Headline.co.id, Bantul ~ Seorang pelajar asal Payungan, Ciren, Triharjo, Pandak, Bantul, Ilham Dwi Saputra (16), meninggal dunia setelah diduga menjadi korban pengeroyokan oleh sekelompok orang. Peristiwa itu terjadi pada Selasa (14/4/2026) malam di wilayah Bambanglipuro hingga Pandak, Bantul, dan berujung pada perawatan intensif selama hampir sepekan sebelum korban dinyatakan meninggal pada Minggu (19/4/2026) malam. Ilham diduga dianiaya secara brutal oleh sekitar 10 orang setelah dibawa oleh sejumlah pelaku menggunakan sepeda motor. Keluarga korban kini meminta aparat kepolisian mengusut tuntas kasus tersebut dan memberikan hukuman setimpal kepada para pelaku.
Ayah korban, Sugeng Riyanto, menjelaskan kejadian bermula saat Ilham berada di rumah pada Selasa sekitar pukul 21.00 WIB. Sekitar satu jam kemudian, dua orang yang berboncengan sepeda motor datang menjemput korban.
“Itu tiba-tiba ada dua orang pakai Nmax kalau nggak salah boncengan jemput anak saya sekitar jam 10 malam,” kata Sugeng saat ditemui di rumah duka, Senin (20/4/2026).
Berdasarkan informasi dari rekan korban, Ilham kemudian dibawa ke belakang salah satu SMA negeri di Bambanglipuro. Tidak lama berselang, dua orang lain yang berboncengan menggunakan sepeda motor Honda Scoopy datang dan membawa Ilham pergi dengan posisi bertiga dalam satu motor.
Situasi tersebut menimbulkan kecurigaan salah satu rekan Ilham yang kemudian mengikuti rombongan tersebut hingga ke Lapangan Gadung Melati, Pandak. Setibanya di lokasi, korban disebut sudah dikerumuni sekitar 10 orang.
“Anak saya cuma ditanya ‘kamu ikut geng ini’ dan dijawab ‘tidak’. Nah, setelah itu anak saya langsung dipukuli rame-rame,” ujar Sugeng.
Ia menambahkan, pengeroyokan tersebut diduga dilakukan dengan berbagai benda dan cara yang menyebabkan luka serius pada korban.
“Ada yang pakai selang, ada yang pakai paralon, pakai gunting, disundut rokok, bahkan dilindas pakai motor berulang kali,” ungkapnya.
Sugeng juga menyebut, saat korban sudah dalam kondisi tidak sadarkan diri, masih ada upaya dari salah satu pelaku untuk melukai Ilham lebih lanjut.
“Kejadian terakhir itu keadaan sudah pingsan masih mau dipotong telinganya. Kebetulan ada temannya Ilham yang buntuti tadi terus guntingnya disaut,” katanya.
Rekan korban kemudian membawa Ilham ke RSUD Saras Adyatma, Bambanglipuro. Sugeng melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Pandak pada Rabu (15/4/2026). Selama menjalani perawatan di rumah sakit, korban dirawat di ruang ICU sebelum akhirnya meninggal dunia pada Minggu malam sekitar pukul 22.00 WIB.
Sugeng mengaku sangat terpukul atas kematian anaknya yang dinilai terjadi secara tragis. Ia menilai tindakan para pelaku sebagai bentuk kekerasan yang sangat kejam.
“Saya sebagai orang tua, saya tidak ikhlas anak saya kok matinya tragis seperti itu. Itu sudah penganiayaan yang luar biasa,” ucapnya.
Pihak keluarga berharap aparat kepolisian dapat segera menangkap para pelaku dan memberikan hukuman seberat-beratnya sesuai hukum yang berlaku.
“Harapan saya, pelakunya kalau ketangkap ya dihukum seberat-beratnya. Karena memang pelakunya sadis sekali,” kata Sugeng.
Terkait latar belakang korban, Sugeng menegaskan bahwa dalam beberapa bulan terakhir Ilham jarang keluar rumah pada malam hari. Ia juga tidak mengetahui adanya konflik antara anaknya dengan pihak lain.
“Selama enam bulan lebih anak saya jarang keluar malam. Kalaupun keluar malam ya jam 9, jam 10 sudah pulang,” ujarnya.
Kasus ini menambah daftar kekerasan terhadap pelajar di wilayah Bantul dan menjadi perhatian serius bagi aparat penegak hukum serta masyarakat untuk mencegah kejadian serupa terulang.





















