Headline.co.id, Yogyakarta ~ Di tengah ancaman krisis air dan meningkatnya eksploitasi air tanah, seorang perempuan di Dusun Tempursari, Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengambil langkah sederhana dengan menampung air hujan. Sri Wahyuningsih, yang akrab disapa Bu Ning, mendirikan Sekolah Air Hujan Banyu Bening lebih dari satu dekade lalu untuk mengampanyekan pemanfaatan air hujan sebagai solusi ketahanan air masyarakat.
Bu Ning melihat air bukan hanya sebagai sumber daya, tetapi juga bagian penting dari kebudayaan dan masa depan bangsa. “Indonesia punya dua musim dengan potensi air luar biasa. Tapi saat hujan banjir, saat kemarau kekeringan. Dari situ kami mulai berpikir bagaimana masyarakat punya lumbung air sendiri,” ujarnya. Ia menggunakan istilah “sekolah” agar masyarakat penasaran dan tertarik untuk belajar.
Bu Ning berharap anak-anak tetap memiliki karakter yang dekat dengan budaya dan peduli lingkungan. “Harapannya masyarakat bisa punya akses air yang mudah dan gratis tanpa harus mengeksploitasi air tanah terus-menerus,” tambahnya. Sistem penampungan air hujan yang dikembangkan Bu Ning melibatkan beberapa tahap penyaringan. “Filter pertama untuk menyaring kotoran dan hewan kecil. Filter kedua memisahkan air hujan awal agar tidak masuk ke tampungan utama. Ketiga, sebelum masuk tandon difilter lagi,” jelasnya.
Dengan metode ini, air hujan dapat dimanfaatkan dan diubah menjadi air yang bisa diminum tanpa harus direbus. “Penghargaan tertinggi bagi kami adalah ketika masyarakat mulai sadar kondisi air hari ini dan tahu apa yang harus dilakukan,” tuturnya. Bu Ning berharap gerakan konservasi air hujan ini dapat terus berkembang sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan air dan memperkuat kemandirian masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim, sejalan dengan program prioritas nasional untuk lingkungan berkelanjutan.






















