Headline.co.id, Jogja ~ Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengembangkan inovasi berupa kotak penyimpanan tanpa listrik yang dinamakan Safe-Box. Inovasi ini bertujuan untuk mengatasi masalah kerugian yang dialami penjual akibat buah dan sayur yang cepat busuk karena keterbatasan freezer listrik. Selain itu, inovasi ini juga membantu petani lokal di desa wisata yang belum sepenuhnya memahami penanganan pascapanen agar produk tetap segar hingga sampai di pasar.
Safe-Box dirancang untuk menyerap logam berat dan mengurangi residu pestisida, serta dilengkapi teknologi pendingin buah tanpa listrik yang ramah lingkungan. Inovasi ini dikembangkan oleh Mukhlis Ibrahim dari Fakultas Pertanian, Tirta Pandu Winata dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, serta Mutia Nurul Makhfirah dari Fakultas Sekolah Pascasarjana UGM. Karya ini meraih Silver Medal dalam kategori inovasi pertanian berkelanjutan di 2nd International Student Summit yang berlangsung pada 14-15 Februari 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia.
Mutia Nurul Makhfirah menjelaskan bahwa inovasi ini merupakan solusi untuk masalah keamanan pangan dan ketahanan pascapanen di bidang pertanian di Indonesia. Dengan memanfaatkan material bio-adsorben alami dan sistem penyimpanan berkelanjutan, teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan keamanan produk hortikultura, serta mengurangi dampak lingkungan dari penggunaan pestisida dan logam berat. “Keunggulan inovasi ini terletak pada pendekatannya yang sederhana, aplikatif, dan berpotensi diterapkan di berbagai wilayah pertanian, khususnya pada skala desa,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (4/3).
Mutia menambahkan bahwa storage box ini dapat memperpanjang masa simpan buah dan memperlambat proses pematangan. Sebagai mahasiswa program studi S2 Kajian Pariwisata, Mutia menekankan bahwa inovasi ini tidak hanya relevan bagi sektor pertanian, tetapi juga memiliki keterkaitan strategis dengan pengembangan desa wisata dan agrowisata berkelanjutan. “Di desa wisata berbasis pertanian dapat meningkatkan kualitas produk lokal yang dikonsumsi maupun dijual kepada wisatawan, sekaligus memperkuat citra destinasi sebagai kawasan yang mengedepankan prinsip keberlanjutan dan keamanan pangan,” tambahnya.
Keberhasilan tim mahasiswa UGM meraih Silver Medal dalam forum internasional ini tidak hanya menjadi pencapaian akademik, tetapi juga mencerminkan komitmen mahasiswa UGM dalam menghadirkan solusi inovatif yang berdampak nyata bagi masyarakat. Partisipasi aktif dalam forum ilmiah internasional ini juga memperluas jejaring kolaborasi lintas negara serta memperkuat posisi mahasiswa Indonesia dalam percaturan inovasi global. Prestasi ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berkontribusi melalui riset dan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat serta pembangunan berkelanjutan. “Saya berharap produk ini bisa dilanjutkan, bisa diaplikasikan agar bisa dimanfaatkan juga untuk masyarakat lokal maupun petani lokal,” pungkasnya.


















