Headline.co.id, Jakarta ~ Kerukunan umat beragama di Indonesia dinilai terus terjaga oleh sejumlah tokoh organisasi keagamaan saat bertemu Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam Dialog Umat Beragama di Jakarta, Senin (2/11/2026). Mereka menyampaikan apresiasi terhadap pembinaan kerukunan yang dijalankan Kementerian Agama serta kolaborasi lintas agama dalam berbagai kegiatan. Para tokoh agama juga mengingatkan pentingnya memperkuat komunikasi, menjaga kebebasan beribadah, dan merawat aset bangsa di tengah ancaman krisis multidimensi serta perubahan zaman.
Apresiasi tersebut disampaikan perwakilan Persatuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI), Sangha Agung Indonesia, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), dan Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI). Mereka menilai kerukunan tidak hanya tercermin dalam wacana toleransi, tetapi juga melalui kerja sama nyata antarumat dan jaminan kebebasan menjalankan ibadah.
Empat survei Poltracking Indonesia secara konsisten menempatkan upaya menjaga kerukunan umat beragama pada urutan pertama dalam evaluasi keberhasilan kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran. Tingkat apresiasi tercatat 77,8 persen pada Maret 2026, meningkat menjadi 80 persen pada Mei, kemudian berada di angka 72,5 persen pada Agustus 2026 dan 73,8 persen pada Oktober 2026.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Kerukunan Dinilai Harus Terwujud dalam Aksi
Wakil PGI, Pendeta Johan, mengapresiasi pembinaan kerukunan yang terus dijalankan Kementerian Agama. Menurut dia, kerukunan memiliki dua dimensi utama, yaitu interaksi nyata antarumat dan jaminan kebebasan beragama.
PGI menilai toleransi perlu diwujudkan melalui kerja sama konkret. Beberapa contohnya adalah kolaborasi lintas agama dalam Interfaith Rainforest Initiative (IRI) Indonesia dan Aksi Iklim Lintas Iman.
“Di PGI, kami selalu melihat kerukunan itu dari dua aspek, dua dimensi. Yang pertama, aspek kerukunan di mana terjadi interaksi atau kerja sama antaragama. Jadi, bukan hanya tolerance discourse, melainkan juga tolerance in action,” ujar Pendeta Johan di Jakarta, Senin (2/11/2026).
Ia berharap PGI dan Kemenag terus bersinergi serta berkoordinasi secara langsung apabila muncul persoalan kebebasan beribadah di lapangan.
Perwakilan umat Buddha dari Sangha Agung Indonesia juga menyampaikan apresiasi serupa. Ia mengatakan umat Buddha di Indonesia merasa terlindungi, aman, dan nyaman dalam menjalankan ibadah. Menurut dia, keharmonisan dan sinergi antarumat beragama juga berlangsung hingga tingkat daerah.
Salah satu contoh yang disebut adalah kerja sama melalui Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di Provinsi Banten.
“Pada intinya, kami di Indonesia sudah cukup merasa aman dan nyaman dalam melaksanakan ibadah karena hampir setiap kegiatan yang kami lakukan selalu bisa berkolaborasi,” ungkapnya.
Perwakilan tersebut juga menyatakan komitmen untuk merenungkan dan menerapkan arahan Menteri Agama di tengah masyarakat Buddha.
Kemenag Dinilai Menjadi Jembatan Komunikasi
Ketua Harian PHDI Letjen TNI (Purn) I Nyoman Cantias menilai Kementerian Agama berhasil menjadi jembatan komunikasi antarumat beragama di Indonesia. Ia menyebut komunikasi tersebut penting untuk terus meningkatkan kerukunan dan menjaga persatuan.
Menurut I Nyoman, perkembangan teknologi dan perubahan zaman dapat memicu gesekan apabila tidak disikapi dengan baik. Karena itu, persatuan antarumat beragama perlu terus dirawat. Ia juga menyampaikan terima kasih atas pendampingan Kemenag dalam pelaksanaan Mahasabha, forum lima tahunan PHDI.
“Jadi, kita patut berbangga bagaimana Bapak Menteri Agama ini membuat suatu jembatan, membangun komunikasi kepada kita semua dalam rangka terus meningkatkan kerukunan agama di Indonesia,” tutur I Nyoman.
Empat Aset Bangsa Perlu Dirawat
Sekretaris Jenderal LPOI Imam Pituduh mengingatkan bahwa kerukunan tetap perlu dijaga di tengah ancaman krisis multidimensi. Ancaman tersebut mencakup krisis politik, ekonomi, sosial, kultural, dan ekologis, serta meningkatnya eskalasi konflik geopolitik global yang berdampak langsung ke Tanah Air.
Imam mengimbau para pemimpin agama memperkuat doa dan menjaga kewaspadaan bersama dalam masa turbulensi. Ia menyebut terdapat dua hal yang tidak boleh dilepaskan oleh para pemimpin agama, yakni mengelola, menjaga, dan merawat aset spiritual serta aset institusional.
“Mohon doanya. Kita semua, pemimpin agama, punya dua hal yang tidak boleh kita lepaskan, yaitu mengelola, menjaga, dan merawat aset. Pertama, aset spiritual, yaitu doa. Kedua, aset institusional,” tegasnya.
Selain aset spiritual dan institusional, Imam mengingatkan pentingnya merawat aset kultural dan intelektual. Menurut dia, keempat aset bangsa tersebut diperlukan agar nilai-nilai toleransi tidak tergerus oleh pergeseran zaman (shifting mode) pada generasi muda.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















