Headline.co.id, Batang ~ Warga lokal memanfaatkan geliat ekonomi di sekitar Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang dengan membuka usaha food truck di Taman Tematik KEK Industropolis Batang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Usaha tersebut dijalankan Badan Usaha Milik Desa Bersama (Bumdesma) LKD Kecamatan Gringsing dengan dukungan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari pengelola kawasan. Kehadiran food truck ditujukan untuk menangkap peluang usaha dari meningkatnya kunjungan dan perputaran ekonomi di sekitar kawasan industri. Pengelolaannya melibatkan 15 desa yang tergabung dalam Bumdesma Gringsing serta menjadi wadah pemasaran produk UMKM warga.
Food truck tersebut beroperasi terutama saat akhir pekan, mulai pukul 14.30 hingga 19.30 WIB. Lokasinya berada di taman tematik yang menawarkan pemandangan lepas pantai dan menjadi salah satu daya tarik bagi warga yang berkunjung pada sore hari.
Food Truck Tangkap Perputaran Ekonomi di KEK Industropolis Batang
Camat Gringsing Ridho Budhi Kurniawan mengatakan, perkembangan ekonomi di sekitar Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) menjadi peluang yang perlu dimanfaatkan masyarakat lokal. Menurut dia, keberadaan taman tematik dan kawasan industri dapat mendukung munculnya kegiatan usaha baru.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Jadi menurut kami, food truck dan ini juga atas diskusi kita dengan KITB bahwasanya kawasan yang memiliki daya tarik ini sungguh sangat disayangkan manakala kita tidak menangkap peluang usaha,” kata Ridho saat ditemui di Taman Tematik KEK Industropolis Batang, Minggu (13/9/2026).
Ia menilai konsep food truck dipilih karena lebih fleksibel dibandingkan usaha yang hanya beroperasi di satu stan atau satu tempat. Mobilitas tersebut dinilai sesuai untuk mendukung unit usaha yang dikelola Bumdesma.
“Kalau food truck itu kan menurut kami mobilitasnya bisa lebih fleksibel, daripada kita berada di satu stan ataupun satu tempat. Sementara ini kita berfokus di KITB ya, karena ini kan juga bagian dari salah satu unit usaha yang ada di Bumdesma,” jelasnya.
Pengembangan usaha itu merupakan hasil kolaborasi pengelola kawasan industri dan para kepala desa di Kecamatan Gringsing. Melalui kerja sama tersebut, warga di desa-desa sekitar memperoleh ruang untuk mengembangkan aktivitas ekonomi di kawasan yang ramai dikunjungi.
Empat Armada Disiapkan untuk Usaha Warga
Kepala Desa Krengseng Aprilianto menyebutkan, armada food truck yang disiapkan berjumlah empat unit. Namun, saat ditemui, baru dua unit yang berada di lokasi, sedangkan dua unit lainnya biasanya tiba pada sore hari.
Menurut Aprilianto, usaha tersebut bermula dari peluang kerja sama CSR yang ditawarkan manajemen kawasan kepada desa-desa sekitar, termasuk Kecamatan Gringsing dan Banyuputih. Food truck menjadi salah satu bentuk dukungan CSR dari Industri Batang atau Industropolis Batang yang bekerja sama dengan Bumdesma LKD Kecamatan Gringsing.
“Bahwa proyek ini bermula dari peluang kerja sama CSR yang ditawarkan manajemen kawasan kepada desa-desa sekitar, termasuk Kecamatan Gringsing dan Banyuputih. Food truck ini posisinya memang salah satu bentuk CSR dari Industri Batang (Industropolis Batang) yang kerja sama dengan Bumdesma LKD di wilayah Kecamatan Gringsing, yang dipelopori oleh Pak Camat,” ujar Aprilianto.
Investasi untuk memesan satu unit food truck berada pada kisaran Rp80 juta hingga Rp90 juta. Biaya tersebut belum termasuk aksesori penunjang yang nilainya sekitar Rp20 juta.
Food Truck Jadi Kanal Pemasaran Produk UMKM
Selain menjual makanan, food truck juga digunakan untuk memasarkan produk olahan UMKM dari desa-desa yang tergabung dalam Bumdesma. Warga dapat menitipkan makanan untuk dijual melalui armada tersebut.
“Yang jualan untuk sementara posisinya yang di atas. Yang di atas warga. Kemudian juga makanan-makanan yang ada itu juga titipan-titipan dari warga. Jadi bentuk dari warga-warga yang nitip-nitip UMKM yang ada di desa-desa,” kata Aprilianto.
Menurut dia, respons pengunjung terhadap keberadaan food truck cukup positif. Namun, perkembangan usaha tersebut masih akan dipantau karena taman tematik itu baru dibuka sekitar satu minggu.
“Syukur alhamdulillah, karena taman tematik ini baru dibuka, lumayan bahasanya. Cuman nggak tahu ini perkembangannya, ini baru satu minggu,” ungkapnya.
Pengunjung juga mengapresiasi suasana taman tematik yang menghadap ke laut. Endah (73), warga Kauman Batang, datang bersama rombongan Dasawisma dan mengaku sudah dua kali berkunjung.
“Sudah dua kali ke sini. Memang pemandangan luar biasa, bisa melihat laut. Kalau ke sini lebih enak sore hari, tidak panas,” tuturnya.
Menurut Endah, keberadaan food truck memudahkan pengunjung membeli makanan dan jajanan tanpa harus pergi jauh dari lokasi taman. Ia juga menilai harga yang ditawarkan terjangkau.


















