Headline.co.id, Batang ~ – Nyadran Gunung Silurah di Desa Silurah, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang, disiapkan menjadi festival wisata yang lebih besar pada tahun depan. Bupati Batang M. Faiz Kurniawan menyampaikan rencana itu saat ditemui di kantornya, Rabu (4/11/2026), dengan perbaikan akses jalan dan penerangan sebagai bagian dari persiapan. Pemerintah Kabupaten Batang menilai Nyadran Gunung dapat menjadi salah satu destinasi prioritas karena memiliki tradisi budaya dan peninggalan sejarah. Pengembangan tersebut akan dilakukan melalui pembenahan infrastruktur serta penyiapan lahan untuk menampung pengunjung.
Nyadran Gunung Silurah selama ini digelar selama dua hari. Hari pertama diisi tradisi tasyakuran, ketika warga berkeliling desa sembari melantunkan doa keselamatan. Pada hari kedua, prosesi berlangsung di lereng Gunung Ronggokusumo dan ditandai dengan pemotongan kambing kendit, satwa berbulu hitam dengan lingkar putih di bagian dada.
Nyadran Gunung Silurah Jadi Destinasi Prioritas
Bupati Faiz berencana membuat perayaan Nyadran Gunung tahun depan lebih spesial dan meriah. Konsepnya diarahkan agar memiliki skala yang lebih besar, seperti Kenduri Batik yang sebelumnya dimeriahkan penampilan NdarboyGank.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Menurut Faiz, peningkatan skala kegiatan harus disertai kesiapan infrastruktur. Akses jalan menuju Desa Silurah dan sistem penerangan umum masih perlu dibenahi sebelum kawasan tersebut siap menerima ribuan pengunjung.
“Kita lihat awareness publik terhadap culture yang ada di Desa Silurah Kecamatan Wonotunggal. Kemudian juga infrastruktur di daerah tourism-nya. Jadi insyaallah ini akan menjadi salah satu destinasi prioritas kita, sehingga nanti infrastruktur jalannya akan kita benahi dan insyaallah Nyadran Gunung tahun depan kita buat lebih spesial lagi,” kata Faiz.
Ia merinci, pemerintah daerah menyiapkan pelebaran jalan sekitar dua kilometer. Selain itu, terdapat rencana pengaspalan baru sepanjang sekitar 500 meter serta pembangunan penerangan jalan umum atau PJU.
“Ya pelebaran jalan sekitar 2 kilo, terus kemudian yang pengaspalan baru ya mungkin sekitar enggak sampai se-kilo lah, mungkin sekitar 500-an meter berikut PJU-nya,” jelasnya.
Faiz menargetkan percepatan penganggaran agar persiapan festival dapat dilakukan lebih cepat. Menurut dia, perubahan anggaran pada 2027 menjadi waktu paling cepat yang akan dikejar. Jika belum terlaksana, pelaksanaan perbaikan dapat bergeser ke 2028.
“2027 perubahan paling cepat, kalau enggak ya 2028. Tapi nanti saya akan kejar di 2027 perubahan karena saya berkeinginan nanti Nyadran Gunung tahun depan itu kondisinya sudah siap, karena akan kita buat lebih bagus dan lebih spesial lagi,” ujarnya.
Desa Siapkan Lahan untuk 7.000 Pengunjung
Rencana pemerintah daerah tersebut mendapat sambutan dari Pemerintah Desa Silurah. Kepala Desa Silurah Suroto mengatakan, Bupati Faiz telah menyampaikan niat untuk memprioritaskan Nyadran Gunung sebagai agenda tahunan.
Menurut Suroto, pemerintah desa diminta menyiapkan lahan yang dapat menampung sedikitnya 7.000 orang. Lahan tersebut akan mendukung penyelenggaraan kegiatan apabila pengembangan Nyadran Gunung dilanjutkan dalam skala yang lebih besar.
“Insyaallah beliaunya akan memprioritaskan Nyadran, bahkan beliaunya menanyakan, Tolong disiapkan untuk lahan kurang lebih menampung paling enggak 7000 orang. Itu insyaallah beliaunya akan menganggarkan kaitannya event tahunan,” tutur Suroto.
Selain Nyadran Gunung, Desa Silurah memiliki sejumlah peninggalan sejarah dari era Hindu-Buddha. Di antaranya adalah situs Lingga Yoni, patung Ganesha, dan struktur Punden Berundak.
Punden Berundak Belum Dibuka untuk Umum
Suroto mengatakan, peninggalan sejarah di Silurah selama ini dirawat dan dilestarikan oleh masyarakat. Keberadaan situs-situs tersebut menjadi bagian dari kekayaan budaya desa yang ingin dipertahankan seiring rencana pengembangan pariwisata.
“Jadi, Silurah itu punya peninggalan luar biasa, di antaranya ada Lingga Yoni, ada Punden Berundak dan patung Ganesha yang saya tahu itu memang di antaranya adalah peninggalan sejarah ya, Hindu-Buddha. Cuman, di Desa Silurah ini diuri-uri, diopeni, dilestarikan dan insyaallah dirasakan oleh masyarakat itu ya di Silurah itu orangnya berkah, barokah, tentrem,” ungkapnya.
Namun, situs Punden Berundak belum dibuka secara luas untuk publik. Menurut Suroto, kunjungan ke situs tersebut selama ini masih terbatas pada orang-orang tertentu yang mengetahui atau meyakini makna serta nilai spiritualnya.
“Untuk kunjungan hanya orang-orang tertentu saja kaitannya Punden Berundak, sebab itu bisa dikatakan belum dipublikasikan ya, sehingga hanya orang-orang tertentu saja yang tahu apa makna dari Punden Berundak atau yang meyakini bahwa itu punya spirit yang tinggi,” ujarnya.
Pemerintah Desa Silurah menyatakan akan tetap menjaga situs-situs tersebut agar tidak rusak dan sejarahnya tidak hilang di tengah pengembangan kegiatan wisata.
“Kami dari desa juga istilahnya menguri-uri lah. Bagaimana situs-situs yang ada jangan sampai istilahnya rusak, terus kaitannya sejarah-sejarah yang ada supaya harapannya tidak hilang,” pungkas Suroto.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.
















