Headline.co.id, Malang ~ Sejumlah mahasiswa dari berbagai universitas di Malang menunjukkan antusiasme tinggi dalam acara CommuniAction yang diadakan oleh Direktorat Informasi Publik, Ditjen Komunikasi Publik dan Media (KPM), Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi). Acara ini mengangkat tema “Anak di Dunia Digital: Aman atau Sekadar Diawasi?” dan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berdiskusi langsung dengan para ahli di bidang digital. Kegiatan ini bertujuan untuk menjadi wadah pertukaran ide dan meningkatkan literasi digital di kalangan generasi muda.
Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya tanggapan positif terhadap acara tersebut. Farah, seorang mahasiswi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menyatakan bahwa kegiatan ini memberikan wawasan baru tentang pemanfaatan ruang digital secara bijak. “Sangat bermanfaat. Selain menambah wawasan mengenai ruang digital seperti pembuatan konten dan penggunaan Artificial Intelligence (AI), kami juga belajar tentang berbagai risiko yang dapat muncul jika teknologi digunakan tidak semestinya,” ujar Farah setelah acara di Kota Malang, Jawa Timur, pada Kamis (12/01/2026).
Farah, yang merupakan mahasiswi Jurusan Komunikasi, menekankan pentingnya pengawasan seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi. Hal ini diperlukan tidak hanya untuk mencegah tindakan kriminal, tetapi juga untuk melindungi generasi muda dari penyalahgunaan teknologi digital. Selain Farah, Zizi, mahasiswi UMM lainnya, mengapresiasi langkah pemerintah melalui Kementerian Komdigi dalam menyusun regulasi perlindungan anak di ruang digital, yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas). Menurutnya, kebijakan ini penting di tengah berbagai persoalan terkait anak dan internet.
“Di media sosial, anak-anak sudah terpapar tayangan yang tidak sesuai dengan usia mereka. Hal itu berbahaya karena bisa memengaruhi kebiasaan, cara berbahasa, hingga lingkungan pertemanan,” ujar Zizi. Acara CommuniAction di Malang ini dihadiri sekitar 300 peserta yang terdiri dari mahasiswa, generasi muda, perwakilan kementerian/lembaga, hingga organisasi perangkat daerah (OPD) Kota Malang. Acara ini merupakan platform sinergi, kolaborasi, dan aksi nyata yang menyatukan tiga elemen komunikasi publik pemerintah: Media Monitoring (FoMo), Pemberdayaan Komunitas (IGID Goes to Campus), dan Penguatan Konten Kreatif (SOHIB Berkelas).
Direktur Informasi Publik, Nursodik Gunarjo, menyatakan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memperkuat komunikasi publik terkait perlindungan anak yang berbasis data, responsif, dan berdampak di tengah dinamika isu digital yang terus berkembang. “Kegiatan ini merupakan upaya memperkuat peran Kementerian Komdigi sebagai penghubung dan penggerak dalam memfasilitasi peningkatan kualitas komunikasi publik antar kementerian, lembaga, pemerintah daerah, komunitas, hingga generasi muda,” tegas Nursodik.
CommuniAction, lanjutnya, bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari gerakan nasional untuk memperkuat ekosistem komunikasi publik Indonesia, khususnya dalam isu perlindungan anak di ruang digital. “Inilah kontribusi kita bersama menuju Indonesia Emas 2045: sebuah Indonesia yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga dewasa dalam berkomunikasi,” pungkas Nursodik Gunarjo.
Acara ini menghadirkan narasumber seperti Dwi Santoso, yang dikenal sebagai Bang Anto Motulz, seorang Tenaga Ahli Ditjen Komunikasi Publik dan Media Kemkomdigi. Selain sebagai kreator lintas bidang, Motulz juga aktif mengeksplorasi teknologi baru seperti kecerdasan buatan (AI) untuk mengembangkan strategi komunikasi dan produksi konten digital. Hadir pula Reza A. Maulana, Praktisi Public Relations yang berpengalaman dalam membangun strategi komunikasi berbasis riset dan monitoring isu publik.
Selain itu, Naning Puji Julianingsih, Child Protection Specialist UNICEF, turut hadir sebagai aktivis dalam program-program perlindungan anak di Indonesia. Ia aktif mengampanyekan perlindungan anak dari kekerasan, pengasuhan positif, serta pentingnya reunifikasi keluarga bagi anak. Hari Obbie, seorang Content Creator yang memiliki sertifikasi sebagai AI Trainer, juga hadir. Ia aktif sebagai Social Media Agency serta pengajar di Thematic Academy dan Digital Talent Scholarship (DTS) Kementerian Komdigi.



















