Headline.co.id, Semarang ~ Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama menyiapkan peta jalan pembinaan keluarga tangguh. Peta jalan pembinaan keluarga tangguh itu dijelaskan Direktur Jenderal Bimas Islam Abu Rokhmad dalam Studium Generale bertajuk “Ketahanan Keluarga untuk Membentuk Generasi Berkualitas Menuju Indonesia Emas 2045” di Gedung Rektorat Lantai 4 UIN Walisongo Semarang, Senin (14/9/2026). Pembinaan tersebut ditujukan untuk mempersiapkan individu sejak masa remaja hingga memasuki kehidupan berkeluarga. Upaya itu dilakukan melalui pembinaan berjenjang, mulai dari Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS), Bimbingan Remaja Usia Nikah (BRUN), Bimbingan Perkawinan (BIMWIN), hingga pendampingan dan rujukan.
Peta Jalan Pembinaan Dimulai dari Remaja
Abu Rokhmad menyampaikan, rangkaian pembinaan keluarga tangguh tidak hanya diberikan ketika seseorang telah menikah. Pembinaan dimulai sejak masa remaja melalui BRUS dan BRUN, kemudian dilanjutkan dengan BIMWIN sebagai persiapan memasuki kehidupan perkawinan.
Setelah itu, pembinaan diarahkan pada penguatan fondasi rumah tangga, Bina Keluarga Sakinah, serta pendampingan dan rujukan. Tahapan tersebut disiapkan agar individu memiliki bekal dalam membangun keluarga dan menghadapi perubahan sosial.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Rangkaian pembinaan tersebut diarahkan untuk mempersiapkan individu sejak masa remaja hingga memasuki kehidupan berkeluarga, sehingga mampu membangun keluarga yang tangguh dan menghadapi berbagai perubahan sosial,” tegas Abu Rokhmad di Semarang.
Menurut Abu Rokhmad, pembangunan manusia perlu dimulai dari lingkungan keluarga. Keluarga yang kuat dinilai berperan dalam membentuk manusia yang sehat dan mampu menghadapi perubahan.
“Pembangunan manusia dimulai dari keluarga. Keluarga yang kuat melahirkan manusia yang sehat dan mampu menghadapi perubahan,” tuturnya.
Studium Generale tersebut diselenggarakan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang. Kegiatan itu dihadiri Rektor UIN Walisongo Semarang Musahadi, Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Nasihun Amin, serta Elvi Anita Afandi, Sekretaris Umum Pengurus Pusat Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia.
Mahasiswa Gen Z Disebut Punya Peran Strategis
Elvi Anita Afandi menyoroti peran mahasiswa generasi Z dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Menurut dia, generasi muda memiliki posisi strategis dalam menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia pada masa depan.
“Penentu Indonesia Emas adalah kalian, mahasiswa Gen Z. Indonesia Emas mulai dari keluarga dan sumber daya manusia,” ungkapnya.
Elvi menyebut ketahanan keluarga sebagai salah satu fondasi utama pembangunan Indonesia Emas. Untuk memperkuat ketahanan tersebut, ia menilai diperlukan peran Penyuluh Agama Islam sebagai pendamping masyarakat.
“Apa yang disebut ketahanan keluarga adalah pondasi utama membangun Indonesia Emas. Membutuhkan profesi Penyuluh Agama Islam untuk menjadi pendamping ketahanan keluarga,” jelasnya.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk mempersiapkan diri sejak bangku kuliah, khususnya mereka yang memiliki ketertarikan untuk berkiprah sebagai penyuluh agama.
“Sebagai penyuluh bisa mendengarkan masyarakat. Siapkan diri sebagai penyuluh sejak bangku kuliah,” pesannya.
Ketahanan Keluarga Berkaitan dengan Ketahanan Nasional
Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo, Nasihun Amin, mengatakan Studium Generale menjadi kesempatan bagi fakultas untuk memperluas wawasan mengenai ketahanan keluarga. Ia berharap pengetahuan dari kegiatan tersebut dapat menjadi bekal bagi mahasiswa dan peserta dalam menghadapi masa depan.
“Saya berharap semoga apa yang kita dapat menjadi acuan kita di masa depan,” tambahnya.
Sementara itu, Rektor UIN Walisongo Semarang Musahadi menegaskan bahwa ketahanan keluarga memiliki keterkaitan dengan ketahanan nasional. Ia menyebut ketahanan keluarga mencakup sejumlah aspek, di antaranya kesehatan, ekonomi, dan psikologi.
“Ketahanan nasional berasal dari ketahanan keluarga, berhubungan dengan soal kesehatan, ekonomi, dan psikologi,” jelasnya.



















