Headline.co.id, Jakarta ~ Depresi adalah kondisi kesehatan mental serius yang dapat dialami oleh siapa saja dan kapan saja. Kondisi ini berbeda dari rasa sedih biasa karena gejalanya dapat bertahan lebih dari dua minggu dan memengaruhi berbagai aspek kehidupan, seperti tidur, nafsu makan, energi, dan kemampuan berkonsentrasi. Gejala internal depresi meliputi perasaan sedih yang menetap, hilangnya energi, kehilangan minat pada aktivitas yang biasanya disukai, gangguan tidur dan nafsu makan, kesulitan berkonsentrasi, serta perasaan tidak berguna atau bersalah. Bahkan, pikiran untuk menyakiti diri sendiri bisa muncul.
Gejala eksternal depresi dapat terlihat dari perilaku sehari-hari, seperti mudah marah, agresif, melakukan tindakan berisiko, sering mengeluh sakit fisik tanpa penyebab jelas, hingga ngompol saat tidur pada remaja. Jika seseorang mengalami minimal lima gejala ini selama dua minggu atau lebih, kemungkinan besar ia sedang mengalami depresi.
Menurut data Kementerian Kesehatan, dari sekitar 3 juta penderita depresi berusia di atas 15 tahun, hanya 0,4 persen yang mendapatkan layanan kesehatan mental. Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menyatakan bahwa angka ini menunjukkan masih tingginya kesenjangan akses layanan kesehatan mental. “Kita perlu meningkatkan akses layanan kesehatan mental agar lebih banyak orang yang mendapatkan bantuan,” ungkapnya dalam webinar Kesehatan Jiwa di Jakarta, Kamis (18/12/2025).
Kementerian Kesehatan menekankan pentingnya berbicara dengan orang terpercaya dan mencari bantuan profesional bagi mereka yang merasakan gejala depresi. Menjaga aktivitas sehari-hari, pola tidur dan makan, berolahraga ringan, serta melakukan hal-hal yang disukai tetap dianjurkan meski mood sedang turun. Kegiatan religius atau ibadah juga dapat menenangkan pikiran, sementara konsumsi alkohol, narkoba, dan penggunaan media sosial berlebihan sebaiknya dihindari.
Dukungan dari keluarga dan teman juga sangat penting. Mendengarkan tanpa menghakimi, tidak membandingkan dengan pengalaman pribadi, dan mendorong mereka untuk mencari pertolongan profesional adalah langkah sederhana yang sangat berarti. Masyarakat dapat mengakses layanan melalui hotline Kemenkes 119 ekstensi 8, aplikasi Sehat Jiwa, atau layanan telemedisin lainnya.
Penanganan dini tidak hanya membantu penderita mengelola depresinya, tetapi juga membuka jalan bagi pemahaman dan empati lebih luas terhadap kesehatan mental. Dengan begitu, stigma perlahan berkurang dan setiap orang dapat memperoleh pertolongan yang mereka butuhkan. Depresi bukan kelemahan, melainkan kondisi medis yang nyata. Dengan memahami gejala, memberikan dukungan, dan mencari pertolongan profesional, setiap individu berhak mendapatkan harapan dan pemulihan.




















