Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat penurunan titik panas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 13 Oktober 2026. Berdasarkan pemantauan hingga pukul 21.00 WIB, jumlah titik panas mencapai 244 titik, turun 77,5 persen dibandingkan 1.085 titik pada 12 Oktober 2026. Meski tren nasional menurun, Sumatra Selatan tetap menjadi fokus penanganan karena mengalami peningkatan titik panas sebesar 92 persen jika dibandingkan periode sebelumnya. Pemerintah menangani kondisi tersebut melalui pengerahan personel, pemadaman, pemantauan, perlindungan kesehatan, dan penyelamatan satwa liar.
Kepala Humas Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut, Ristianto Pribadi, menyampaikan perkembangan itu dalam Konferensi Pers Perkembangan Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia di Jakarta, Rabu (14/10/2026).
“Secara garis besar, Bapak Ibu sekalian, rekan-rekan media, secara hotspot rata-rata hotspot itu turun sekitar 30 persen. Ini perbandingan rata-rata masuk harian di Kalimantan Tengah,” ujar Ristianto.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Penurunan titik panas karhutla
Data Kemenhut menunjukkan jumlah titik panas juga menurun jika dibandingkan berdasarkan periode pemantauan. Pada 17–30 September 2026, tercatat 9.080 titik panas dengan rata-rata 649 titik per hari. Jumlah tertinggi pada periode tersebut mencapai 1.843 titik pada 20 September.
Sementara itu, pada periode 1–13 Oktober 2026, jumlah titik panas tercatat 7.519 titik. Angka tertinggi dalam periode tersebut mencapai 1.029 titik pada 8 Oktober.
Penurunan juga terlihat di sejumlah wilayah yang menjadi perhatian pemerintah. Pada 13 Oktober, titik panas di Kalimantan Tengah turun dari 227 menjadi 65 titik. Di Sumatra Selatan, jumlah titik panas pada hari yang sama turun dari 147 menjadi 59 titik.
Namun, penurunan harian tersebut belum mengubah posisi Sumatra Selatan sebagai wilayah prioritas penanganan. Kemenhut mencatat provinsi itu mengalami kenaikan titik panas sebesar 92 persen jika dibandingkan periode sebelumnya.
“Perhatian khusus itu ada di Sumatera Selatan. Kalau kita bandingkan periode 14-13 hari, ya, 17-31-13 Oktober, Sumatera Selatan ini ada peningkatan 92 persen, sehingga memang ini menjadi fokus utama kami di Kementerian Kehutanan untuk lebih memberikan perhatian khusus kepada penanganan karhutla di Sumatera Selatan,” jelas Ristianto.
1.419 personel Manggala Agni dikerahkan
Untuk mempercepat penanganan karhutla, Kemenhut mengerahkan 1.419 personel Manggala Agni. Selain itu, sekitar 5.000 aparatur sipil negara (ASN) disiagakan dan sekitar 2.000 personel bantuan kendali operasi (BKO) turut menjalankan tugas di lapangan.
Penanganan juga diarahkan untuk menuntaskan kebakaran di Kalimantan Tengah, khususnya di Taman Nasional Tanjung Puting.
“Yang kedua, sesuai dengan arah Bapak Presiden, dalam waktu sesingkat-singkatnya, Kementerian Kehutanan beserta para pihak segera ingin menuntaskan kejadian karhutla yang ada di Kalimantan Tengah dan juga khususnya di Taman Nasional Tanjung Puting,” tegas Ristianto.
Pengerahan personel dilakukan seiring dengan koordinasi lintas pihak dalam penanganan karhutla. Upaya tersebut mencakup pemadaman, perlindungan masyarakat, penyelamatan satwa liar, serta keselamatan personel yang bertugas di lapangan.
232 satwa liar terdampak telah ditangani
Selain menangani kebakaran, Kemenhut melakukan penyelamatan satwa liar yang terdampak karhutla. Hingga 8 Oktober 2026, sebanyak 232 individu satwa liar telah ditangani di enam provinsi prioritas.
Dari jumlah tersebut, 71 di antaranya merupakan orangutan. Kemenhut mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan penyelamatan satwa liar secara mandiri karena proses tersebut membutuhkan keahlian dan penanganan khusus.
“Dan pada kesempatan ini, kami sangat menghimbau kepada masyarakat untuk tidak melakukan aksi sendiri, karena penanganan penyelamatan satwa liar ini memang memerlukan keahlian khusus, penanganan khusus, dan kami dari Kementerian Kehutanan beserta para pihak siap memberikan dukungan bantuan kepada masyarakat,” ujar Ristianto.
Dampak karhutla terhadap kualitas udara
Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Udara Kementerian Lingkungan Hidup, Edward Nixon Pakpahan, mengatakan karhutla berdampak serius terhadap kualitas udara di sejumlah provinsi di Sumatra dan Kalimantan.
“Per hari ini, 14 Oktober, 28 pagi, bisa kami sampaikan kepada rekan-rekan media bahwa memang dampak itu berdampak serius kepada kualitas udara di beberapa provinsi di Sumatera,” ujar Edward.
Ia menjelaskan, kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatra Barat, Riau, Jambi, dan Sumatra Selatan berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya. Kondisi serupa juga terjadi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Edward mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan demi menjaga kesehatan, terutama ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat, sangat tidak sehat, hingga berbahaya. Pemerintah terus mendorong koordinasi lintas pihak untuk menangani karhutla sekaligus mengurangi dampaknya terhadap masyarakat, satwa liar, dan personel di lapangan.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















