Headline.co.id ~ Inflasi beras nasional pada Oktober 2026 melandai menjadi 0,08 persen secara bulanan, turun dari 0,80 persen pada September. Penurunan harga beras tersebut tercatat berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan berlangsung seiring perlambatan inflasi umum serta inflasi pangan. Untuk menjaga keterjangkauan beras bagi masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah, Badan Pangan Nasional (Bapanas) memperkuat penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) melalui Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Sepanjang Oktober 2026, penyaluran CBP kepada masyarakat mencapai sekitar 161 ribu ton.
Harga beras dan inflasi pangan melambat
Inflasi beras pada Oktober menjadi salah satu indikator melandainya tekanan harga pangan. Inflasi umum secara bulanan tercatat sebesar 0,22 persen, lebih rendah dibandingkan September yang mencapai 0,33 persen. Sementara itu, inflasi pangan atau komponen harga bergejolak (volatile food) turun dari 1,46 persen pada September menjadi 0,77 persen pada Oktober 2026.
Bapanas menilai stabilitas harga beras tetap membutuhkan intervensi pemerintah secara berkelanjutan. Salah satu langkah yang ditempuh ialah memperkuat penyaluran SPHP agar masyarakat tetap memperoleh beras dengan harga terjangkau.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan pemerintah terus mengoptimalkan penggunaan CBP untuk menjaga pasokan dan harga beras di tengah tantangan global.
“Beras itu harus terus dijaga kestabilannya. Kondisi global saat ini sedang siaga waspada. Namun kita di Indonesia, Insya Allah aman. Pangan kita kuat. Apalagi stok beras tertinggi sepanjang sejarah. Sesuai arahan Bapak Presiden Prabowo, salurkan stok untuk kepentingan masyarakat melalui SPHP, bantuan pangan, dan sebagainya,” kata Amran dalam keterangan yang diterima pada Selasa (3/11/2026).
Sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas harga selama Oktober, Bapanas memberikan penugasan tambahan kepada Perum Bulog untuk melanjutkan penyaluran beras SPHP. Penugasan pertama yang dimulai sejak Maret 2026 telah direalisasikan Bulog hingga 100 persen pada minggu keempat September.
Sebagian besar penyaluran CBP pada Oktober dilakukan melalui program SPHP beras. Program tersebut menyasar masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah, sehingga kebutuhan pangan pokok dapat diperoleh dengan harga yang lebih terjangkau.
Gerakan Pangan Murah digelar di 38 provinsi
Selain melalui SPHP, pemerintah memperluas intervensi pasar melalui Gerakan Pangan Murah (GPM). Program ini dilaksanakan Bapanas bersama pemerintah daerah, BUMN, BUMD, dan pelaku usaha swasta.
Sepanjang Oktober 2026, GPM tercatat sedikitnya mencapai 1.595 kegiatan yang tersebar di 38 provinsi. Pelaksanaan program tersebut tidak hanya berfokus pada beras, tetapi juga mencakup berbagai komoditas pangan strategis lainnya.
Bapanas juga mengoptimalkan program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) untuk mendukung pemerataan pasokan dari wilayah surplus ke daerah yang mengalami defisit. Sepanjang Oktober, realisasi fasilitasi distribusi pangan mencapai lebih dari 22,2 ton berbagai komoditas pangan.
Salah satu realisasi FDP ialah pengiriman cabai rawit merah ke daerah yang mengalami fluktuasi harga. Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga ketersediaan komoditas dan mengurangi kesenjangan pasokan antarwilayah.
Produksi beras nasional mencapai 25,28 juta ton
Di sisi produksi, kondisi beras nasional masih relatif terjaga. Berdasarkan Kerangka Sampel Area (KSA) dengan amatan September 2026, BPS melaporkan produksi beras nasional periode Januari hingga Agustus 2026 mencapai 25,28 juta ton.
Jumlah tersebut meningkat sekitar 0,07 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025, yakni 25,26 juta ton. Meski produksi relatif stabil, pemerintah tetap mencermati potensi gangguan pasokan akibat perubahan iklim dan dinamika pasar pangan global.
Salah satu tantangan yang menjadi perhatian ialah fenomena El Nino yang diperkirakan berdampak terhadap sektor pertanian di Indonesia dan sejumlah negara lainnya. Amran mengatakan pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi melalui penguatan sektor pertanian dari hulu hingga hilir.
“El Nino saat ini dikatakan yang paling berat. Tapi Indonesia sudah bersiap sejak jauh-jauh hari, mulai dari penguatan hulu sampai hilir. Tidak perlu khawatir berlebihan. Insya Allah pangan kita aman,” ujar Amran.
Risiko tersebut juga tercermin dalam proyeksi pasar komoditas global. Dalam publikasi Commodity Markets Outlook edisi Oktober 2026, Bank Dunia memperkirakan harga pangan dunia meningkat 10 persen pada 2026. Pada 2027, harga komoditas pangan diproyeksikan kembali naik sekitar 7 persen.
Kenaikan harga pangan global itu lain dikaitkan dengan dampak El Nino. Namun, Bank Dunia memperkirakan dampaknya masih dapat terkendali.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan rata-rata harga beras di tingkat penggilingan pada Oktober 2026 naik 0,26 persen secara bulanan. Di tingkat eceran, kenaikannya tercatat sebesar 0,08 persen.
“Rata-rata harga beras di penggilingan pada bulan Oktober tahun 2026 secara total naik 0,26 persen. Ini secara month to month. Di tingkat eceran, inflasi month to month sebesar 0,08 persen. Sebagai informasi, harga beras yang kami sampaikan merupakan harga rata-rata beras yang mencakup berbagai jenis kualitas dan juga mencakup seluruh wilayah di Indonesia,” tutur Ateng dalam jumpa media di Jakarta, Senin (2/11/2026).
Berdasarkan pemantauan Bapanas per 2 November 2026, rata-rata harga beras premium nasional mencapai Rp16.218 per kilogram. Adapun rata-rata harga beras medium tercatat Rp13.686 per kilogram. Angka tersebut merupakan nilai tengah harga beras dari tiga zonasi wilayah pemantauan.
Secara bulanan, harga beras premium naik 0,12 persen. Sebaliknya, harga beras medium turun 0,29 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Bapanas bersama kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dan BUMN pangan akan terus mengoptimalkan penyaluran CBP, SPHP, GPM, serta FDP. Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga keseimbangan pasokan dan keterjangkauan harga beras sekaligus mengantisipasi potensi gangguan produksi akibat perubahan iklim dan kondisi pasar pangan global.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















