Headline.co.id, Jakarta ~ Pemerintah berupaya mempercepat transformasi digital dalam sektor pendidikan dengan mengalihkan fokus dari sekadar distribusi perangkat menuju pemanfaatan optimal di ruang kelas. Langkah ini dilakukan melalui kolaborasi lintas pemangku kepentingan, termasuk keterlibatan alumni beasiswa negara dalam program Alumni Pejuang Digital. Program ini diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk memastikan perangkat Interactive Flat Panel (IFP) dimanfaatkan secara maksimal dalam proses pembelajaran, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Langkah ini merupakan tindak lanjut dari percepatan digitalisasi pendidikan sebagaimana diamanatkan dalam Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2026. Setelah distribusi IFP menjangkau lebih dari 288 ribu satuan pendidikan, pemerintah kini menitikberatkan pada efektivitas penggunaannya di sekolah. Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Gogot Suharwoto, menegaskan bahwa transformasi digital tidak cukup hanya dengan penyediaan perangkat. “Digitalisasi pembelajaran harus bergerak dari distribusi menuju pemanfaatan maksimal. IFP harus menjadi bagian dari proses belajar sehari-hari yang mendorong interaksi dan kreativitas,” ujar Gogot dalam keterangan tertulis yang diterima , Jumat (3/4/2026).
Melalui program ini, alumni LPDP tidak hanya memberikan pelatihan teknis, tetapi juga mendampingi guru dalam menyusun materi ajar digital, menerapkan pembelajaran interaktif, serta membangun budaya belajar berbasis teknologi. Direktur Utama LPDP, Sudarto, menambahkan bahwa keterlibatan alumni merupakan bentuk kontribusi nyata penerima beasiswa negara dalam pembangunan pendidikan nasional. Selain itu, program ini mendorong terbentuknya jejaring pembelajaran antarsekolah melalui konsep community of practice, sehingga sekolah dapat saling berbagi praktik baik dan inovasi pembelajaran. “Kolaborasi ini diharapkan memperkuat ekosistem digital pendidikan secara berkelanjutan,” jelasnya.
Sebanyak 150 alumni LPDP ditugaskan selama tiga bulan di empat wilayah, yakni 50 peserta di Sumedang (Jawa Barat), 40 peserta di Kupang (Nusa Tenggara Timur), 30 peserta di Halmahera Utara (Maluku Utara), dan 30 peserta di Merauke (Papua Selatan). Selama penugasan, peserta difokuskan pada lima aspek utama, yaitu optimalisasi pemanfaatan IFP, pengembangan media pembelajaran interaktif, peningkatan kompetensi guru, penguatan ekosistem digital sekolah, serta pendampingan manajerial bagi kepala sekolah.
Sebelum diterjunkan, seluruh peserta telah mengikuti pembekalan intensif selama sembilan hari dengan total 63 jam pelajaran, mencakup pedagogi, literasi digital, praktik penggunaan IFP, hingga komunikasi lintas budaya. Dukungan juga datang dari Sekretariat Wakil Presiden untuk memastikan program berjalan selaras dengan agenda prioritas nasional. Melalui pendekatan kolaboratif ini, pemerintah menargetkan pemanfaatan teknologi pembelajaran tidak berhenti sebagai program jangka pendek, tetapi menjadi bagian dari praktik pendidikan sehari-hari. Dengan penguatan kapasitas guru dan optimalisasi perangkat digital, transformasi pendidikan diharapkan semakin inklusif, adaptif, dan mampu menjawab tantangan pembelajaran di era digital, khususnya di wilayah 3T.




















