Highlight Berita:
- UMY mencatat penurunan jumlah pendaftar mahasiswa baru sejak 2022.
- Jumlah pendaftar turun dari hampir 25 ribu menjadi sekitar 18 ribu orang.
- Tahun 2026 menjadi periode dengan penurunan tertinggi, mencapai 20-25 persen.
- Rektor UMY menilai besarnya kuota jalur mandiri PTN menjadi salah satu penyebab utama. UMY merespons kondisi tersebut dengan membuka prodi baru seperti AI, Bisnis Digital, dan Psikologi.
Headline.co.id, Jogja ~ Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mencatat penurunan jumlah pendaftar mahasiswa baru dalam beberapa tahun terakhir. Tren penurunan tersebut bahkan mencapai sekitar 20 hingga 25 persen pada tahun 2026 dan menjadi angka terendah sejak 2022. Rektor UMY Prof Dr Achmad Nurmandi menilai salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah besarnya kuota jalur mandiri di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang masih membuka penerimaan hingga pertengahan tahun. Kondisi ini disampaikan Nurmandi saat ditemui di Kampus UMY, Bantul, Selasa (9/6/2026).
Menurut Nurmandi, jumlah pendaftar mahasiswa baru di UMY terus mengalami penurunan dalam lima tahun terakhir. Jika sebelumnya jumlah pendaftar mencapai hampir 25 ribu orang, pada tahun lalu jumlahnya hanya sekitar 18 ribu orang.
“Sejak 2022 itu menurun. Dulu pendaftar kita hampir 25 ribu, lalu menurun-menurun. Tahun kemarin pendaftar hanya 18 ribu. Jadi turun hampir 4.000 sampai 5.000 pendaftar sejak lima tahun belakangan ini,” ujar Nurmandi dilansir Headline.co.id dari Detik Jogja.
Penurunan tersebut juga masih berlanjut pada tahun akademik 2026. Hingga saat ini, UMY mencatat jumlah pendaftar sekitar 12 ribu orang, termasuk sekitar 3.000 calon mahasiswa yang mendaftar melalui jalur beasiswa.
Dari total pendaftar tersebut, UMY telah menerima sekitar 5.000 calon mahasiswa. Namun, jumlah yang telah melakukan daftar ulang masih berada di angka sekitar 2.000 orang atau sekitar 40 persen dari total mahasiswa yang diterima.
“Yang diterima lebih kurang 5.000, tapi yang daftar ulang baru 2.000. Jadi hanya sekitar 40 persen yang daftar ulang,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa penurunan jumlah pendaftar tahun ini menjadi yang paling signifikan dibandingkan beberapa tahun terakhir.
“Penurunan hampir 20-25 persen untuk tahun ini. Paling rendah ya (2026) ini sejak 2022 itu,” tegas Nurmandi.
Lebih lanjut, Nurmandi menilai sistem penerimaan mahasiswa baru di PTN menjadi salah satu faktor yang memengaruhi minat calon mahasiswa untuk segera menentukan pilihan di perguruan tinggi swasta. Menurutnya, kuota jalur mandiri yang mencapai lebih dari 50 persen membuat banyak calon mahasiswa masih menunggu peluang masuk PTN hingga akhir Juli.
“Mereka mendaftar ke banyak perguruan tinggi. Jalur mandiri sekarang kan banyak yang tidak ada tes lagi, cukup seleksi rapor, nilai UTBK, dan sebagainya. Persepsi masyarakat masih memilih PTN. Padahal sebenarnya biaya PTN sekarang bisa lebih mahal daripada PTS. Anggapan kualitas PTN lebih baik juga belum tentu demikian,” katanya.
Atas kondisi tersebut, UMY mengusulkan adanya evaluasi terhadap mekanisme penerimaan mahasiswa baru nasional. Salah satu usulan yang disampaikan adalah peninjauan kembali kuota jalur mandiri PTN serta penyatuan jadwal penerimaan mahasiswa baru agar proses seleksi tidak berlangsung terlalu panjang.
“Mungkin penerimaan mahasiswa baru bisa disatukan seperti di negara lain. Kemudian kuota mandiri perlu ditinjau kembali, apakah benar meningkatkan kualitas atau tidak,” ujarnya.
Di sisi lain, UMY juga menyiapkan langkah internal untuk menjaga daya tarik kampus di tengah persaingan yang semakin ketat. Strategi yang ditempuh antara lain dengan membuka program studi baru yang dinilai relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan zaman.
Program studi yang telah dibuka di antaranya Psikologi, Bisnis Digital, Artificial Intelligence (AI), serta Kepelatihan Pendidikan Olahraga. Selain itu, UMY juga tengah mempertimbangkan pengembangan program studi baru lainnya.
“Strategi kita secara internal itu menambah prodi-prodi yang kita anggap dibutuhkan masyarakat. Misalnya kepelatihan olahraga, AI, bisnis digital, psikologi, mungkin nanti kriminologi dan peace and conflict,” pungkasnya.








