Headline.co.id, Jogja ~ Laporan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa bauran energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia pada tahun 2025 mencapai 15,75 persen. Namun, angka ini masih di bawah target yang telah disesuaikan, yaitu 17-19 persen. Kontribusi terbesar berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sebesar 7.587 MW, diikuti oleh bioenergi 3.148 MW, panas bumi 2.744 MW, dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 1.494 MW. Peningkatan kapasitas PLTS lebih banyak didorong oleh pemasangan konsumen pribadi, bukan dari proyek yang direncanakan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN.
Ahmad Agus Setiawan, ST., M.Sc., Ph.D., dosen dari Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika, Fakultas Teknik UGM, memberikan apresiasi kepada masyarakat yang telah menyadari pentingnya energi terbarukan dengan memasang PLTS secara pribadi maupun melalui perusahaan. Namun, ia mengingatkan agar konsumen tetap mematuhi peraturan atau kebijakan pemerintah. “Saya mengapresiasi bahwa generasi muda kita sudah menyadari pentingnya energi baru dan terbarukan, terbukti dengan meningkatkan kenaikan kapasitas PLTS konsumen pribadi,” ujarnya pada Jumat (20/2).
Mengenai minimnya penambahan kapasitas PLTS dari proyek pemerintah, Aas, sapaan akrab Ahmad Agus Setiawan, mengingatkan agar pemerintah tidak hanya fokus pada target angka bauran energi. Ia menekankan pentingnya komitmen dan eksekusi nyata di lapangan untuk mencapainya. “Pemerintah harus menunjukkan komitmennya dengan eksekusi nyata di lapangan serta memberikan usaha yang lebih besar,” katanya.
Aas juga menyoroti pentingnya menanggapi perkembangan energi terbarukan dari negara-negara tetangga dengan baik dan menjadikannya bahan evaluasi bagi perkembangan energi terbarukan di Indonesia. “Jangan sampai sinyal kemajuan energi terbarukan suatu negara diartikan dengan cara yang merugikan,” katanya.
Lebih lanjut, Aas menekankan perlunya konsistensi pemerintah dalam mengembangkan energi terbarukan dan pemanfaatannya bagi konsumen dan industri. Jika komitmen yang lebih besar diwujudkan di lapangan, hal ini dapat menarik minat dan perhatian investor asing. “Kita harus terus maju dan berkembang di lapangan dengan berbagai macam teknologi baik teknologi yang paling dasar, teknologi tepat guna hingga teknologi terbaru,” tegasnya.





















