Headline.co.id, Kulon Progo ~ Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulon Progo menemukan satu kasus suspek hantavirus di wilayah Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Meski hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan pasien negatif hantavirus, Dinkes tetap meningkatkan kewaspadaan lantaran ditemukan sejumlah tikus yang terkonfirmasi positif membawa virus tersebut. Temuan itu menjadi perhatian karena hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan pengerat ke manusia melalui paparan kotoran atau urine tikus. Pemerintah meminta masyarakat, khususnya warga di wilayah dekat persawahan, meningkatkan kebersihan lingkungan dan menerapkan perlindungan diri saat beraktivitas.
Kepala Dinkes Kulon Progo, Susilaningsih, membenarkan adanya satu pasien yang sempat diduga terpapar hantavirus setelah mengalami gejala seperti demam, nyeri otot, dan mual.
“Kemarin memang ada satu suspek, tetapi hasilnya negatif,” ujar Susilaningsih, Jumat (8/5).
Meski hasil laboratorium negatif, Dinkes tetap mewaspadai potensi penyebaran hantavirus di Kulon Progo. Pasalnya, hasil pemantauan menemukan beberapa tikus di wilayah tersebut positif membawa virus hantavirus.
Menurut Susilaningsih, kondisi itu menunjukkan bahwa potensi penularan penyakit masih terbuka karena hewan pengerat menjadi media utama penyebaran virus.
“Hantavirus tidak menular antar manusia. Penularannya dari hewan inang ke manusia,” katanya.
Ia menjelaskan, karakteristik penularan tersebut membuat risiko wabah besar relatif kecil terjadi di Indonesia. Namun demikian, masyarakat tetap diminta tidak lengah karena virus dapat menginfeksi manusia melalui paparan debu yang tercemar kotoran tikus maupun kontak langsung dengan urine tikus.
Data Dinkes Kulon Progo juga mencatat hantavirus telah ditemukan di wilayah DIY. Pada tahun 2025, terdapat enam kasus positif hantavirus yang ditemukan di kabupaten lain di DIY.
Susilaningsih mengatakan hingga saat ini belum tersedia pengobatan khusus untuk pasien hantavirus. Penanganan medis lebih difokuskan pada pemeriksaan laboratorium, pengobatan gejala, serta tindakan suportif untuk membantu pemulihan pasien.
“Belum ada pengobatan khusus,” ungkapnya.
Dinkes Kulon Progo saat ini lebih memprioritaskan langkah pencegahan, terutama melalui pengendalian populasi tikus sebagai vektor penular penyakit. Upaya itu difokuskan pada wilayah rawan, terutama permukiman yang berada di sekitar area persawahan.
Selain itu, masyarakat diminta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) untuk mengurangi risiko penularan. Petani dan warga yang beraktivitas di area rawan juga diimbau menggunakan alat pelindung diri (APD).
Utamanya, penggunaan sepatu khusus bagi petani dinilai penting agar kulit tidak bersentuhan langsung dengan urine tikus yang berpotensi membawa virus.
Hantavirus sendiri dikenal sebagai penyakit zoonosis atau penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia. Gejalanya mirip demam biasa, namun dalam kondisi tertentu dapat berkembang menjadi gangguan serius seperti gagal ginjal maupun gangguan paru-paru.
Karena itu, Dinkes mengingatkan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan rumah, mengurangi populasi tikus, serta menghindari kontak langsung dengan kotoran hewan pengerat guna menekan risiko penularan hantavirus di Kulon Progo.























