Headline.co.id, Bantul ~ Jogja Caka Fest 2026 resmi menghadirkan kompetisi kreativitas Ogoh-Ogoh bertajuk “Nawa Natya” dalam rangka menyambut Nyepi Tahun Caka 1948. Kegiatan ini akan digelar pada Rabu, 18 Maret 2026, mulai pukul 20.00 WIB di Pura Banguntapan, Bantul. Festival ini melibatkan berbagai komunitas Hindu dan mahasiswa di Yogyakarta dengan tujuan mengangkat seni Ogoh-Ogoh sebagai media penyampaian pesan sosial dan lingkungan. Panitia bersama tokoh seni dan kepolisian memastikan acara berlangsung aman serta sarat nilai budaya dan edukasi.
Jogja Caka Fest tahun ini tidak hanya menampilkan estetika seni, tetapi juga mengusung transformasi makna Ogoh-Ogoh sebagai sarana komunikasi budaya. Penasihat kegiatan, AKP I Nengah Jeffry Prana Widnyana, S.Sn., menjelaskan bahwa seni Ogoh-Ogoh kini mengalami perkembangan signifikan.
“Secara simbolik, Ogoh-Ogoh memang representasi hal negatif yang dilebur. Namun seiring perkembangan zaman, ini menjadi media budaya untuk memberikan pesan positif kepada masyarakat. Kami mengangkat isu sosial dan lingkungan yang diwujudkan dalam kreativitas seni Ogoh-Ogoh dan seni pertunjukan,” ujar AKP I Nengah Jeffry Prana Widnyana saat memberikan keterangan pers, Selasa (17/3/2026).
Menurutnya, setiap karya yang ditampilkan tidak sekadar visual, tetapi juga menyampaikan cerita yang kuat melalui perpaduan gerak, musik, dan ekspresi. Hal ini menjadi ciri utama dalam konsep “Nawa Natya” yang diusung tahun ini.
Konsep Nawa Natya Jadi Standar Pertunjukan
“Nawa Natya” diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti sembilan dimensi pertunjukan. Konsep ini menjadi landasan sekaligus standar penilaian dalam kompetisi Ogoh-Ogoh.
Kesembilan dimensi tersebut meliputi Satua (narasi cerita), Rupa (visualisasi karakter), Gerak (koreografi pengarakan), Wirama (irama musik balaganjur), Wirasa (penjiwaan), Kala (ketepatan waktu), Sasmita (pesan moral), Yasa (kolaborasi), dan Tattwa (filosofi agama).
“Nawa Natya adalah janji bahwa dalam Jogja Caka Fest, penonton akan menyaksikan pertunjukan Ogoh-Ogoh dalam sembilan harmoni seni yang menghidupkan sebuah cerita,” lanjut Jeffry.
Libatkan Komunitas Mahasiswa dan Budaya
Festival ini melibatkan tujuh kelompok komunitas besar di Yogyakarta, antara lain KMHD Sanata Dharma (Jro Gede), KMHD UGM & KMHD UNY, PMHD Banguntapan (Lelepah), Keluarga Puri Kanoman (Ratu Niang), KMHSY, serta Komunitas DARMIKA (Pralaya Bhuana).
Ketua panitia, Dewa Wimba, menyampaikan bahwa keterlibatan lintas komunitas menjadi kekuatan utama dalam menjaga keberagaman sekaligus memperkuat nilai gotong royong dalam kegiatan budaya.
Pengamanan Terpadu dan Semangat Toleransi
Untuk memastikan kelancaran acara, panitia telah berkoordinasi dengan berbagai unsur pengamanan. Sistem pengamanan akan dibagi menjadi dua zona, yakni Utara dan Selatan, dengan melibatkan FKPPI, FPRB, Linmas Plumbon, Linmas Sorowajan, hingga Pamja Gereja Prenggolayan.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi wujud nyata toleransi antarumat beragama di Yogyakarta, sekaligus memastikan kegiatan berlangsung aman dan kondusif.
Di bawah bimbingan AKBP (Purn.) I Nengah Lotama, S.Ag. selaku Ketua PHDI DIY dan AKP I Nengah Jeffry Prana Widnyana, Jogja Caka Fest 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang kreativitas, tetapi juga mempererat kerukunan serta melestarikan nilai-nilai budaya di tengah perkembangan zaman.























