Headline.co.id, Tangerang Selatan ~ Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Kementerian Koordinator Bidang Pangan memperkuat koordinasi lintas kementerian dan lembaga untuk meningkatkan pengawasan keamanan pangan nasional. Langkah ini termasuk peningkatan kapasitas pengujian kontaminasi radioaktif pada produk pangan. Inisiatif ini diwujudkan melalui kunjungan kerja Menteri Koordinator Bidang Pangan ke Kawasan Nuklir Serpong (KNS), Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, Serpong, Tangerang Selatan, pada Kamis (5/3/2026).
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya strategis pemerintah untuk memastikan bahwa sistem pengujian pangan nasional dapat memenuhi standar internasional. Selain itu, langkah ini juga bertujuan untuk memperkuat kesiapan Indonesia dalam menghadapi dinamika perdagangan global. Dalam kegiatan ini, rombongan meninjau langsung sejumlah fasilitas laboratorium nuklir milik BRIN, termasuk sistem pengujian kontaminasi radioaktif pada sampel pangan, tata kelola pengalihan material nuklir, hingga pengelolaan limbah radioaktif.
Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN, Syaiful Bakhri, menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menyamakan persepsi antarinstansi, terutama menjelang rencana kerja sama teknis dan inspeksi dari lembaga internasional. “Harapan kami, saat menerima Food and Drug Administration (FDA) dan United States Department of Energy (DOE), kita sudah memiliki gambaran yang sama mengenai fasilitas yang ada serta bagaimana pengelolaan limbah dilakukan,” ujarnya.
Syaiful menambahkan bahwa penguatan koordinasi dilakukan melalui evaluasi kesiapan peralatan dan metodologi pengujian, identifikasi kebutuhan alat serta kompetensi sumber daya manusia, hingga penyusunan langkah antisipatif jika dilakukan inspeksi maupun pengambilan sampel oleh tim internasional.
Sementara itu, Staf Ahli Menteri Koordinator Bidang Pangan, Bara Krishna Hasibuan, menilai kunjungan tersebut memberikan gambaran komprehensif mengenai kapasitas laboratorium BRIN dalam mendukung sistem keamanan pangan nasional. “Kunjungan ini sangat bermanfaat dan menjadi eye-opener. Kami dapat melihat langsung laboratorium yang digunakan untuk menguji kemungkinan kontaminasi radioaktif pada sampel pangan,” kata Bara.
Ia menjelaskan bahwa penguatan sistem pengujian menjadi penting setelah kasus temuan kontaminasi Cesium-137 pada produk ekspor Indonesia pada tahun sebelumnya. Kasus tersebut berdampak pada meningkatnya persyaratan sertifikasi keamanan pangan di sejumlah negara tujuan ekspor, termasuk Amerika Serikat.
Akibatnya, beberapa negara kini mewajibkan proses sertifikasi dan pengujian laboratorium secara ketat sebelum produk pangan dapat memasuki pasar mereka. “Dalam konteks ini, laboratorium BRIN memiliki peran strategis untuk memastikan pengujian kontaminasi radioaktif pada produk pangan Indonesia, sehingga standar keamanan ekspor dapat terpenuhi,” ujarnya.
Melalui kolaborasi lintas kementerian dan lembaga tersebut, pemerintah berharap sistem pengujian nasional semakin kuat, reputasi ekspor pangan Indonesia tetap terjaga, serta kesiapan menghadapi tantangan global di bidang ketenaganukliran dan keamanan pangan terus meningkat.





















