
Kajian ini menempatkan pembuktian ilmiah sebagai dasar pengembangan teknologi penanggulangan karhutla. Efektivitas penggunaan es kering masih bergantung pada hasil pengamatan, karakteristik atmosfer, dan analisis data yang dilakukan dalam operasi modifikasi cuaca.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.
















