Highlight Berita FSET Universitas Alma Ata Gandeng Indosat dan Google Gemini, 110 Mahasiswa Belajar AI:
Headline.co.id, Yogyakarta ~ Fakultas Sains, Rekayasa, dan Teknologi (FSET) Universitas Alma Ata memperkuat literasi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di kalangan mahasiswa melalui seminar “Airena Belajar: Smart Learning with Gemini AI”, Sabtu (18/7/2026). Kegiatan yang diselenggarakan di lingkungan kampus Universitas Alma Ata, Yogyakarta, tersebut diikuti sekitar 110 peserta yang didominasi mahasiswa FSET serta sejumlah mahasiswa dari fakultas lain.
Seminar yang digelar melalui kolaborasi Universitas Alma Ata, Indosat, dan Google Gemini itu menghadirkan Fifi Sulistyoningsih selaku Head of Branch Yogyakarta IM3 dan Henky Kurniawan selaku Head of Branch Yogyakarta 3 sebagai pemateri. Kegiatan dipandu oleh M. Fahroel Cahya R, mahasiswa Program Studi Sistem Informasi Universitas Alma Ata, sebagai pembawa acara.
Kegiatan tersebut bertujuan membantu mahasiswa memahami penggunaan AI secara kritis, etis, efektif, dan bertanggung jawab. Mahasiswa tidak hanya diperkenalkan dengan kemampuan Gemini AI, tetapi juga dibekali cara menyusun perintah atau prompt agar jawaban yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran dan konteks akademik.
Dekan FSET Universitas Alma Ata, Dr. Dadang Heksaputra, S.Kom., M.Kom., mengatakan perkembangan AI merupakan peluang strategis bagi perguruan tinggi untuk membangun ekosistem pendidikan yang lebih cerdas, inovatif, dan kreatif. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut harus tetap ditempatkan sebagai pendukung proses pembelajaran, bukan pengganti peran manusia.
“AI adalah alat mitra, bukan pengganti peran manusia dalam proses belajar-mengajar,” kata Dadang.
Menurut Dadang, mahasiswa dan dosen perlu memahami teknologi seperti Gemini AI agar tidak hanya mampu mengoperasikan aplikasi berbasis kecerdasan buatan. Pemahaman tersebut juga diperlukan untuk membangun literasi AI yang kritis, termasuk kemampuan memeriksa informasi, memahami keterbatasan teknologi, dan mempertanggungjawabkan penggunaannya dalam kegiatan akademik.
“Mahasiswa dan dosen perlu memahami Gemini AI agar memiliki literasi AI yang kritis dan mampu memanfaatkannya secara etis, efektif, dan bertanggung jawab untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, riset, dan daya saing di era Revolusi Industri 5.0,” ujarnya.
Pemateri Bekali Mahasiswa Teknik Menyusun Prompt AI
Dalam seminar tersebut, Fifi Sulistyoningsih dan Henky Kurniawan memberikan materi mengenai pemanfaatan AI sebagai pendukung proses belajar. Pembahasan diarahkan pada cara berinteraksi dengan teknologi AI agar respons yang diperoleh lebih relevan, terstruktur, dan tidak keluar dari kebutuhan pengguna.
Materi tersebut disampaikan untuk menjawab persoalan yang kerap dialami mahasiswa ketika menggunakan AI. Perintah yang terlalu singkat, tidak spesifik, atau tidak memiliki batasan sering kali menghasilkan jawaban yang kurang tepat dan tidak sesuai dengan kebutuhan akademik.
Dalam sesi pemaparan materi, peserta diingatkan bahwa kualitas respons AI sangat dipengaruhi oleh kejelasan instruksi yang diberikan pengguna.
“Prompt itu tidak sembarangan, dia memiliki seni,” demikian salah satu penekanan yang disampaikan dalam sesi materi.
Seni menyusun prompt tersebut mencakup lima unsur penting, yakni menetapkan tugas secara spesifik, menentukan peran yang harus dijalankan AI, menjelaskan format jawaban yang diharapkan, memberikan larangan secara tegas, serta menetapkan batasan konteks pembahasan.
Pembatasan konteks diperlukan agar respons AI tidak keluar dari materi, silabus, maupun tujuan pembelajaran yang sedang dipelajari mahasiswa. Melalui pendekatan tersebut, AI diharapkan tidak digunakan sekadar sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan tugas.
Teknologi AI harus dimanfaatkan sebagai rekan belajar yang membantu mahasiswa menggali informasi, memahami materi, mengembangkan gagasan, dan menguji hasil pemikiran secara lebih kritis.
Seminar Beri Ruang Praktik Penggunaan Gemini AI
Selain menerima materi, peserta memperoleh kesempatan untuk langsung mempraktikkan teknik penggunaan Gemini AI. Seluruh mahasiswa yang hadir mendapatkan kartu perdana Indosat serta akses khusus menuju Gemini Pro sebagai fasilitas pendukung kegiatan.
Praktik langsung tersebut menjadi bagian penting dalam seminar karena peserta dapat mencoba menyusun prompt berdasarkan unsur-unsur yang telah dijelaskan. Mahasiswa juga dapat melihat perbedaan hasil jawaban AI antara instruksi yang bersifat umum dan instruksi yang disusun secara terarah.
Jalannya kegiatan dipandu oleh M. Fahroel Cahya R, mahasiswa Sistem Informasi Universitas Alma Ata. Keterlibatan mahasiswa sebagai pembawa acara turut memperkuat partisipasi peserta dalam kegiatan yang membahas perkembangan teknologi dan kebutuhan pembelajaran di lingkungan kampus.
AI Dinilai Mampu Mendukung Pembelajaran dan Riset
Dadang menjelaskan bahwa AI dapat memberikan sejumlah manfaat konkret dalam kegiatan perguruan tinggi. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk membantu proses riset dan penulisan akademik, memberikan penjelasan materi yang lebih personal, serta mendukung produktivitas dosen.
Pemanfaatan AI dalam pekerjaan administratif dan penyusunan materi juga berpotensi memberikan lebih banyak waktu bagi dosen untuk melakukan pendampingan langsung kepada mahasiswa. Meskipun demikian, setiap informasi yang dihasilkan AI harus tetap diperiksa dan tidak dapat langsung dianggap benar.
FSET Universitas Alma Ata telah mengintegrasikan pengenalan teknologi AI melalui seminar dan pelatihan penggunaan Google AI, termasuk Gemini dan NotebookLM, bagi mahasiswa Program Studi Informatika dan Sistem Informasi.
Fakultas juga merencanakan perluasan pemanfaatan AI untuk mendukung kegiatan riset dan pelayanan akademik. Pengembangan tersebut akan dilakukan dengan tetap memperhatikan kebutuhan pembelajaran, kesiapan pengguna, dan prinsip integritas akademik.
FSET Alma Ata Tekankan Transparansi dan Etika Akademik
Dalam penerapannya, FSET menempatkan etika akademik sebagai unsur penting. Fakultas mendorong transparansi melalui deklarasi penggunaan AI, peningkatan literasi dosen, serta penerapan metode penilaian autentik dan berbasis proyek.
Mahasiswa juga perlu memahami bahwa AI hanya boleh digunakan sebagai alat bantu. Mereka tetap memiliki tanggung jawab untuk melakukan verifikasi kebenaran informasi, menjaga keaslian karya, serta mengembangkan kemampuan analisis dan kreativitas.
“Batasan penggunaan AI adalah bahwa AI hanya boleh digunakan sebagai alat bantu, bukan pengganti proses berpikir, dengan kewajiban transparansi, verifikasi kebenaran informasi, dan tetap mengutamakan pencapaian tujuan pembelajaran seperti kemampuan analisis dan kreativitas,” jelas Dadang.
Untuk mencegah penyalahgunaan AI dalam pengerjaan tugas, fakultas mendorong penyusunan tugas yang bersifat personal dan kontekstual. Penilaian juga dapat dilakukan dengan melihat keseluruhan proses belajar melalui presentasi, ujian lisan, maupun penjelasan langsung mahasiswa terhadap karya yang dibuat.
Langkah tersebut disertai edukasi mengenai plagiarisme konseptual dan penerapan sanksi akademik apabila ditemukan pelanggaran. Karya yang dihasilkan AI tetap dapat menimbulkan persoalan akademik apabila digunakan tanpa proses berpikir, verifikasi, dan transparansi.
Mahasiswa Belajar Mengendalikan Penggunaan AI
Ketua Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi Universitas Alma Ata, Ali Rafsanjani, menilai seminar tersebut memberikan wawasan baru bagi mahasiswa mengenai cara mengendalikan dan mengarahkan teknologi AI.
“Kolaborasi dalam seminar Airena Belajar ini sangat luar biasa dan memberikan insight baru bagi kita semua. Mahasiswa tidak hanya mengenal AI sebagai alat bantu instan, tetapi juga belajar mengendalikan dan mengarahkannya,” tutur Ali.
Menurut Ali, pemahaman tersebut dapat menjadi fondasi untuk membentuk ekosistem pembelajaran yang adaptif. Kemajuan teknologi diharapkan dapat berjalan beriringan dengan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.
Literasi AI Diharapkan Memperkuat Daya Saing Mahasiswa
Dadang berharap seminar tersebut dapat membentuk budaya pemanfaatan AI yang positif dan etis di lingkungan kampus. Mahasiswa juga diharapkan mampu meningkatkan kualitas karya akademik sekaligus mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja yang semakin terhubung dengan teknologi.
Menurutnya, perkembangan AI perlu diimbangi dengan penguasaan kompetensi manusia yang tidak mudah digantikan mesin. Kompetensi tersebut meliputi kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, literasi AI, etika digital, dan kemauan untuk terus belajar sepanjang hayat.
FSET Universitas Alma Ata berharap seminar tersebut menjadi awal kolaborasi berkelanjutan antara fakultas, mahasiswa, dan mitra teknologi. Kolaborasi itu diharapkan dapat memperkuat penggunaan AI untuk kegiatan pembelajaran, penelitian, dan pelayanan akademik tanpa mengabaikan integritas serta tanggung jawab pengguna.


















