Headline.co.id, Jakarta ~ Konferensi Musik Indonesia 2026 akan digelar di Makassar pada 30 Oktober 2026 setelah Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Giring Ganesa Djumaryo menyampaikan rencana tersebut kepada Menteri Agama Nasaruddin Umar. Rencana itu dibahas dalam pertemuan di kantor Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa (29/9/2026). Giring meminta Nasaruddin hadir dan memberikan arahan dalam kegiatan yang dinilai dapat mempertemukan musik religi, budaya, dan keberagaman masyarakat Indonesia. Menag menyambut baik rencana konferensi tersebut dan menyebut musik religi sebagai kolaborasi agama dan budaya.
Giring Ganesa Djumaryo datang bersama staf serta sejumlah musisi dari berbagai gereja di Indonesia. Dalam pertemuan itu, ia menjelaskan bahwa Konferensi Musik Indonesia 2026 digagas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan akan berlangsung di Makassar pada akhir Oktober.
“Izin Pak Menteri. Kami berencana mengadakan Konferensi Musik Indonesia 2026 di Makassar. Berharap, Pak Menteri bisa datang memberikan arahan pada tanggal 30 Oktober ini,” kata Giring.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Ia mengatakan musik religi memiliki peran dalam memperkuat persatuan bangsa. Menurut Giring, musik religi Indonesia juga memiliki peluang untuk dikenal lebih luas di tingkat internasional.
“Bagi kami, sebagaimana pandangan Pak Menteri merepresentasikan Musik. Musik religi itu pemersatu bangsa, dan sudah saatnya mendunia,” ujar Giring.
Giring menambahkan, musik religi di Indonesia telah berkembang dengan baik dan banyak diadopsi di tingkat internasional. Karena itu, ia kembali berharap Nasaruddin dapat menghadiri kegiatan tersebut.
“Sekali lagi. Kami berharap Pak Menteri bisa hadir dalam event ini,” pinta Giring.
Menag Dukung Konferensi Musik Indonesia 2026
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyambut baik rencana Konferensi Musik Indonesia 2026 di Makassar. Dalam kesempatan yang sama, ia menyampaikan rencana pelaksanaan Istiqlal Fest 2026 di Masjid Istiqlal.
Nasaruddin mengatakan, Istiqlal Fest 2026 diharapkan menjadi ruang bagi para seniman dari berbagai kalangan. Ia menegaskan, Masjid Istiqlal tidak hanya menjadi ruang bagi seniman muslim, tetapi juga seniman dari latar belakang yang beragam.
“Ke depan, dari Istiqlal Fest 2026 ini, di sini kita jadi Markas Seniman Indonesia, bukan seniman muslim saja, tapi dari berbagai kalangan,” kata Nasaruddin.
Menurut Nasaruddin, festival tersebut juga akan memuat musik-musik mistik. Ia menyebut keragaman budaya Indonesia dan budaya dari berbagai negara sebagai bagian yang dapat dipertemukan dalam kegiatan seni.
Contoh yang disebut lain musik dan tari saman, sholawat Maroko, tarian-tarian Mesir, serta tarian dan musik India, China, dan lainnya.
Agama dan Budaya Dinilai Tak Terpisahkan
Nasaruddin menjelaskan, berbagai liturgi dalam musik dan tarian akan dipertemukan dalam festival tersebut. Ia memandang seni musik dan tari sebagai medium yang dapat mempertemukan agama dengan kebudayaan.
“Liturgi-liturgi dari semua musik dan tarian itu yang akan kita pertemukan dalam acara pestival ini. Musik-musik Religi merupakan Kolaborasi agama dan budaya,” terang Nasaruddin.
Ia mengatakan budaya dan agama di Indonesia tidak dapat dipisahkan. Keduanya, menurut Nasaruddin, dapat berjalan beriringan dan menyatu dalam kehidupan masyarakat.
Nasaruddin mencontohkan perpaduan kesenian Bali dengan ajaran Islam sebagai salah satu bentuk pertemuan agama, seni, budaya, dan kearifan lokal. Menurut dia, perpaduan tersebut menjadi bagian dari kekayaan masyarakat Indonesia.
“Imam Al Ghozali menjelaskan bahwa orang yang tidak mencintai seni, hatinya akan kering. Seni bisa lewat dari mana saja. Festival agama-agama di Indonesia sudah menjadi budaya,” tandas Nasaruddin.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















