Headline.co.id, Pekanbaru ~ Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, menekankan pentingnya kesiapsiagaan seluruh daerah di Provinsi Riau dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ia menegaskan bahwa tidak boleh ada perbedaan tingkat kesiapsiagaan di tengah ancaman musim kemarau ekstrem yang diperkirakan akan datang.
Pernyataan ini disampaikan dalam rapat koordinasi kesiapsiagaan karhutla yang berlangsung di Aula Tribrata Polda Riau, Kota Pekanbaru, pada Senin (27/4/2026). SF Hariyanto mengungkapkan bahwa menurut data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun 2026 diprediksi lebih kering dari biasanya, datang lebih awal, dan berlangsung lebih lama akibat pengaruh El Niño.
“Kondisi ini harus diantisipasi secara serius karena berpotensi meningkatkan risiko karhutla di berbagai wilayah,” ujarnya. Pemerintah Provinsi Riau telah menetapkan status siaga darurat karhutla sejak 13 Februari hingga 30 November 2026. Dari 12 kabupaten/kota di Riau, 10 daerah telah menetapkan status siaga, sementara dua daerah lainnya, yaitu Kota Pekanbaru dan Kabupaten Kuantan Singingi, belum menetapkan status tersebut.
SF Hariyanto menegaskan pentingnya keseragaman kesiapsiagaan agar penanganan di lapangan dapat berjalan optimal tanpa kendala koordinasi. Sebagai bentuk dukungan, Pemprov Riau telah menyiapkan berbagai sumber daya dan memperkuat kesiapsiagaan melalui pelaksanaan apel siaga karhutla di sejumlah lokasi.
“Apel siaga telah dilaksanakan pada 5 Maret 2026 di Lanud Roesmin Nurjadin bersama Menko Polhukam, kemudian 25 April di Rumbai dan 26 April di Dumai bersama Menteri Lingkungan Hidup. Ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membangun kesiapan lintas sektor,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa rapat koordinasi pengendalian karhutla tingkat provinsi telah digelar pada 25 April 2026 di Pekanbaru yang dipimpin oleh Menteri Lingkungan Hidup. “Melalui koordinasi ini, kita ingin memastikan tidak ada perbedaan persepsi, tidak ada keterlambatan merespons, dan tidak ada keraguan dalam bertindak,” ujarnya.
SF Hariyanto menegaskan bahwa seluruh pihak harus bergerak dalam satu komando dengan koordinasi yang kuat. “Semua pihak harus bergerak dalam satu komando, dengan koordinasi yang kuat dan tindakan yang cepat, agar pengendalian karhutla berjalan efektif,” pungkasnya.


















