Headline.co.id, Jakarta ~ Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menekankan pentingnya pengelolaan sampah yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Hal ini disampaikan dalam upaya menangani masalah sampah secara sistematis dan berkelanjutan di Indonesia. Saat ini, Indonesia termasuk dalam lima besar negara penghasil sampah terbesar di dunia dan menduduki posisi ketiga sebagai penyumbang sampah plastik ke laut. Mendagri menyatakan bahwa kondisi ini harus menjadi momentum untuk evaluasi bersama.
Dalam paparannya, Mendagri menegaskan bahwa persoalan sampah tidak hanya terkait kebersihan, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan masyarakat dan memiliki potensi ekonomi jika dikelola dengan baik. Ia menjelaskan bahwa strategi pengelolaan sampah dapat dibagi menjadi tiga pendekatan: berbasis hulu, berbasis hilir, dan integratif. Pendekatan berbasis hulu berfokus pada pengurangan sampah dari sumbernya, mulai dari rumah tangga hingga tingkat desa.
“Yang berbasis hulu ini adalah berbasis lingkungan, rumah tangga. Jadi setiap rumah tangga bergerak, setiap lingkungan bergerak, RT, RW, desa misalnya, untuk mereka sudah dari awal melakukan reduce, mengurangi, mengurangi sampah dan kemudian mengolah sampah di lingkungan masing-masing,” jelas Mendagri.
Ia mencontohkan beberapa daerah seperti Banyuwangi, Klungkung, dan Subang yang dinilai berhasil menerapkan pengelolaan sampah berbasis komunitas melalui pemilahan sejak awal, sehingga mampu menekan volume sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir (TPA). Selain itu, Mendagri juga menyoroti potensi ekonomi dari pengolahan sampah organik melalui budidaya maggot atau larva lalat Black Soldier Fly (BSF). Inovasi ini dinilai mampu mengurangi volume sampah sekaligus menghasilkan produk bernilai tambah seperti pakan ternak dan pupuk, sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular.
Di sisi hilir, Mendagri menekankan pentingnya penguatan sistem pengangkutan dan pengolahan sampah, terutama di wilayah perkotaan dengan volume tinggi. Pemanfaatan teknologi dinilai dapat menjadi solusi selama didukung oleh tata kelola dan pengawasan yang konsisten. Melalui Rakornas ini, Mendagri berharap pengelolaan sampah tidak lagi bersifat reaktif, melainkan menjadi gerakan kolaboratif yang terstruktur dan berkelanjutan.
“Kotanya bersih, karena pasukan sampahnya yang bergerak cepat. Sehingga pada waktu pagi hari enggak ada sampah,” ujar Mendagri.



















