Headline.co.id, Jakarta ~ Badan Gizi Nasional (BGN) mengaktivasi 953 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di 34 provinsi pada November 2026. Aktivasi dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) itu ditujukan untuk memperluas layanan kepada sekitar 1,5 juta penerima manfaat. Pelaksanaannya dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat serta kesiapan infrastruktur dan personel di setiap dapur. Langkah tersebut diambil agar produksi dan penyaluran makanan berjalan sesuai tata kelola keamanan pangan.
Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari mengatakan, aktivasi SPPG dilakukan secara hati-hati terhadap dapur yang telah terdaftar di portal mitra. Menurut dia, perluasan cakupan MBG harus diikuti kepastian bahwa setiap dapur mampu menjalankan operasional secara layak.
“Kami telah berjanji untuk mengaktivasi dapur yang telah terdaftar di portal mitra secara bertahap dan berhati-hati, dengan mengutamakan asas kebermanfaatan dan kebutuhan penerima manfaat,” ujar Agustina dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
BGN Periksa Kesiapan Dapur MBG
Sebelum SPPG mulai beroperasi, BGN memastikan kesiapan infrastruktur dan personel. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk menjamin proses produksi hingga distribusi makanan memenuhi ketentuan keamanan pangan.
“Dapur baru yang kami aktivasi adalah dapur yang dapat membuktikan kesiapannya, baik secara infrastruktur maupun personel, mampu melakukan produksi dan penyaluran Makan Bergizi Gratis (MBG) sesuai tata kelola keamanan pangan,” jelas Agustina.
Selain kesiapan fasilitas dan tenaga kerja, aspek higiene dan sanitasi menjadi persyaratan bagi dapur yang akan dioperasikan. Setiap SPPG yang diaktivasi wajib memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) sebagai salah satu persyaratan kelayakan lingkungan pengolahan makanan.
Aktivasi 953 SPPG pada November melanjutkan langkah BGN pada Oktober 2026. Saat itu, BGN menginisiasi pengoperasian 1.460 SPPG di 32 provinsi.
Dapur-dapur yang dioperasikan pada Oktober tersebut diarahkan ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta daerah dengan prevalensi stunting tinggi dan sangat tinggi. BGN juga merencanakan aktivasi SPPG baru dengan jumlah serupa pada pekan berikutnya.
Dengan rencana tersebut, perluasan jaringan dapur MBG akan terus dilakukan secara bertahap. Pelaksanaannya tetap disesuaikan dengan kesiapan layanan dan kebutuhan penerima manfaat di setiap daerah.
Prioritas Penerima Manfaat MBG
BGN memberikan perhatian khusus kepada kelompok yang membutuhkan dukungan pemenuhan gizi. Kelompok tersebut meliputi ibu hamil, ibu menyusui, balita, serta santri di lingkungan pesantren.
Penentuan wilayah layanan juga mempertimbangkan kondisi gizi masyarakat. Daerah dengan prevalensi stunting tinggi dan sangat tinggi menjadi salah satu sasaran dalam perluasan layanan MBG.
“Dapur-dapur ini kami arahkan ke daerah dengan prevalensi stunting tinggi dan sangat tinggi serta daerah tertinggal, terdepan, dan terluar. Prioritas penerima manfaat mencakup ibu hamil, ibu menyusui, balita serta santri di lingkungan pesantren,” kata Agustina.
Dengan penambahan 953 SPPG di 34 provinsi, BGN memproyeksikan cakupan program bertambah sekitar 1,5 juta penerima manfaat. Namun, operasional setiap dapur tetap bergantung pada pemenuhan persyaratan infrastruktur, personel, higiene, sanitasi, dan tata kelola keamanan pangan.
BGN Ingatkan Proses Aktivasi Lewat Sistem
BGN mengingatkan calon mitra agar mengikuti seluruh prosedur aktivasi melalui mekanisme resmi yang tersedia di dalam sistem. Masyarakat juga diminta tidak memberikan uang atau imbalan kepada pihak yang mengaku dapat membantu mempercepat pembukaan dapur MBG.
“Pembukaan SPPG berjalan lewat sistem. Tidak ada pihak yang berwenang mengatasnamakan BGN untuk meminta imbalan. Jika Bapak dan Ibu menemukannya, simpan buktinya dan laporkan kepada pihak berwajib,” tegas Agustina.
BGN berharap pemerintah daerah, pesantren, dan media turut mendukung pelaksanaan program di berbagai wilayah. Dukungan tersebut dinilai penting untuk memperkuat layanan MBG, terutama di daerah yang membutuhkan pemenuhan gizi dan memiliki prevalensi stunting tinggi.
Melalui aktivasi bertahap dan pemenuhan persyaratan operasional, BGN menargetkan layanan MBG dapat menjangkau lebih banyak kelompok sasaran sesuai kebutuhan gizi masyarakat.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















