Headline.co.id, Julian Yusmar Dima Huda ~ pemuda asal Desa Raenalulu, Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, berhasil meraih kesempatan kuliah gratis di Universitas Gadjah Mada (UGM) tanpa melalui tes. Yusmar, yang dibesarkan oleh kakek dan neneknya setelah kehilangan kedua orang tuanya, diterima di program studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Kesempatan ini semakin istimewa dengan beasiswa UKT pendidikan unggul bersubsidi 100% yang diterimanya.
Sejak kecil, Yusmar menghadapi berbagai keterbatasan, termasuk dalam hal pendidikan. Kakeknya, Rehabeam Wadu Dima, bekerja sebagai petani, sementara neneknya, Welmintje Wila Magga, berjualan kue. Meski demikian, Yusmar tetap bersemangat mengejar pendidikan. “Saya baru bisa membaca saat kelas 5 SD dan baru belajar Bahasa Inggris di SMA,” ungkapnya. Semangatnya untuk belajar semakin meningkat setelah mengikuti Duta Siswa Indonesia saat kelas 12 SMA, yang membuka matanya akan pentingnya pendidikan tinggi.
Aktivitas dan Prestasi di SMA
Selama di SMA, Yusmar aktif dalam berbagai kegiatan, termasuk organisasi pramuka dan OSIS. Ia juga berpartisipasi dalam berbagai kompetisi, meski harus mendaftar secara mandiri setelah dua tahun menunggu kesempatan dari sekolah. “Saya tidak mau menyesal, jadi saya mulai daftar sendiri ikut berbagai lomba,” jelasnya. Meski sibuk, ia tetap menjaga prestasi akademiknya dengan belajar pada dini hari.
Motivasi dan Pilihan Studi
Yusmar memilih Ilmu Komunikasi karena minatnya dalam berkomunikasi dan membuat konten di media sosial. Ia melihat prospek kerja yang sesuai dengan cita-citanya. “Saya ingin keluar dari zona nyaman dan membuktikan bahwa anak-anak dari daerah 3T juga mampu bersaing di perguruan tinggi terbaik,” katanya.
Pesan untuk Generasi Muda
Yusmar berpesan kepada generasi muda agar tidak menjadikan keterbatasan sebagai penghalang untuk bermimpi. Menurutnya, keberanian untuk mencoba adalah langkah awal dalam mewujudkan cita-cita. “Nikmati prosesnya, jangan hanya mengejar hasilnya saja. Jangan mengecilkan mimpi kalian hanya karena berasal dari daerah 3T atau memiliki keterbatasan ekonomi,” pungkasnya.
Kisah Yusmar menjadi inspirasi bagi banyak orang, menunjukkan bahwa dengan tekad dan usaha, mimpi untuk meraih pendidikan tinggi dapat terwujud meski dalam keterbatasan.


















