Headline.co.id, Jakarta ~ Pada peringatan Hari Meteorologi Dunia ke-76 yang jatuh pada 23 Maret 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan pentingnya peran observasi cuaca dan iklim dalam melindungi masyarakat. Dengan tema “Mengamati Hari ini, Melindungi Masa Depan Indonesia”, BMKG menekankan bahwa pengamatan cuaca saat ini menjadi fondasi utama untuk perlindungan jangka panjang di tengah tantangan perubahan iklim dan bencana hidrometeorologi yang semakin meningkat.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyatakan bahwa setiap data yang dikumpulkan saat ini merupakan investasi penting bagi keselamatan generasi mendatang. Hal ini terutama berlaku bagi Indonesia sebagai negara kepulauan tropis yang rentan terhadap bencana. “Tema Hari Meteorologi Dunia tahun ini mengingatkan kita bahwa setiap data yang dikumpulkan hari ini adalah bagian dari perlindungan masa depan bangsa. BMKG berkomitmen memperkuat sistem observasi, memperluas jaringan, dan meningkatkan layanan agar masyarakat semakin siap menghadapi perubahan iklim,” ujar Faisal pada Selasa (17/3/2026).
Faisal menambahkan bahwa meningkatnya intensitas kejadian cuaca ekstrem akibat perubahan iklim dan urbanisasi membuat kebutuhan akan sistem peringatan dini semakin mendesak. Ketua HMD 2026 BMKG, Rahmat Triyono, menjelaskan bahwa BMKG saat ini mengoperasikan lebih dari 180 stasiun meteorologi, klimatologi, dan geofisika serta 44 radar cuaca untuk memantau dinamika atmosfer secara berkelanjutan. “Dukungan ini memungkinkan BMKG secara rutin menyampaikan peringatan dini cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi sebagai dasar langkah kesiapsiagaan,” jelas Rahmat.
BMKG juga memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam mengolah jutaan data observasi menjadi informasi cuaca dan iklim yang akurat, mulai dari prakiraan harian hingga proyeksi perubahan iklim jangka panjang. Dalam memperkuat sistem global, BMKG terus menjalin kerja sama dengan World Meteorological Organization serta berbagai lembaga meteorologi dunia. Di tingkat nasional, kolaborasi dilakukan bersama kementerian, pemerintah daerah, akademisi, hingga sektor swasta.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menegaskan bahwa keterlibatan Indonesia dalam jaringan global seperti Global Atmosphere Watch (GAW) memastikan data nasional turut berkontribusi dalam pemantauan iklim dunia. “Informasi cuaca dan iklim bukan hanya untuk ahli, tetapi untuk semua orang: nelayan, petani, pelaku usaha, hingga masyarakat umum,” ujarnya.
Sementara itu, Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menambahkan bahwa peringatan dini BMKG telah berperan penting dalam berbagai kejadian cuaca ekstrem, termasuk penanganan Siklon Tropis Seroja dan Siklon Tropis Senyar (2025), serta banjir besar di Kalimantan Selatan pada 2021. Menurutnya, data observasi menjadi dasar penting dalam penetapan status darurat dan percepatan respons bantuan, termasuk dalam mendukung keselamatan sektor transportasi seperti penerbangan dan pelayaran.
Ke depan, BMKG akan terus memperkuat transformasi digital dan pemanfaatan AI untuk memastikan sistem peringatan dini semakin akurat dan responsif. “Pengamatan hingga peringatan dini adalah awal dari melindungi masa depan. Melalui data yang akurat hari ini, kita sedang membangun perisai keselamatan untuk hari esok,” pungkas Faisal.



















