Headline.co.id, Jakarta ~ Dari penjual garam jadi miliarder, perjalanan hidup Daisy Bucad-Eng berubah drastis setelah mantan pekerja rumah tangga asal Filipina itu mendapat warisan sedikitnya Rp14 miliar dari mantan majikannya, Marie. Perempuan lanjut usia asal Portugal yang tinggal di Hong Kong tersebut meninggalkan apartemen, uang dalam bentuk dolar, dan saham di sejumlah perusahaan setelah meninggal dunia pada 2002. Warisan itu diterima Daisy setelah sekitar 11 tahun bekerja dan merawat Marie hingga hubungan keduanya berkembang layaknya keluarga.
Kisah dari penjual garam jadi miliarder itu kembali diberitakan media Filipina iTacloban pada 26 Januari 2023. Sebelumnya, perjalanan Daisy Bucad-Eng juga pernah diangkat dalam program televisi Filipina Kapuso Mo, Jessica Soho pada 10 Oktober 2021.
Dari penjual garam jadi miliarder bukan sekadar gambaran perubahan kondisi ekonomi Daisy. Berdasarkan laporan iTacloban, warisan yang diterimanya mencakup apartemen senilai sekitar 26 juta peso Filipina dan uang dalam bentuk dolar yang nilainya disebut mencapai 25 juta peso, atau sedikitnya 51 juta peso jika keduanya dijumlahkan.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Dengan mengacu pada kurs peso terhadap rupiah pada Januari 2023, nilai apartemen dan uang tersebut setara sekitar Rp14 miliar. Angka itu belum memasukkan nilai saham di sejumlah perusahaan yang juga diwariskan Marie kepada Daisy.
Daisy Menikah di Usia 16 Tahun dan Berjualan Garam
Sebelum bekerja di Hong Kong, Daisy menjalani kehidupan sederhana di Mountain Province, Filipina.
Ia menikah ketika masih berusia 16 tahun. Untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya, Daisy kemudian berjualan garam di kampung halamannya.
Namun, penghasilan dari pekerjaan tersebut tidak cukup untuk menopang kebutuhan keluarga. Kondisi ekonomi itu mendorong Daisy mengambil keputusan besar dengan bekerja ke luar negeri sebagai pekerja rumah tangga.
Pilihan tersebut mengikuti langkah sejumlah warga lain dari daerahnya yang mencari penghasilan di luar Filipina.
Hong Kong kemudian menjadi tempat Daisy mencoba memperbaiki kehidupan keluarganya.
Pengalaman Awal di Hong Kong Tidak Mudah
Keputusan bekerja sebagai PRT di luar negeri tidak langsung membuat kehidupan Daisy membaik.
Ia mengaku pernah mengalami perlakuan buruk dari majikan sebelumnya. Daisy bahkan hanya memperoleh waktu istirahat sekitar dua hingga tiga jam.
Situasinya mulai berubah ketika ia bekerja untuk Marie, perempuan lanjut usia asal Portugal yang menetap di Hong Kong.
Daisy saat itu menerima gaji sekitar 900 dolar Hong Kong per bulan atau sekitar 2.700 peso pada masa tersebut. Kendati demikian, kondisi pekerjaannya bersama Marie berbeda jauh dari pengalaman sebelumnya.
Marie memperlakukan Daisy dengan baik dan menganggapnya seperti bagian dari keluarga.
Kedekatan itulah yang kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan hidup Daisy.
Marie Memilih Ikut Daisy Pulang ke Filipina
Hubungan antara Daisy dan Marie semakin dekat seiring berjalannya waktu.
Ketika Daisy memutuskan kembali ke Filipina, Marie bahkan memilih ikut bersamanya.
Marie disebut tidak ingin tinggal di panti jompo di Hong Kong. Ia lebih memilih tinggal bersama Daisy di Filipina.
Keputusan tersebut memperlihatkan bahwa hubungan mereka telah berkembang jauh melampaui hubungan formal antara pekerja rumah tangga dan majikan.
Selama berada di Filipina, Daisy terus merawat Marie. Keduanya juga sempat mengunjungi sejumlah tempat, termasuk lokasi-lokasi keagamaan.
Secara keseluruhan, Daisy bekerja dan mendampingi Marie selama sekitar 11 tahun.
Surat Wasiat Mengubah Kehidupan Daisy
Setelah Marie meninggal dunia pada 2002, Daisy menerima kabar yang tidak pernah dibayangkannya.
Beberapa waktu setelah kematian mantan majikannya tersebut, Daisy mendapat pemberitahuan bahwa namanya tercantum dalam surat wasiat Marie.
Pada awalnya, Daisy tidak percaya.
Namun, surat wasiat itu benar-benar mencantumkan aset bernilai besar yang diwariskan kepadanya.
Aset tersebut terdiri dari apartemen dengan nilai sekitar 26 juta peso Filipina, uang dalam bentuk dolar yang nilainya diperkirakan mencapai 25 juta peso, serta saham di sejumlah perusahaan.
Jika hanya menghitung apartemen dan uang, nilai warisan itu sedikitnya mencapai 51 juta peso atau sekitar Rp14 miliar berdasarkan kurs Januari 2023.
Karena saham belum dihitung, nilai keseluruhan warisan yang diterima Daisy berpotensi lebih besar daripada angka tersebut.
Bangun Gedung Lima Lantai di Mountain Province
Warisan dari Marie kemudian digunakan Daisy untuk mengubah kehidupan keluarganya.
Sebagian harta tersebut dimanfaatkan untuk membangun gedung lima lantai di Mountain Province.
Bangunan itu dilengkapi sejumlah fasilitas, antara lain ruang usaha, penginapan, pusat kebugaran, serta fasilitas lainnya.
Daisy juga menyediakan ruang khusus untuk mengenang Marie.
Ruang tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada perempuan yang pernah menjadi majikannya sekaligus sosok yang kemudian memiliki hubungan sangat dekat dengannya.
“Saya sangat berterima kasih atas kebaikan Marie. Warisan ini tidak hanya mengubah hidup saya, tetapi juga membantu keluarga saya,” ujar Daisy.
Pesan Daisy untuk Pekerja Migran
Dari pengalaman hidupnya, Daisy juga menyampaikan pesan kepada pekerja migran Filipina lainnya.
Ia meminta para pekerja tetap menjalankan pekerjaan dengan baik dan menghormati majikan.
Daisy juga menekankan pentingnya kesabaran, kerja keras, serta kejujuran selama bekerja.
Perjalanan Daisy menjadi contoh bagaimana kehidupannya berubah dalam rentang panjang. Ia memulai dari kondisi ekonomi sederhana dengan berjualan garam, kemudian bekerja sebagai PRT di Hong Kong, mengalami pengalaman kerja yang sulit, hingga akhirnya bertemu Marie.
Hubungan Daisy dan Marie selama sekitar 11 tahun kemudian meninggalkan dampak besar bagi kehidupannya.
Warisan sedikitnya Rp14 miliar tersebut bukan hanya mengubah kondisi ekonomi Daisy, tetapi juga menjadi bagian dari kisah kedekatan dua orang yang awalnya dipertemukan melalui hubungan kerja.
Dari seorang penjual garam di Mountain Province, Daisy akhirnya menjadi penerima aset bernilai puluhan juta peso. Meski demikian, angka Rp14 miliar yang kerap disebut dalam kisahnya baru menghitung nilai apartemen dan uang, belum termasuk saham yang juga menjadi bagian dari warisan Marie.


















