by

PT KAI (Persero) Daop 6 Yogyakarta Menjadi Tuan Rumah Dialog Kebangsaan Seri V

HeadLine.co.id, (Yogyakarta) – PT KAI (Persero) Daop 6 Yogyakarta mendapat kesempatan menjadi tuan rumah kegiatan Dialog Kebangsaan Seri V pada Selasa (19/2). Dialog Kebangsaan Seri V ini merupakan serangkaian acara dari Jelajah Kebangsaan yang diselenggarakan oleh Gerakan Suluh Kebangsaan yang bekerjasama dengan PT KAI (Persero). Kegiatan ini dimulai sejak tanggal 18-22 Februari 2019 dengan rute Merak hingga Banyuwangi.

Tema yang diusung dalam Dialog Kebangsaan Seri V adalah Mengokohkan Kebangsaan: “Merawat Patriotisme, Progresifitas dan Kemajuan Bangsa”. Narasumber yang dihadirkan yakni Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD., S.H., S.U, GKR Mangkubumi, Prof. Dr. M Amin Abdullah, Alissa Wahid, KH. Malik Madani, Romo Benny Susetyo Pr, dan Lukman Hakim Saifuddin.

Tujuan dari diadakannya kegiatan ini untuk mengajak berbagai elemen masyarakat dalam rangka memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Eko Purwanto selaku Executive Vice President berkesampatan memberikan sambutan. Ia menyampaikan rasa terima kasih atas nama PT KAI (Persero) khususnya daop 6 karena Jogja telah diberi kesempatan untuk bergabung menguatkan rasa kebangsaan dan persatuan Indonesia. “Mudah-mudahaan kegiatan ini dapat menjadikan Indonesia semakin jaya. Selamat datang kepada para hadirin dan mohon maaf jika ada kekurangan atau hal yang kurang berkenan,” ucapnya.

EVP PT KAI (Persero) Daop 6 Yogyakarta Eko Purwanto memberikan sambutan dalam kegiatan Dialog Kebangsaan Seri V (Foto: Wahyu Irawan)

Prof. Dr. Mahfud MD menjelaskan bahwa Indonesia merupakan anugerah Allah Yang Maha Esa dimana negara ini dibangun dalam kebersatuan oleh semua unsur-unsur bangsa. Ia mencontohkan kereta api sebagai produk dari kemerdekaan bangsa. “NKRI akan bertahan jika didukung para nasionalis dan patriot. Mari kita jaga patrotisme dan semangat kita menjaga Indonesia menjadi lebih baik lagi,” ujarnya.

Bertindak sebagai moderator adalah Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin, MA. Ia memantik diskusi dengan memberikan beberapa pertanyaan kepada para narasumber tentang patriotisme serta tantangan yang akan dihadapi oleh generasi milenial dalam memajukan bangsa. “Kita tahu bahwa Jogja memiliki ruang publik yang aman dan nyaman sehingga semua orang merasa menjadi bagian dari ruang publik tersebut,” tuturnya.

GKR Mangkubumi sebagai nara sumber pertama menjelaskan bahwa saat ini masyarakat banyaj yang sudah lupa tentang perjuangan dan sejarah yang tidak ada dalam buku. “Bicara merawat patriotisme, tujuannya adalah kemajuan bangsa sehingga masyarakat harus tahu sejarah terjadinya bumi manusia ini,” jelasnya. Ia juga menjelaskan bahwa banyak organisasi yang lahir di Yogyakarta. “Jogja punya karakter yang spesial, toleransi dan rasa kekeluargaan yang tinggi sehingga dapat membangun bumi nusantara menjadi lebih baik,” tambahnya.

Narasumber kedua yakni Malik Madani menjelaskan bahwa masalah progresifitas keaagamaan yang membedakan indonesia dengan negara muslim lainnya. “Dengan keberagaman agama, Indonesia akan tetap kuat sampai kapanpu,”. Ujarnya.

Dialog Kebangsaan bertujuan untuk merawat Patriotisme demi kemajuan bangsa (Foto: Wahyu Irawan)

Ia menambahkan sudah menjadi kewajiban bagi masyarakat untuk merawat patriotisme dan menjaga progresifitas sebagai sebagai bentuk rasa syukur atas nikamt karunia yg begitu besar dari Tuhan.

Alissa Wahid pun memberikan paparan terkait peran generasi milenial dalam merawat patriotisme demi kemajuan bangsa. “Jika pertumbuhan ekonomi negara kita seperti sekarang dan ekonomi dunia juga seperti saat ini, maka tidak menutup kemungkinan tahun 2045 kekuatan ekonomi kita bisa menjadi peringkat ke 7 di dunia,” ujarnya. Bahkan tidak menutup kemungkinan dapat masuk dalam lima peringkat teratas jika disertai dengan progresifitas. “Indonesia harus siap untuk melakukan akselerasi, bangsanya harus progresif kalau tidak dapat membawa bencana demografis,” tambahnya.

Dalam hal ini, Romo Beni mencontohkan sosok yang memiliki jiwa nasionalisme sejati adalah Sultan Hamengkubuwono IX. “Beliau memberikan semua hartanya, tenaga dan pikirannya untuk negara,” jelasnya.

Ia juga menambahkan di era digital ini, tantangan bagi generasi milenial adalah bagaimana menjadi anak muda yang berani, kreatif dan inovatif. “Saatnya berpartisipasi untuk memajukan Indonesia menjadi lebih baik, terbuka dan tidak membedakan suku agama,” ungkapnya.

Narasumber terakhir yakni Romo Haris menekankan supaya musyawarah menjadi dasar pengambilan keputusan. “Tantangan di masa depan, generasi milenial harus siap menghadapi era yang carut marut,” ucapnya.

Beberapa peserta memberikan responnya terkait kegiatan ini. Secara garis besar mereka berharap ada formulasi yang disusun oleh pemerintah dan dapat diserap sampai masyarakat bawah. Mereka juga berharap kegiatan seperti ini juga sering dilakukan di berbagai daerah, baik pulau Jawa maupun Luar Jawa.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed