Headline.co.id, Cibinong ~ Ikan gabus (Channa striata) kini menjadi fokus perhatian sebagai komoditas strategis dalam pengembangan pangan nasional. Dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan pangan sehat berbasis sumber daya lokal, ikan air tawar ini dinilai memiliki potensi besar sebagai superfood dan bahan baku pangan fungsional berbasis inovasi.
Peneliti dari Pusat Riset Mikrobiologi Terapan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ekowati Chasanah, menyatakan bahwa ikan gabus memiliki profil gizi yang unggul, terutama kandungan protein berkualitas tinggi yang mudah dicerna serta senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan. “Ikan gabus memiliki kandungan asam amino lengkap, baik esensial maupun non-esensial, yang menjadikannya sangat relevan untuk memenuhi kebutuhan gizi, terutama bagi anak-anak dan individu dalam masa pemulihan,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima , Selasa (21/4/2026).
Salah satu komponen utama yang menjadi perhatian adalah kandungan albumin, protein plasma yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh serta membantu transportasi berbagai zat penting, termasuk hormon. Kandungan ini, dikombinasikan dengan asam amino seperti glisin, prolin, dan alanin, berkontribusi pada proses penyembuhan luka dan pemulihan pascaoperasi. “Kombinasi albumin dan zat gizi lainnya pada ikan gabus berpotensi mendukung penyembuhan luka serta meningkatkan kondisi kesehatan secara umum,” jelas Ekowati.
Selain kandungan protein, ikan gabus juga mengandung senyawa bioaktif seperti peptida, asam lemak, dan mikronutrien yang berpotensi memberikan manfaat tambahan, termasuk efek antihipertensi. Hal ini membuka peluang pemanfaatan ikan gabus tidak hanya sebagai sumber pangan, tetapi juga sebagai bahan baku produk kesehatan berbasis pangan.
Menurut Ekowati, potensi tersebut dapat dikembangkan melalui hilirisasi produk, mulai dari ekstrak albumin hingga produk olahan siap konsumsi. Diversifikasi ini dinilai mampu meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap pangan bergizi. “Dari sisi ekonomi, hilirisasi ikan gabus berpotensi memperkuat industri pangan lokal dan mendukung kemandirian pangan nasional,” ujarnya.
Meski memiliki potensi besar, kualitas nutrisi ikan gabus sangat dipengaruhi oleh proses penanganan pascapanen dan metode pengolahan. Ekowati menekankan pentingnya penggunaan teknik yang tepat, seperti pemanasan tidak langsung, untuk menjaga stabilitas kandungan gizi dan senyawa aktif.
Standarisasi berbasis riset juga menjadi kunci agar produk turunan ikan gabus memiliki mutu yang konsisten dan aman dikonsumsi. Oleh karena itu, pengembangan komoditas ini memerlukan dukungan riset berkelanjutan, termasuk inovasi teknologi pengolahan serta pengujian keamanan dan efektivitas produk.
Penguatan hilirisasi ikan gabus, lanjutnya, membutuhkan kolaborasi lintas sektor peneliti, industri, dan pemerintah. Sinergi tersebut diperlukan untuk memastikan produk berbasis ikan gabus dapat diproduksi secara massal dan dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat.
Selain itu, edukasi publik menjadi aspek penting untuk mendorong perubahan pola konsumsi ke arah pangan sehat berbasis sumber daya lokal. Dengan berbagai keunggulan yang dimiliki, ikan gabus kini diposisikan tidak lagi sekadar komoditas tradisional, tetapi sebagai bagian dari solusi strategis dalam pembangunan kesehatan dan ekonomi nasional berbasis inovasi.



















