Headline.co.id, Surabaya ~ Indonesia memiliki sekitar 29.076 jurnal ilmiah, tetapi peningkatan jumlah tersebut masih perlu diikuti penguatan mutu dan integritas publikasi. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) akan membahas tantangan itu melalui Konferensi Nasional Tata Kelola dan Integritas Jurnal Ilmiah (KTJI) 2026 pada 9 November 2026 di Surabaya. Forum tersebut ditujukan untuk memperkuat ekosistem publikasi ilmiah nasional, meningkatkan kredibilitas akademik, dan mendorong pengelolaan jurnal sesuai standar mutu. Pembahasan akan mencakup tata kelola jurnal, akreditasi, etika publikasi, hingga pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI).
Dalam Taklimat Media KSTI, KPPTI, dan KTJI 2026, Senin (2/11/2026), Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek Ahmad Najib Burhani menyampaikan bahwa sekitar 16.000 dari 29.076 jurnal ilmiah di Indonesia telah terakreditasi. Namun, jumlah jurnal yang menempati peringkat tertinggi dalam sistem akreditasi nasional masih terbatas.
Jurnal Sinta 1 Baru 1,5 Persen
Menurut data yang dipaparkan dalam taklimat tersebut, jurnal berperingkat Sinta 1 hanya sekitar 1,5 persen dari jurnal yang telah terakreditasi. Sementara itu, sekitar 70 persen jurnal berada pada peringkat Sinta 4, Sinta 5, dan Sinta 6.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Data tersebut menunjukkan bahwa penguatan publikasi ilmiah tidak cukup dilakukan dengan menambah jumlah jurnal. Perguruan tinggi juga perlu meningkatkan tata kelola editorial, menjaga konsistensi proses penelaahan ilmiah, serta memastikan kepatuhan terhadap etika publikasi.
“KTJI ini di antaranya untuk memperkuat ekosistem publikasi ilmiah nasional dan integritas akademik,” demikian substansi pemaparan Najib dalam taklimat tersebut.
Salah satu tantangan yang menjadi perhatian dalam KTJI 2026 ialah praktik publikasi yang tidak memenuhi standar akademik. Tantangan itu mencakup jurnal predator, jurnal tidak kredibel, dan karya ilmiah yang bermasalah dari sisi integritas.
Jurnal predator umumnya menawarkan penerbitan dengan mengabaikan proses penilaian ilmiah yang semestinya. Praktik tersebut dapat merugikan peneliti, menurunkan kepercayaan terhadap publikasi ilmiah, dan menghambat upaya membangun reputasi riset Indonesia di tingkat global.
“Karena itu, KTJI akan membahas tata kelola jurnal, proses akreditasi, serta standar publikasi ilmiah yang baik. Forum ini juga menjadi ruang bagi pengelola jurnal, penerbit, perpustakaan, lembaga penelitian, dan asosiasi ilmuwan untuk berbagi pengalaman serta memperkuat praktik pengelolaan publikasi,” paparnya.
Penghargaan untuk Sembilan Jurnal Terbaik
Melalui KTJI 2026, Kemdiktisaintek berharap pengelola jurnal dapat memahami standar mutu dan integritas dengan lebih baik. Pemahaman tersebut diharapkan mendorong peningkatan kualitas publikasi secara berkelanjutan.
Salah satu agenda utama konferensi ialah pemberian penghargaan kepada sembilan jurnal terbaik. Jurnal-jurnal itu dipilih dari tiga kelompok bidang, yakni sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM), sosial dan humaniora, serta multidisiplin.
Jurnal terpilih diharapkan menjadi rujukan bagi pengelola publikasi ilmiah lainnya dalam meningkatkan standar editorial, tata kelola, dan kualitas artikel yang diterbitkan. Kemdiktisaintek juga mendorong jurnal nasional yang telah memenuhi standar mutu untuk memperluas jangkauan internasional melalui kolaborasi dengan penerbit dan mitra akademik global.
Sejumlah penerbit internasional, lain Elsevier, Taylor & Francis, SAGE, IOP Publishing, Emerald, dan Wiley, dijadwalkan berbagi pengalaman dalam forum tersebut. Topik yang dibahas meliputi pengelolaan jurnal, visibilitas publikasi, pemanfaatan AI, serta strategi meningkatkan pengaruh penelitian tanpa mengorbankan integritas akademik.
Kolaborasi itu diharapkan membantu jurnal Indonesia memperluas akses pembaca internasional, meningkatkan peluang sitasi, dan memperkuat pengakuan terhadap hasil penelitian perguruan tinggi nasional.
AI dan Tantangan Integritas Publikasi
Perkembangan AI membawa peluang sekaligus tantangan bagi dunia publikasi ilmiah. Teknologi tersebut dapat membantu peneliti dan editor dalam sejumlah proses kerja, tetapi penggunaannya juga menuntut kejelasan mengenai tanggung jawab penulis, validitas hasil penelitian, transparansi, dan etika akademik.
Isu tersebut menjadi bagian dari diskusi KTJI 2026. Penerbit internasional akan membahas cara editor dan pengelola jurnal menyesuaikan tata kelola publikasi di tengah perkembangan teknologi digital dan AI.
Pembahasan juga mencakup upaya meningkatkan kepercayaan terhadap publikasi, memperkuat pengawasan editorial, serta menjaga kualitas penelitian ketika proses penulisan dan pengelolaan naskah semakin terbantu teknologi. Transformasi digital dalam penerbitan ilmiah diharapkan tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga memperkuat akuntabilitas dan kualitas pengetahuan yang dihasilkan.
Berbeda dari Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) serta Konvensi Puncak Pendidikan Tinggi Indonesia (KPPTI), KTJI berfokus pada tata kelola publikasi dan produksi pengetahuan ilmiah.
Kegiatan tersebut melibatkan konsorsium perguruan tinggi, khususnya sejumlah kampus di Surabaya dan sekitarnya, bersama pengelola jurnal, penerbit, perpustakaan, lembaga penelitian, serta asosiasi ilmuwan.
Berdasarkan pemaparan panitia, kapasitas ruang utama mencapai 750 peserta, sedangkan jumlah pendaftar telah melampaui kapasitas itu. Penyelenggara menyiapkan ruang tambahan dan akses daring untuk mengakomodasi tingginya minat peserta.
Selain konferensi utama, rangkaian kegiatan mencakup klinik penerbitan internasional, diskusi mengenai disrupsi digital, pameran perguruan tinggi, serta pemberian penghargaan bagi ilmuwan dan institusi berprestasi.
Melalui KTJI 2026, Kemdiktisaintek mendorong agar peningkatan kuantitas publikasi berjalan beriringan dengan kualitas dan integritas. Jurnal yang dikelola secara kredibel diharapkan semakin mampu mendukung pertukaran pengetahuan, kolaborasi lintas negara, pengembangan inovasi, serta penyebaran hasil penelitian perguruan tinggi Indonesia.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















