Headline.co.id, Jakarta ~ Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kemendikdasmen, Hafidz Muksin, menekankan pentingnya penguatan literasi dan bahasa sebagai fondasi strategis dalam pemberdayaan perempuan dan pembangunan sumber daya manusia (SDM) unggul. Menurutnya, pemberdayaan perempuan, penguatan literasi, dan nilai kebersamaan adalah pilar utama dalam membangun generasi yang cerdas, kritis, dan berdaya saing di tingkat global.
“Pendidikan menjadi kunci utama pemberdayaan perempuan. Dari sinilah lahir generasi unggul yang mampu berkontribusi dalam pembangunan bangsa,” ujar Hafidz dalam acara Pencanangan Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan di Kantor Badan Bahasa, Rabu (1/4/2026).
Hafidz menambahkan bahwa bahasa dan sastra memiliki peran strategis sebagai medium pembentuk kesadaran, pengasah daya pikir, serta ruang refleksi bagi perempuan dalam kehidupan sosial, budaya, dan kebangsaan. Oleh karena itu, penguatan literasi menjadi bagian tak terpisahkan dari agenda pemberdayaan.
Momentum Hari Kartini, lanjutnya, harus dimaknai lebih dari sekadar seremoni, tetapi sebagai gerakan pendidikan dan penguatan karakter kebangsaan yang berkelanjutan. “Pemberdayaan perempuan harus menjadi agenda nyata melalui pendidikan, bukan hanya kegiatan simbolik,” tegasnya.
Peluncuran Bulan Pemberdayaan Perempuan ini juga menjadi wujud kolaborasi tiga kementerian dalam memperkuat sinergi kebijakan dan gerakan nasional. Kegiatan dirancang dengan pendekatan terpadu yang mencakup tiga dimensi utama.
Pertama, dimensi kebijakan melalui pencanangan gerakan nasional pemberdayaan perempuan. Kedua, dimensi intelektual dan literasi, lain melalui bedah buku dan penguatan penggunaan bahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa. Ketiga, dimensi sosial melalui kegiatan silaturahmi yang mempererat kebersamaan antarpemangku kepentingan.
Selama April, berbagai kegiatan literasi dan edukasi akan digelar secara nasional, baik luring maupun daring. Di antaranya lomba menulis cerpen dan esai, lomba video kreatif mendongeng, penyusunan antologi cerita anak daerah, hingga pengembangan bahan ajar terkait pemberdayaan perempuan.
Selain itu, program ini juga mencakup penguatan kapasitas melalui bimbingan teknis serta pengembangan ekosistem literasi di satuan pendidikan, baik di pusat maupun daerah.
Mengusung tema “Pemberdayaan Perempuan: Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, kegiatan ini diharapkan menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Hafidz menegaskan, perempuan harus ditempatkan sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek, sekaligus sebagai agen perubahan yang berkontribusi dalam kemajuan bangsa. “Melalui kolaborasi dan penguatan literasi, kita dorong perempuan Indonesia menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan,” pungkasnya.




















