Harga Gabah dan Beras Tak Manusiawi, Petani di OKU Timur Menjerit

  • Whatsapp
Masyarakat Sedang Melakukan Panen Raya Padi
Masyarakat Sedang Melakukan Panen Raya Padi

Headline.co.id (Oku Timur, Sumatera Selatan) ~ Kabupaten OKU Timur merupakan salah satu daerah yang terkenal akan penghasil beras, bahkan daerah ini memiliki julukan lumbung padi.

baca juga: Polda Lampung Luncurkan Tilang Online di 5 Titik Lokasi ini

Read More

Musim panen raya seperti saat ini merupakan hal yang ditunggu-tunggu oleh para petani di daerah tersebut, biasanya para petani menjual hasil panen berupa gabah dan beras.

Sesuai dengan peraturan Permendag 24 tahun 2020 tentang Penetapan Harga Pembelian untuk Gabah di tingkat petani sebesar Rp4.200/kg dan di tingkat penggilingan sebesar Rp4.250/kg, gabah kering giling (GKG) di tingkat penggilingan Rp5.250/kg dan di gudang Bulog sebesar Rp5.300/kg, serta beras di gudang Perum Bulog Rp8.300/kg.

Namun peraturan tersebut berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan Petani di daerah Belitang tersebut. Pasalnya para petani harus menelan pil pahit karena harga beli gabah dan beras jauh dari peraturan yang ada.

baca juga: Presiden Jokowi Tinjau Vaksinasi Massal dengan Vaksin AstraZeneca di Jombang

Muarif (32) salah seorang petani asal Belitang menyampaikan anjlok-nya harga gabah dan beras di musim panen raya seperti ini membuatnya harus gigit jari. Karena hasil jual gabah tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan olehnya dalam merawat padi.

“Gigit jari, para petani disini hanya bisa diam dan pasrah karena harga jual gabah jauh dari yang diharapkan, Sementara biaya yang kami keluarkan cukup banyak mengingat biaya perawatan akibat serangan hama dan langkanya pupuk membuat biaya para petani semakin tinggi,” ujarnya Muarif.

Ia menambahkan bahwa harga jual gabah saat ini cukup murah yakni antara Rp 3.100 sampai Rp 3.400, sementara pada musim-musim sebelumnya biasanya harga jual gabah cukup tinggi yakni kisaran Rp 4.000 hingga 4.300. Sementara untuk harga beras sendiri hanya dibeli Rp 6.700 yang mana pada musim sebelumnya harganya cukup tinggi yakni kisaran 7.900.

“Ditambah lagi saat ini pupuk langka, meskipun ada pupuk subsidi pun harganya meroket,” imbuh Muarif.

baca juga: Mau Kuota Internet? Begini Cara Dapat Bantuan Kuota Internet Dari Smartfren 2021

Muarif menuturkan bahwa stok pupuk saat ini langka, tidak semua orang bisa mencukupi kebutuhan pupuk untuk tanamannya ditambah lagi para petani harus berjuang melawan hama seperti wereng, jamur, dan busuk leher sehingga merasa kecewa dengan harga gabah dan beras saat ini.

“Harga pupuk saat ini mahalnya minta ampun dan itu pun langka, kami para petani susah untuk mendapatkannya. Biasanya pupuk urea subsidi dijual paling mahal Rp 100.000 namun saat ini harganya paling murah Rp 130.000 itu pun stoknya tidak ada. Pupuk lain juga Sp36 yang biasanya harga Rp 130 ribu saat ini harganya Rp 175 ribu itu juga stoknya susah” ungkapnya Muarif dengan jawaban lesu.

baca juga: Tanya Veronika Asisten Virtual Bot Pintar Telkomsel

Ia berharap agar harga gabah dan beras di tingkat petani bisa naik sengahnya normal seperti biasanya. Meski biasaya harga turun tapi tidak sesadis ini, apalagi sebentar lagi memasuki bulan suci ramadhan dan lebaran yang mana kebutuhan pokok juga turut naik.

“Bentar lagi puasa harga kebutuhan pokok pasti naik, sementara hasil utama dari para petani disini hanya padi, kalau harganya seperti ini bagaimana nasib kami para petani. Uangnya habis buat bayar biaya perawatan padi” ungkapnya.

baca juga: Bingung Memasukan Voucer Telkomsel? Ini Cara Isi Voucher Mudah

Di lokasi lain, Dedi (40) seorang petani asal Belitang juga mengungkapkan keluhan yang sama. Rendahnya harga gabah dan beras membuat para petani ditempatnya harus menelan pil pahit.

“Kami berharap agar pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Daerah turut memperhatikan nasib kami para petani. Semua orang butuh beras untuk makanan pokok sehari-hari namun kami para petani tidak bisa menikmati hasil kami dengan baik” ujar Dedi.

Jika dibiarkan seperti ini terus-menerus, lanjut Dedi, maka generasi muda di daerah kami engan menjadi petani karena biaya pemeliharaan tinggi sementara saat musim panen seperti ini harganya tidak manusiawi.

baca juga: Lupa No Ponsel Sendiri? Ini 3 Cara Mudah Cek Nomor Hp Telkomsel Mu

“Kami para petani sangat berharap agar pemerintah memperhatikan nasib kami para petani, Kami berharap agar ketika musim panen tiba harga beras dan gabah stabil tidak turun seperti saat ini. Selain itu kami juga berharap agar pemerintah memberikan solusi untuk pupuk yang langka. Karena kami mencukupi keluarga kami hanya dari hadi padi”, Pungkasnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *