Headline.co.id, Jakarta ~ Sitting Rising Test (SRT) menjadi metode sederhana yang dapat digunakan untuk menilai kebugaran tubuh seseorang. Tes ini tidak memerlukan peralatan khusus dan dapat dilakukan di rumah. Prosedurnya melibatkan duduk di lantai dan berdiri kembali tanpa menggunakan tangan atau lutut sebagai penopang. Tes ini memberikan gambaran tentang kekuatan otot, keseimbangan, fleksibilitas, dan koordinasi tubuh.
Menurut laporan dari Everyday Health pada Sabtu (5/9/2026), kemampuan melakukan SRT juga dikaitkan dengan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular dan penyebab alami lainnya. Untuk melakukan tes ini, seseorang harus berdiri di lantai yang datar dan tidak licin tanpa alas kaki, kemudian duduk dengan kaki disilangkan dan berdiri kembali dengan posisi yang sama. Setiap penggunaan tangan, lengan bawah, atau lutut sebagai penopang akan mengurangi satu poin dari nilai maksimal sepuluh poin.
Tes ini dikembangkan pada akhir tahun 1990-an oleh Claudio Gil Araújo, seorang dokter dan dekan penelitian di Rio de Janeiro, Brasil. Berbeda dengan tes kebugaran aerobik seperti berlari atau bersepeda, SRT menilai kebugaran non-aerobik. Amy Pastva, seorang ahli terapi fisik, menyatakan bahwa tes ini memerlukan beberapa kemampuan fisik sekaligus, seperti kekuatan otot, keseimbangan, fleksibilitas, dan koordinasi.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Penelitian yang melibatkan lebih dari 4.000 orang berusia 46-75 tahun menunjukkan hubungan skor SRT dan risiko kematian selama 12 tahun pemantauan. Peserta dengan skor sempurna 10 memiliki angka kematian sekitar 3,7 persen, sementara mereka yang mendapat skor 8 memiliki angka kematian 11,1 persen. Peserta dengan skor 4 atau lebih rendah memiliki angka kematian 42,1 persen. Setelah mempertimbangkan faktor usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, dan kondisi kesehatan, peserta dengan skor 0-4 memiliki risiko kematian akibat penyakit jantung enam kali lebih tinggi dan risiko kematian akibat penyebab alami empat kali lebih tinggi dibandingkan peserta dengan skor sempurna.




















