Headline.co.id, Jogja ~ Universitas Gadjah Mada (UGM) terus berupaya memperkuat tata kelola akademik guna meningkatkan reputasi globalnya. Ketua Senat Akademik UGM, Prof. Dr. Sulistiowati, S.H., M.Hum, menegaskan bahwa Senat Akademik berperan strategis dalam merumuskan kebijakan akademik yang menjadi dasar pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kebijakan ini mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Pada Senin (14/7), Sulistiowati menyampaikan hal ini saat menerima kunjungan studi banding dari Senat Akademik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di Gedung Pusat UGM.
Selama periode 2021–2026, Senat Akademik UGM telah menyusun berbagai naskah akademik melalui lima komisi yang dimiliki. Rekomendasi yang dihasilkan diarahkan untuk memperkuat mutu pendidikan, mendorong hilirisasi hasil riset, dan meningkatkan tata kelola universitas. Salah satu fokus utama adalah peningkatan reputasi internasional UGM melalui kebijakan akademik yang terintegrasi. “Kami menempatkan upaya menuju Top 100 dunia sebagai agenda penting yang harus didukung melalui berbagai kebijakan akademik,” ujar Sulistiowati.
Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Riset
Sulistiowati menekankan bahwa pencapaian reputasi global tidak hanya bergantung pada peringkat universitas. UGM juga berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan, penelitian, dan publikasi ilmiah. Mahasiswa pascasarjana didorong untuk menghasilkan publikasi ilmiah bereputasi internasional. Selain itu, penguatan riset dilakukan melalui pengembangan research flagship dan perluasan jejaring kolaborasi global. “Mustahil UGM dapat mencapai Top 100 dunia tanpa dukungan pendanaan yang memadai dan kolaborasi riset internasional yang semakin kuat,” katanya.
Transformasi Tata Kelola di Era Kecerdasan Artifisial
Senat Akademik UGM juga menaruh perhatian pada transformasi tata kelola perguruan tinggi di era kecerdasan artifisial. UGM mendorong pengembangan konsep Intelligent University dan penguatan kerja sama dengan berbagai pihak. Kebijakan ini disusun dengan mempelajari praktik terbaik dari universitas kelas dunia agar dapat diadaptasi sesuai kebutuhan UGM. “Kami mempelajari praktik perguruan tinggi modern untuk melihat strategi dan infrastruktur yang dapat diadaptasi agar tata kelola UGM semakin maju,” ungkap Sulistiowati.
Evaluasi Program Studi dan Integritas Akademik
Dalam diskusi mengenai relevansi program studi di era kecerdasan artifisial, Sulistiowati menjelaskan bahwa evaluasi terus dilakukan terhadap seluruh program studi. Keputusan untuk menutup suatu program studi memerlukan kajian yang matang. Evaluasi dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat dan perkembangan keilmuan. “Kalau memang suatu program studi sudah sangat kritis dan membebani, tentu harus dipertimbangkan langkah terbaik,” tegasnya.
Untuk menjaga integritas akademik di tengah perkembangan teknologi kecerdasan artifisial, UGM telah menerbitkan panduan etika pemanfaatan AI. Panduan ini mengatur penggunaan AI dalam kegiatan pendidikan, penelitian, dan pembelajaran. “Kita tidak bisa melepaskan diri dari AI, tetapi keputusan akademik tetap harus berada di tangan manusia dengan tetap menjunjung tinggi etika dan integritas akademik,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Senat UMY, Prof. Dr. Halim Purnomo, M.Pd.I., menyampaikan apresiasinya atas keterbukaan UGM dalam berbagi pengalaman. Ia berharap diskusi ini menjadi awal kolaborasi yang lebih erat kedua perguruan tinggi dalam mengembangkan tata kelola akademik yang semakin berkualitas. “Mudah-mudahan ini bisa menjadi kekuatan kami untuk mengikuti jejak kesuksesan Universitas Gadjah Mada,” pungkasnya.


















