Headline.co.id, Belgrade ~ Presiden UEFA Aleksander Čeferin menolak wacana memperluas Piala Dunia 2030 menjadi 64 tim ketika FIFA masih mengkaji usulan tersebut. Sikap itu menjadi sorotan kembali pada Juli 2026 setelah dukungan terhadap penambahan peserta menguat dari kawasan Amerika Selatan. Čeferin menilai perubahan tersebut tidak hanya memengaruhi putaran final, tetapi juga dapat berdampak pada sistem kualifikasi UEFA. Hingga berita ini disusun, FIFA belum menetapkan format 64 tim sebagai keputusan resmi.
Presiden FIFA Gianni Infantino menyatakan kemungkinan format 64 tim akan diperiksa dan dibahas. Pernyataan tersebut menempatkan gagasan itu pada tahap evaluasi, bukan keputusan final, sehingga jumlah peserta Piala Dunia 2030 masih belum dapat dipastikan.
Penolakan Čeferin sebelumnya disampaikan setelah usulan penambahan peserta masuk dalam pembahasan Dewan FIFA. Berdasarkan laporan yang tersedia, Presiden UEFA itu menilai gagasan tersebut bukan pilihan yang baik bagi turnamen maupun jalur kualifikasi di Eropa.
Perbedaan waktu perlu diperhatikan karena sikap Čeferin bukan pernyataan yang baru pertama kali muncul pada Juli 2026. Namanya kembali menjadi perhatian setelah FIFA melanjutkan kajian dan wacana 64 peserta kembali dibicarakan menjelang persiapan Piala Dunia 2030.
Aleksander Čeferin Tegaskan UEFA Tidak Mendukung
Keberatan Aleksander Čeferin berpusat pada dampak perluasan terhadap mutu kompetisi. Menurut sikap yang telah disampaikannya, peningkatan jumlah peserta berpotensi memengaruhi struktur turnamen dan proses kualifikasi yang dikelola UEFA.
Čeferin juga menyoroti proses pembahasan usulan tersebut. UEFA disebut tidak mengetahui gagasan itu sebelum dibawa ke forum Dewan FIFA, sehingga muncul persoalan mengenai konsultasi antarlembaga sebelum perubahan besar dibicarakan.
Meski demikian, sikap UEFA tidak secara otomatis menghentikan pembahasan. Kewenangan menetapkan format Piala Dunia tetap berada pada FIFA melalui mekanisme pengambilan keputusan yang berlaku.
Wacana 64 Tim Kembali Menguat
Usulan memperluas Piala Dunia 2030 dikaitkan dengan peringatan seratus tahun turnamen tersebut. Piala Dunia pertama digelar pada 1930, sehingga edisi 2030 dipandang memiliki nilai historis khusus bagi sepak bola internasional.
Dukungan dari Amerika Selatan mendorong gagasan tersebut kembali dibahas. Pihak pendukung menilai edisi seratus tahun dapat menjadi momentum untuk melibatkan lebih banyak negara, sedangkan Čeferin menekankan pentingnya menjaga kualitas kompetisi.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pembahasan belum mencapai kesepakatan. FIFA masih harus mempertimbangkan kepentingan konfederasi, kesiapan penyelenggara, serta konsekuensi teknis sebelum mengambil keputusan.
FIFA Belum Menetapkan Format Piala Dunia 2030
FIFA telah membuka ruang untuk menganalisis proposal, tetapi belum menyetujuinya. Belum ada pengumuman resmi mengenai jadwal pemungutan suara, susunan grup, jumlah pertandingan, maupun pembagian kuota apabila peserta benar-benar ditambah menjadi 64 tim.
Karena belum ada keputusan, pernyataan bahwa Piala Dunia 2030 dipastikan diikuti 64 negara tidak dapat diperlakukan sebagai fakta final. Status yang tersedia masih berupa usulan yang sedang dikaji.
Ketidakpastian juga mencakup mekanisme kualifikasi. FIFA belum menjelaskan apakah tambahan peserta akan mengubah jumlah tiket setiap konfederasi atau struktur pertandingan menuju putaran final.
Status Tuan Rumah Tidak Berubah
Perdebatan jumlah peserta tidak mengubah susunan negara penyelenggara yang telah diumumkan. Spanyol, Portugal, dan Maroko menjadi tuan rumah utama, sedangkan Uruguay, Argentina, serta Paraguay memperoleh bagian dalam pertandingan peringatan seratus tahun.
Dengan demikian, isu yang masih berkembang berfokus pada format kompetisi, bukan penetapan tuan rumah. Keputusan mengenai jumlah peserta masih harus menunggu hasil kajian dan pembahasan resmi FIFA.
Sampai pengumuman berikutnya diterbitkan, Aleksander Čeferin tetap tercatat sebagai salah satu tokoh yang secara terbuka menolak perluasan. Belum terdapat informasi dalam bahan yang menunjukkan perubahan sikap Presiden UEFA tersebut.




















