Headline.co.id, Jogja ~ Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax yang berlaku sejak 10 Juni 2026 menimbulkan kekhawatiran di berbagai sektor, termasuk pertanian dan pangan. Meskipun tidak semua kegiatan pertanian menggunakan Pertamax secara langsung, kenaikan harga BBM ini berpotensi meningkatkan biaya di berbagai mata rantai agribisnis. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha di sektor hulu, tetapi juga dapat memengaruhi distribusi dan pemasaran hasil pertanian, yang pada akhirnya dapat menekan keuntungan pelaku usaha dan berdampak pada harga yang diterima konsumen.
Dr. Hani Perwitasari, S.P., M.Sc, dosen Program Studi Sosial Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, menilai bahwa kenaikan harga Pertamax berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap sektor agribisnis. Menurutnya, mobilitas pangan sangat bergantung pada transportasi, sehingga perubahan biaya energi akan memengaruhi berbagai pihak dalam rantai pasok pangan. Mulai dari produsen, pelaku distribusi, hingga pedagang, semuanya berpotensi menghadapi tambahan biaya operasional. “Pasti dampaknya besar karena mobilitas pangan menggunakan transportasi yang membutuhkan BBM. Pada akhirnya biaya bertambah dan keuntungan pelaku usaha berkurang,” ujarnya, Kamis (18/6).
Hani menjelaskan bahwa dampak kenaikan BBM dapat dirasakan di sepanjang rantai agribisnis, mulai dari proses produksi, pascapanen, distribusi, hingga pemasaran. Setiap tahapan memerlukan dukungan energi dan transportasi yang tidak sedikit, sehingga perubahan harga BBM akan memengaruhi struktur biaya usaha. Namun demikian, sektor distribusi diperkirakan menjadi bagian yang paling rentan terdampak karena berkaitan langsung dengan mobilitas barang dari sentra produksi menuju pasar. Semakin jauh jarak distribusi, semakin besar pula potensi kenaikan biaya yang harus ditanggung pelaku usaha. “Di dalam rantai pemasaran atau value chain, mulai dari produksi, pascapanen, distribusi hingga pemasaran pasti terdampak dengan adanya kenaikan BBM ini,” katanya.
Meski demikian, Hani menilai kenaikan biaya operasional tidak serta-merta diikuti oleh kenaikan harga pangan di tingkat konsumen. Pelaku usaha umumnya akan berupaya mempertahankan daya beli masyarakat dengan berbagai penyesuaian sebelum menaikkan harga jual produknya. Beberapa strategi yang kerap dilakukan lain menekan margin keuntungan, mengurangi ukuran produk, atau melakukan efisiensi pada proses usaha. Langkah tersebut dipilih untuk menghindari beralihnya konsumen ke produk lain yang lebih murah. “Kadang lebih mudah mengurangi kualitas atau ukuran produk daripada langsung menaikkan harga karena pelaku usaha juga mempertimbangkan respons konsumen,” jelasnya.
Menurut Hani, tekanan akibat kenaikan biaya energi berpotensi dirasakan oleh berbagai kelompok masyarakat, terutama pelaku usaha kecil dan rumah tangga berpendapatan rendah. Ia mencontohkan pelaku usaha pengolahan kopi yang menghadapi kenaikan berbagai biaya produksi, namun belum dapat menaikkan harga jual produknya karena mempertimbangkan kondisi pasar. Situasi tersebut menunjukkan bahwa pelaku usaha sering kali harus menyerap sebagian beban kenaikan biaya agar tetap mampu mempertahankan pelanggan. Akibatnya, keuntungan yang diperoleh menjadi semakin terbatas. “Input produksi meningkat, tetapi pelaku usaha belum tentu bisa langsung menaikkan harga karena ada pertimbangan daya beli konsumen,” tuturnya.
Untuk mengurangi dampak gejolak harga energi terhadap sektor pangan, Hani menekankan pentingnya dukungan pemerintah yang tepat sasaran, khususnya bagi kelompok masyarakat menengah ke bawah. Selain itu, penguatan produksi dalam negeri dan peningkatan kemandirian pangan perlu terus didorong agar Indonesia tidak terlalu rentan terhadap fluktuasi harga global. Menurutnya, kemampuan memenuhi kebutuhan dari produksi domestik akan membantu menjaga stabilitas ekonomi sekaligus meningkatkan daya saing nasional. Dengan demikian, dampak perubahan harga energi di pasar internasional dapat diminimalkan. “Ketika kita semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan dan mengurangi ketergantungan terhadap impor, maka pengaruh fluktuasi harga global juga dapat ditekan,” pungkasnya.





















