Headline.co.id, Jakarta ~ Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, berencana menggandeng misionaris Indonesia di berbagai negara untuk memperluas penggunaan Bahasa Indonesia di tingkat internasional. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, saat menerima kunjungan dari Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yang didampingi oleh Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) di Kantor Badan Bahasa, Jakarta, sebagaimana disampaikan dalam siaran pers yang diterima pada Jumat (8/5/2026).
Hafidz Muksin menyatakan harapannya agar para misionaris Indonesia dapat berperan sebagai duta bahasa di negara-negara tempat mereka bertugas. Kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari penggunaan resmi Bahasa Indonesia oleh Takhta Suci Vatikan melalui Vatican News, yang dimulai dengan penandatanganan nota kesepahaman Komisi Komsos KWI dan Dikasteri Komunikasi Vatikan pada Maret 2026.
Dalam pertemuan tersebut, Hafidz didampingi oleh Sekretaris Badan Bahasa, Ganjar Harimansyah, serta Kepala Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra, Iwa Lukmana. Sementara itu, pihak KWI diwakili oleh Petrus Noegroho Agoeng bersama sejumlah pengurus dan perwakilan PWKI. Rm Petrus Noegroho Agoeng menyambut baik inisiatif ini, namun menekankan pentingnya melibatkan berbagai lembaga gereja seperti keuskupan, tarekat, kongregasi, dan ordo dalam implementasi kerja sama tersebut.
Menurut Petrus, para misionaris tidak hanya menjalankan misi keagamaan, tetapi juga berfungsi sebagai penghubung budaya Indonesia di negara-negara tempat mereka bertugas. “Mereka belajar budaya dan bahasa negara tujuan misi, sekaligus memperkenalkan budaya dan Bahasa Indonesia kepada masyarakat setempat,” tambahnya.
AM Putut Prabantoro, pendiri PWKI, menjelaskan bahwa Indonesia adalah salah satu negara pengirim misionaris terbesar di dunia. Ia menilai penggunaan Bahasa Indonesia secara resmi di Vatican News dapat memperkuat akses informasi para misionaris terhadap berbagai dokumen penting Takhta Suci. “Vatikan merupakan negara kedua setelah Amerika Serikat yang memiliki hubungan diplomatik terbanyak, yakni dengan 186 negara. Jadi ini bukan hanya soal agama, tetapi juga soft diplomacy,” kata Putut.
Hafidz menegaskan bahwa kerja sama Badan Bahasa, KWI, dan PWKI tidak hanya terbatas pada penerjemahan berita atau dokumen resmi Vatikan, tetapi juga dapat dikembangkan dalam bentuk diplomasi budaya melalui media, radio, podcast, hingga fasilitasi Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) bagi para misionaris. “Bahasa Indonesia dibawa para misionaris sebagai duta budaya dan pengajar bahasa Indonesia di tempat misi mereka,” jelasnya.
Di tempat terpisah, Ketua PWKI, Asni Ovier Dengen Paluin, menjelaskan bahwa penguatan jejaring misionaris Indonesia di dunia telah dimulai melalui pembentukan komunitas Sahabat Misionaris Indonesia atau Samindo. Komunitas ini dibentuk sejak masa pandemi COVID-19 untuk menjadi ruang komunikasi bagi para misionaris Indonesia yang bertugas di berbagai negara.
Yophiandi Kurniawan menyebutkan bahwa grup komunikasi Samindo dibentuk pada 3 Juni 2021 dan hingga kini terus menjadi wadah koordinasi serta dukungan bagi para misionaris. Ia juga menyebutkan bahwa Samindo mendapat dukungan dari sejumlah tokoh gereja di Nusa Tenggara Timur, termasuk Budi Kleden. Upaya penguatan Bahasa Indonesia melalui jejaring misionaris ini dinilai sejalan dengan Asta Cita pemerintah dalam memperkuat diplomasi budaya, memperluas pengaruh Indonesia di tingkat global, serta memperkokoh identitas nasional melalui bahasa dan kebudayaan.




















