Headline.co.id, Banda Aceh ~ Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) menargetkan agar seluruh sekolah yang terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh tidak lagi menggunakan tenda sebagai ruang belajar pada akhir Juli 2026. Kepala Posko Wilayah Aceh Satgas PRR Sumatra, Safrizal Z.A., menyatakan bahwa saat ini masih ada 15 sekolah yang menggunakan tenda, namun Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sedang mempercepat pembangunan ruang kelas darurat.
Safrizal menjelaskan, “Kami berkomitmen untuk memastikan bahwa pada akhir Juli 2026, tidak ada lagi sekolah di Aceh yang harus belajar di tenda.” Berdasarkan data gabungan dari Kemendikdasmen per 9 Juni 2026 dan laporan Satgas PRR per 20 Juli 2026, sebanyak 3.120 satuan pendidikan di Aceh terdampak bencana. Dari jumlah tersebut, 3.056 sekolah telah kembali melaksanakan pembelajaran di sekolah asal.
Selain itu, 45 sekolah telah menempati ruang kelas darurat yang dibangun sebagai fasilitas sementara, sementara empat sekolah lainnya menggunakan gedung permanen untuk kegiatan belajar mengajar. Menurut Safrizal, sekolah yang masih menggunakan tenda umumnya memiliki jumlah peserta didik yang relatif sedikit. Pemerintah memprioritaskan pembangunan ruang kelas darurat sebagai solusi sementara sebelum pembangunan ruang kelas permanen dilaksanakan.
Ia menegaskan bahwa seluruh satuan pendidikan terdampak kini telah kembali menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar. Pemerintah selanjutnya berfokus menyediakan sarana belajar yang lebih layak, terutama bagi sekolah yang masih menunggu proses penyediaan lahan relokasi. Safrizal menambahkan bahwa tidak semua sekolah terdampak mengalami kerusakan bangunan. Sebagian hanya mengalami kerusakan pada peralatan belajar, mebel, buku, dan perangkat teknologi informasi sehingga tidak seluruhnya memerlukan pembangunan kembali gedung sekolah.
















