Headline.co.id, Jakarta ~ Wakil Menteri Pertahanan Republik Indonesia (Wamenhan RI) sekaligus Sekretaris Dewan Pertahanan Nasional (DPN) Donny Ermawan Taufanto membuka Forum Diskusi dan Rapat Terbatas Peningkatan Interoperabilitas Alutsista TNI di kantor Kementerian Pertahanan (Kemhan), Jakarta, Selasa (22/9/2026). Forum tersebut membahas peningkatan interoperabilitas alutsista TNI untuk mendukung operasi gabungan yang terintegrasi dalam rangka mewujudkan Perisai Trisula Nusantara. Pembahasan dilakukan dengan melibatkan narasumber dari Kemhan, Defend ID, serta negara sahabat, yakni Prancis, Turki, dan Pakistan. Melalui forum itu, Wamenhan berharap lahir rekomendasi yang konstruktif dan implementatif dengan mengedepankan kepentingan pertahanan negara.
Interoperabilitas Alutsista TNI Hadapi Ancaman yang Berkembang
Dalam sambutannya, Donny menegaskan bahwa lingkungan strategis saat ini ditandai oleh ancaman militer, nirmiliter, dan hibrida yang berkembang cepat. Kondisi tersebut menuntut kemampuan pertahanan yang tidak hanya mengandalkan jumlah platform atau daya hancur senjata.
Menurut dia, keberhasilan operasi pertahanan juga ditentukan oleh kecepatan memperoleh informasi, ketepatan membentuk situational awareness, serta keandalan sistem komando dan kendali. Data yang akurat dan tersedia secara real-time disebut menjadi pengganda kekuatan dalam konsep network-centric warfare (NCW).
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Karena itu, interoperabilitas menjadi unsur penting agar seluruh komponen pertahanan dapat bertindak sebagai satu kesatuan operasi. Kemampuan tersebut diperlukan untuk mendukung pelaksanaan operasi gabungan yang terintegrasi.
Bukan Sekadar Kompatibilitas Perangkat Komunikasi
Donny menjelaskan, interoperabilitas tidak terbatas pada kemampuan perangkat komunikasi untuk saling terhubung. Aspek tersebut mencakup personel, doktrin, prosedur, data, jaringan, sensor, sistem komando-kendali, hingga platform senjata.
“Interoperabilitas bukan sekadar kompatibilitas perangkat komunikasi, melainkan kemampuan personel, doktrin, prosedur, data, jaringan, sensor, sistem komando-kendali, dan platform senjata untuk saling terhubung, saling memahami, serta melaksanakan misi bersama secara aman dan efektif,” kata Wamenhan dalam sambutannya.
Kemampuan untuk saling terhubung dan memahami itu dinilai menjadi prasyarat dalam membangun daya tempur yang terpadu. Dengan interoperabilitas, berbagai unsur pertahanan dapat menjalankan misi bersama secara aman dan efektif.
Integrasi tersebut mencakup kekuatan darat, laut, udara, ruang siber, serta berbagai sistem pendukung. Seluruh unsur itu diharapkan mampu menghasilkan efek operasi gabungan yang lebih cepat, tepat, terkoordinasi, dan menentukan.
Forum Hadirkan Narasumber dari Negara Sahabat
Forum diskusi dan rapat terbatas yang diselenggarakan DPN tersebut turut menghadirkan sejumlah narasumber dari Kementerian Pertahanan dan Defend ID. Narasumber dari negara sahabat yang hadir berasal dari Prancis, Turki, dan Pakistan.
Kehadiran para narasumber diharapkan memberikan wawasan dan perspektif dalam memperkuat pembahasan mengenai interoperabilitas alutsista. Selain itu, forum tersebut juga diarahkan untuk mendukung upaya peningkatan kemampuan pertahanan yang terintegrasi.
Wamenhan berharap pembahasan dalam forum dapat menghasilkan rekomendasi yang dapat diterapkan. Rekomendasi itu diharapkan tetap berorientasi pada kepentingan pertahanan negara serta mendukung peningkatan interoperabilitas alutsista TNI dalam operasi gabungan.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















