Headline.co.id, Jakarta ~ Pada perdagangan Selasa (9/6/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah mengalami penguatan. Hal ini terjadi setelah spekulasi mengenai reshuffle kabinet, khususnya terkait posisi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, mereda.
Nilai tukar rupiah ditutup menguat ke level Rp18.058 per dolar AS, naik sebesar 129,5 poin atau 0,71 persen dari posisi sebelumnya yang sempat mencapai Rp18.234 per dolar AS. Sementara itu, IHSG juga mengalami kenaikan signifikan sebesar 404,51 poin atau 7,57 persen, menutup perdagangan di level 5.746,65.
Ekonom dari STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko, menyatakan bahwa pasar merespons positif setelah adanya klarifikasi bahwa isu pergantian Menteri Keuangan tidak benar. Menurutnya, berkurangnya ketidakpastian politik menjadi salah satu faktor yang memperbaiki sentimen investor. “Pasar keuangan umumnya tidak menyukai ketidakpastian, terutama yang berkaitan dengan arah kebijakan ekonomi pemerintah,” kata Aditya, Selasa (9/6/2026).
Aditya juga menambahkan bahwa investor memperhatikan kesinambungan kebijakan ekonomi, di mana koordinasi Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia sangat penting untuk menjaga stabilitas rupiah dan pasar obligasi. Dengan tidak adanya pergantian mendadak di posisi strategis tersebut, pasar melihat peluang kebijakan ekonomi dapat berjalan lebih konsisten, sehingga meningkatkan kepercayaan investor.
Selain itu, penguatan pasar juga dipengaruhi oleh aksi beli setelah tekanan yang terjadi pada perdagangan sebelumnya. Sehari sebelumnya, IHSG mengalami penurunan tajam dan nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS. Ketika sentimen negatif mereda, sebagian investor memanfaatkan kondisi harga saham yang telah turun untuk melakukan aksi beli atau buy on weakness, yang kemudian membantu mendorong rebound IHSG dan penguatan rupiah.
Namun, Aditya mengingatkan bahwa penguatan IHSG dan rupiah tidak hanya disebabkan oleh meredanya rumor reshuffle kabinet. Menurutnya, pergerakan pasar keuangan dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk arus modal asing, kebijakan suku bunga, kondisi ekonomi global, sentimen terhadap dolar AS, serta ekspektasi pelaku pasar terhadap kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia. “Pergerakan pasar keuangan dipengaruhi oleh banyak faktor,” ujarnya.
Pengamat lainnya, Esther Sri Astuti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, menilai bahwa stabilitas kebijakan turut menopang kepercayaan pasar. “Penguatan IHSG tidak lepas dari persepsi investor terhadap prospek ekonomi dan stabilitas kebijakan fiskal nasional,” ujar Esther.
Esther menjelaskan bahwa untuk menarik aliran modal masuk, Indonesia harus memenuhi sejumlah syarat mendasar yang menjadi pertimbangan investor global. Pertama, kepastian hukum untuk berbisnis di Indonesia. Kedua, prospek ekonomi pasar yang baik. Ketiga, ketersediaan bahan baku yang memadai. “Stabilitas di level kementerian memberi sinyal positif bagi investor karena mengurangi ketidakpastian kebijakan jangka pendek,” paparnya.
Menurut Esther, jika ketiga faktor tersebut bisa dipenuhi, maka aliran modal asing akan lebih mudah masuk dan memperkuat nilai tukar rupiah serta pasar modal domestik.






















