Headline.co.id, Batang ~ Sejumlah generasi muda di Kabupaten Batang memanfaatkan waktu ngabuburit selama bulan Ramadan dengan mengikuti pelatihan bahasa isyarat. Kegiatan ini berlangsung di Rumah RB Center Batang pada Sabtu (21/2/2026). Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan penggunaan bahasa isyarat di ruang publik.
Hizbul Islam, pendiri Heygan Foundation, menjelaskan bahwa pelatihan ini diadakan karena rendahnya minat belajar bahasa isyarat di Batang, meskipun banyak penyandang tuli yang memerlukan komunikasi inklusif. “Hari ini kita mengadakan kelas bahasa isyarat yang tujuannya menormalisasi bahasa isyarat di muka umum. Karena menurut kegelisahan kami, kelas bahasa isyarat masih kurang diminati atau belum normal di Kabupaten Batang,” ujarnya.
Sebanyak 40 peserta dari kalangan Gen Z mengikuti pelatihan ini dengan antusias. Kegiatan ini dilaksanakan secara swadaya oleh komunitas bersama sejumlah donatur. Hizbul menambahkan bahwa pihaknya berencana mengadakan kelas lain untuk mendorong kesetaraan dalam pendidikan.
Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan dengan bahasa isyarat dasar yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti perkenalan, ucapan sapaan, kata tanya, hingga istilah keluarga dan aktivitas harian. Hizbul juga memberikan tips kepada masyarakat dalam berinteraksi dengan penyandang tuli, menekankan bahwa mereka perlu diperlakukan seperti orang pada umumnya.
“Orang tuli itu bukan orang yang aneh atau berbeda. Mereka sama, hanya bahasanya saja yang berbeda. Jadi perlakukan mereka seperti biasa. Jika belum memahami bahasa isyarat, masyarakat bisa menggunakan gestur sederhana untuk berkomunikasi. Saat ingin menyapa, misalnya, dapat dilakukan dengan menyentuh pundak secara sopan agar mereka menyadari keberadaan lawan bicara,” ungkapnya.
Hizbul berharap kegiatan ini dapat mendorong pemerintah untuk memperhatikan pemerataan fasilitas pendidikan bagi penyandang disabilitas, khususnya Sekolah Luar Biasa di berbagai wilayah Kabupaten Batang. “Harapannya kegiatan ini bisa menjadi pemicu bahwa Sekolah Luar Biasa dibutuhkan di setiap wilayah. Selain itu, kami juga ingin bahasa isyarat menjadi bahasa yang wajar digunakan oleh masyarakat,” harapnya.
Salah satu peserta, Selly, menyatakan bahwa pelatihan bahasa isyarat ini memberikan pengalaman menarik dan pengetahuan baru dalam berkomunikasi dengan teman tuli. “Pelatihan ini sangat menarik untuk dipelajari. Kadang kalau bertemu secara tidak sengaja di jalan dengan teman tuli, kita jadi tidak bingung bagaimana harus berkomunikasi,” ujarnya.
Menurut Selly, pelatihan ini membantu peserta memahami beberapa gerakan dasar dalam bahasa isyarat yang dapat digunakan dalam percakapan sehari-hari. Ia menilai bahwa adanya kelas bahasa isyarat memberikan gambaran cara berkomunikasi yang lebih inklusif dengan teman-teman tuli. “Dengan adanya pelatihan ini, sedikit banyak jadi tahu gerakan untuk berkomunikasi dengan teman-teman tuli,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Roza/Jumadi)

















