Headline.co.id, Jogja ~ Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan peternak sapi perah tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi susu segar. Peternak perlu didorong untuk terlibat dalam proses hilirisasi, mulai dari pengolahan, pengemasan, hingga pemasaran produk susu bernilai tambah agar dapat meraih manfaat ekonomi yang lebih besar.
Dosen Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Satyaguna Rakhmatulloh, S.Pt., M.Sc., IPP., menilai bahwa selama ini peternak masih berada pada posisi paling awal dalam rantai nilai persusuan. Menurutnya, peternak hanya berperan sebagai pemasok bahan baku, sementara nilai tambah terbesar justru dinikmati oleh sektor hilir yang menguasai teknologi pengolahan, merek, kemasan, dan distribusi.
Satyaguna menyebutkan bahwa peningkatan produksi tanpa penguatan posisi peternak dalam rantai nilai hanya akan memperbesar pasokan susu segar tanpa jaminan peningkatan kesejahteraan. “Karena itu, transformasi peran peternak menjadi pelaku usaha produk olahan susu perlu menjadi agenda utama pembangunan persusuan nasional,” ujarnya pada Kamis (18/6).
Ia mengungkapkan bahwa salah satu strategi yang dapat ditempuh adalah diversifikasi produk susu. Susu segar dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti susu pasteurisasi, yoghurt, es krim, puding susu, keju, hingga produk pangan fungsional. Diversifikasi ini dilakukan secara bertahap sesuai kapasitas kelompok ternak dan kebutuhan pasar agar mampu meningkatkan posisi tawar peternak sekaligus memperpanjang daya simpan produk.
Namun demikian, Satyaguna menegaskan bahwa keberhasilan hilirisasi tidak hanya bergantung pada ketersediaan peralatan. Ia menekankan pentingnya pelatihan dan pendampingan berkelanjutan yang mencakup aspek teknis pengolahan susu, manajemen usaha, pemasaran digital, hingga pengurusan legalitas usaha. “Program pemberdayaan yang hanya bersifat seremonial tidak cukup untuk membangun kemandirian peternak,” sebutnya.
Selain itu, penguatan kelompok ternak dan koperasi menjadi faktor penting dalam mendukung hilirisasi. Menurutnya, kelompok ternak perlu berkembang menjadi kelembagaan ekonomi yang mampu mengelola produksi, pengolahan, pemasaran, dan pengendalian mutu secara profesional. Satyaguna menyebutkan bahwa melalui kerja kolektif, peternak dapat memperkuat posisi tawar sekaligus mengakses dukungan pemerintah, perguruan tinggi, lembaga pembiayaan, dan industri.
Satyaguna juga menyoroti pentingnya pemberdayaan perempuan dalam rantai nilai susu. Perempuan memiliki peran strategis dalam produksi, pengemasan, administrasi, hingga pemasaran produk olahan susu. Keterlibatan perempuan dapat memperkuat ekonomi keluarga peternak sekaligus mendorong terciptanya usaha yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Ia menyebutkan bahwa dalam mewujudkan hilirisasi yang berkelanjutan, diperlukan kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, koperasi, dan dunia usaha. Dukungan berupa pelatihan, pembiayaan, penguatan kelembagaan, pengembangan pasar, serta pendampingan teknologi menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem persusuan yang lebih adil bagi peternak. “Peternak sapi perah harus menjadi subjek utama hilirisasi, bukan sekadar pemasok bahan baku,” urainya.
Satyaguna menaksir bahwa hilirisasi berbasis kelompok ternak dapat meningkatkan produksi susu. Selain itu, juga dapat menaikkan kelas menjadi pelaku usaha yang mandiri, berdaya saing, dan berkontribusi pada kemandirian susu nasional. “Dengan keterlibatan dalam pengolahan dan pemasaran produk susu, peternak dapat menikmati nilai tambah yang selama ini lebih banyak dinikmati sektor hilir,” ujar Satyaguna.


















