Headline.co.id ~ Kementerian Pariwisata (Kemenpar) membidik wisatawan domestik berdaya beli tinggi melalui “Nusantara Luxury Exchange: Premium Business Matching” di Hotel Majapahit, Surabaya, pada 28 Oktober 2026. Forum bisnis tersebut mempertemukan 12 penyedia layanan pariwisata premium dengan agen perjalanan, luxury concierge, priority banking, serta corporate planners. Kegiatan ini digelar untuk mendorong wisatawan affluent membelanjakan anggaran liburannya di dalam negeri, bukan untuk perjalanan leisure outbound. Kemenpar mengemas forum itu melalui pertemuan bisnis yang menawarkan pengalaman wisata eksklusif berbasis marine, wellness, dan gastronomy.
Kemenpar Sasar Belanja Wisatawan Berdaya Beli Tinggi
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini mengatakan, Nusantara Luxury Exchange tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan jumlah perjalanan wisata. Menurut dia, forum tersebut juga berfokus pada peningkatan nilai belanja wisatawan nusantara dalam setiap perjalanan.
“Fokus utama kami bukan lagi sekadar mengejar volume perjalanan, melainkan meningkatkan nilai belanja wisatawan nusantara per perjalanan. Melalui Nusantara Luxury Exchange, kami ingin mengalihkan sebagian belanja leisure outbound dari pasar affluent menjadi belanja pariwisata domestik,” ujar Ni Made Ayu Marthini dalam keterangannya, Jumat (6/11/2026).
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Ia mengatakan Indonesia memiliki destinasi kelas dunia yang dapat dikembangkan menjadi produk wisata eksklusif. Produk tersebut, lanjutnya, perlu dikemas dan disajikan sebagai pengalaman berkualitas tinggi yang mudah dipilih serta dibeli wisatawan.
“Indonesia memiliki kekayaan destinasi kelas dunia yang sangat luar biasa, kini tugas kita bersama adalah mengemas dan menyajikannya sebagai produk eksklusif berkualitas tinggi yang mudah dipilih dan dibeli,” kata Made.
Wisatawan affluent merupakan segmen wisatawan berdaya beli tinggi yang mengutamakan kenyamanan dan pengalaman perjalanan eksklusif. Melalui forum tersebut, Kemenpar berupaya mempertemukan kebutuhan pasar dengan penyedia layanan pariwisata premium di Indonesia.
Potensi Belanja dari Perjalanan ke Luar Negeri
Made menjelaskan, penyelenggaraan Nusantara Luxury Exchange dirancang untuk menangkap peluang dari besarnya pasar wisatawan Indonesia yang bepergian ke luar negeri. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, terdapat 9,16 juta perjalanan wisatawan nasional ke luar negeri.
Rata-rata pengeluaran dalam setiap perjalanan mencapai 1.875 dolar AS. Lebih dari 50 persen perjalanan tersebut bertujuan untuk berlibur.
Data itu menjadi salah satu dasar Kemenpar untuk mendorong agar sebagian belanja wisatawan berdaya beli tinggi dialihkan ke destinasi domestik. Strategi tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan manfaat ekonomi bagi industri pariwisata nasional.
Surabaya Dipilih sebagai Lokasi Forum
Surabaya dipilih sebagai tuan rumah Nusantara Luxury Exchange dengan mempertimbangkan pertumbuhan ekonominya yang mencapai 5,87 persen pada 2025. Angka tersebut disebut melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain pertumbuhan ekonomi, Surabaya dinilai memiliki posisi strategis karena didukung Bandara Internasional Juanda. Bandara tersebut menjadi pintu gerbang perjalanan wisatawan menuju berbagai destinasi di Nusantara.
Forum bisnis yang berlangsung pada 28 Oktober 2026 itu mempertemukan 12 sellers dan buyers dari sejumlah sektor. Sellers terdiri atas penyedia layanan pariwisata premium, sedangkan buyers mencakup agen perjalanan, luxury concierge, priority banking, dan corporate planners.
Sebanyak 12 penyedia layanan pariwisata eksklusif memperkenalkan produk unggulan yang berfokus pada tiga pilar, yakni Marine, Wellness, dan Gastronomy. Jenis layanan yang ditawarkan lain luxury resort, operator kapal pinisi, serta penyedia pengalaman gastronomi premium.
Penawaran tersebut mengedepankan keistimewaan atau privilege, keaslian budaya atau authenticity, serta privasi bagi wisatawan. Kemenpar menilai pendekatan itu sesuai dengan kebutuhan wisatawan affluent yang mencari pengalaman perjalanan personal dan eksklusif.
Melalui sesi Exclusive B2B Table Top, forum tersebut diharapkan menghasilkan penawaran harga atau quotation, pemesanan langsung atau booking, hingga kemitraan berkelanjutan. Hasil itu diharapkan memberikan manfaat ekonomi bagi industri pariwisata nasional sekaligus meningkatkan kontribusi ekonomi lokal.
Made mengatakan, konsep luxury tourism saat ini telah mengalami perubahan. Kemewahan tidak lagi hanya dikaitkan dengan fasilitas yang megah, tetapi juga pengalaman yang unik, personal, privat, serta memiliki keterikatan dengan budaya dan ekonomi lokal.
“Luxury tourism saat ini telah mengalami redefinisi. Kemewahan bukan lagi sebatas fasilitas megah, melainkan keunikan pengalaman yang personal (bespoke), privasi, serta keterikatan dengan budaya dan ekonomi lokal,” ujar Made.
Ia optimistis forum business matching tersebut dapat menghasilkan transaksi konkret dan kemitraan jangka panjang. Kegiatan itu juga diharapkan memperkuat persepsi bahwa pengalaman wisata kelas dunia berskala internasional dapat dinikmati di Indonesia serta mendukung kampanye nasional #DiIndonesiaAja.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















