Headline.co.id, Ristiana Artanti ~ seorang gadis berusia 19 tahun asal Karangsari, Kulon Progo, berhasil mewujudkan impiannya untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM) meski dihadapkan pada keterbatasan ekonomi. Risti, demikian ia akrab disapa, diterima di program studi Manajemen Informasi Kesehatan, Sekolah Vokasi UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Keberhasilannya ini semakin istimewa karena ia mendapatkan beasiswa Pendidikan Unggul Bersubsidi 100 persen, yang membebaskannya dari biaya kuliah.
Risti mengungkapkan rasa syukurnya atas kesempatan yang diberikan. “Kalau soal perasaan, jujur, saya bingung dan masih belum percaya Tuhan memberi kesempatan yang benar-benar saya gak bakal kira bakal bisa masuk di Universitas Gadjah Mada,” ujarnya pada Kamis, 11 Juni 2026. Kondisi ekonomi keluarganya yang tidak menentu sempat membuat Risti khawatir tidak bisa melanjutkan pendidikan. Ayahnya, Rubikan, bekerja sebagai buruh proyek dengan penghasilan yang tidak tetap, sementara ibunya, Winarni, adalah ibu rumah tangga yang sebelumnya bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga di Yogyakarta.
Selain berprestasi di bidang akademik, Risti juga aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, khususnya marching band di SMA 1 Wates. Ia telah beberapa kali memenangkan perlombaan, termasuk dua kali juara umum di tingkat kabupaten dan juara satu di tingkat provinsi. Dalam kesehariannya, Risti selalu berusaha membagi waktu dengan baik akademik dan kegiatan ekstrakurikuler. “Saya selalu disiplin membagikan waktu agar kegiatan ekstra tidak mengganggu akademik,” kenangnya.
Kedua orang tua Risti, Rubikan dan Winarni, sangat mendukung keputusan putri mereka untuk melanjutkan pendidikan. Meskipun sempat ragu karena kondisi ekonomi, mereka bangga dengan prestasi Risti yang berhasil meraih beasiswa. Winarni mengungkapkan harapannya agar Risti bisa meraih pendidikan yang lebih baik dari dirinya. “Kalau gak didukung, kan kayaknya saya teringat saya dulu. Saya dulu tuh pengen meneruskan sekolah selanjutnya, gak mampu. Orang tua saya benar-benar gak mampu. Makanya, kalau bisa, anak saya jangan seperti saya, biar bisa lebih baik lagi,” ujarnya dengan haru.
Rubikan, yang telah menjadi buruh proyek sejak 1995, juga merasa bersyukur atas pencapaian putrinya. Dengan penghasilan yang tidak menentu, ia tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarga. “Pas dia utarakan pengen kuliah itu, saya mikirnya gini, apa bisa mendanai soalnya ekonomi kita, susah kayak gini, kadang-kadang ada, kadang-kadang gak. Bisa makan tiga kali sehari itu sudah bersyukur,” ungkapnya. Dukungan penuh dari orang tua dan kerja keras Risti akhirnya membuahkan hasil, membuka jalan bagi masa depan yang lebih cerah.






